alexametrics
24 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Desa Wisata di Ngawi Tak Tahan Lama

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Puluhan desa wisata bermunculan di Ngawi seiring gelontoran alokasi dana desa (ADD). Sayangnya, tak bertahan lama. Bahkan, beberapa di antaranya hanya menggebrak melalui event pada awal pembentukannya. ‘’Kebanyakan pengelolanya hanya ATM (amati, tiru, dan modifikasi, Red), tidak diimbangi inovasi berkelanjutan,’’ kata Hariyanto, pegiat pariwisata di Ngawi, Minggu (19/1).

Menurut dia, kebanyakan pembentukan desa wisata hanya spontanitas tanpa manajemen matang. Pun hanya berpikir jangka pendek. Mereka enggan berinovasi. Mudah puas dengan kondisi yang ada. ‘’Biasanya hanya awalnya yang ramai. Kemudian semakin hari semakin sepi,’’ ujarnya.

Parahnya, beberapa dari mereka hanya berpikir keuntungan sesaat. Tanpa memikirkan eksistensi jangka panjang dengan hal-hal baru. ‘’Konsistensi dan komitmen yang lemah biasanya menjadi penyebab,’’ ungkap Hariyanto.

Semestinya, lanjut dia, sistem bagi hasil dari pendapatan, baik tiket maupun retribusi lain, cukup 50 persen. Sisanya sebagai pengelolaan dan pengembangan wisata. ‘’Tapi kebanyakan desa wisata seluruh pendapatan dianggap sebagai keuntungan,’’ sebutnya.

Baca Juga :  PDIP Optimistis Kuasai Parlemen Lagi

Budaya sadar wisata dari pengelola maupun masyarakat juga dinilai sangat kurang. Terlebih ketika ramai pengunjung. Keberadaan warung atau kios sebagai  pendukung tempat wisata dibuat asal-asalan. Semipermanen dan mengabaikan nilai keindahan. Sehingga, justru memberi kesan kumuh objek wisata. ‘’Prinsipnya ketika ramai dijaga, sedangkan ketika sepi ditata,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, banyak desa wisata yang mengabaikan sapta pesona yang merupakan kunci wajib pengelolaan pariwisata. Di antaranya aman, baik kondisi maupun propertinya. Tertib, dari segi penataan objek maupun pendukung lainnya. Bersih, agar pengunjung nyaman. ‘’Juga ramah, sehingga pengunjung ingin kembali dan yang terpenting dapat menjadi kenangan indah,’’ imbuh Hariyanto.

Dia menjelaskan bahwa membangun pariwisata tidak lepas dari roadmap antau rencana jangka panjang. Jangan hanya asal buka tapi justru membuat orang datang kecewa. Bahayanya jika menyebarluaskan kekecewaan tersebut. ’’Itu yang biasa menjadikan objek wisata mati,’’ ucapnya. (mg1/c1/sat)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Puluhan desa wisata bermunculan di Ngawi seiring gelontoran alokasi dana desa (ADD). Sayangnya, tak bertahan lama. Bahkan, beberapa di antaranya hanya menggebrak melalui event pada awal pembentukannya. ‘’Kebanyakan pengelolanya hanya ATM (amati, tiru, dan modifikasi, Red), tidak diimbangi inovasi berkelanjutan,’’ kata Hariyanto, pegiat pariwisata di Ngawi, Minggu (19/1).

Menurut dia, kebanyakan pembentukan desa wisata hanya spontanitas tanpa manajemen matang. Pun hanya berpikir jangka pendek. Mereka enggan berinovasi. Mudah puas dengan kondisi yang ada. ‘’Biasanya hanya awalnya yang ramai. Kemudian semakin hari semakin sepi,’’ ujarnya.

Parahnya, beberapa dari mereka hanya berpikir keuntungan sesaat. Tanpa memikirkan eksistensi jangka panjang dengan hal-hal baru. ‘’Konsistensi dan komitmen yang lemah biasanya menjadi penyebab,’’ ungkap Hariyanto.

Semestinya, lanjut dia, sistem bagi hasil dari pendapatan, baik tiket maupun retribusi lain, cukup 50 persen. Sisanya sebagai pengelolaan dan pengembangan wisata. ‘’Tapi kebanyakan desa wisata seluruh pendapatan dianggap sebagai keuntungan,’’ sebutnya.

Baca Juga :  DPRD Ngawi Komitmen Kawal Program Pemkab

Budaya sadar wisata dari pengelola maupun masyarakat juga dinilai sangat kurang. Terlebih ketika ramai pengunjung. Keberadaan warung atau kios sebagai  pendukung tempat wisata dibuat asal-asalan. Semipermanen dan mengabaikan nilai keindahan. Sehingga, justru memberi kesan kumuh objek wisata. ‘’Prinsipnya ketika ramai dijaga, sedangkan ketika sepi ditata,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, banyak desa wisata yang mengabaikan sapta pesona yang merupakan kunci wajib pengelolaan pariwisata. Di antaranya aman, baik kondisi maupun propertinya. Tertib, dari segi penataan objek maupun pendukung lainnya. Bersih, agar pengunjung nyaman. ‘’Juga ramah, sehingga pengunjung ingin kembali dan yang terpenting dapat menjadi kenangan indah,’’ imbuh Hariyanto.

Dia menjelaskan bahwa membangun pariwisata tidak lepas dari roadmap antau rencana jangka panjang. Jangan hanya asal buka tapi justru membuat orang datang kecewa. Bahayanya jika menyebarluaskan kekecewaan tersebut. ’’Itu yang biasa menjadikan objek wisata mati,’’ ucapnya. (mg1/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/