alexametrics
23.9 C
Madiun
Thursday, June 30, 2022

Puluhan Pemulung Reduksi Dua Ton Sampah TPA Selopuro Ngawi

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Problem pelik sampah sampai ke tingkat tempat pembuangan akhir (TPA). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah yang dapat dikelola di TPA Selopuro, Ngawo, tahun lalu kurang dari separo total yang masuk.

Sistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu menyebutkan bahwa hanya 6.132 ton sampah yang dikelola. Adapun jumlah sampah masuk 14.600 ton. ‘’Sisanya (8.464 ton, Red) masuk landfill karena tidak dapat dikelola hingga menyebabkan TPA overload,’’ kata Sutikno, mandor TPA Selopuro, Minggu (22/5).

Sutikno mengungkapkan, upaya mereduksi volume sampah di tingkat TPA melalui dua cara. Pertama, 23 pemulung mengambil sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Seperti plastik dan buah-buahan untuk pakan ternak. Pengurangannya mencapai dua ton per hari. Kedua, sampah organik sekitar satu hingga dua ton diolah menjadi kompos. ‘’Para pemungut sampah yang sudah ada sejak 1995 ini sangat untuk mengurangi volume sampah,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Naikkan Tiket Masuk Taman Tawun, Disparpora Ngawi Harus Penuhi Syarat Ini

Menurut dia, sampah plastik mendominasi TPA. Plastik lebih banyak dibuang karena dianggap tidak memiliki nilai jual. Padahal sampah jenis itu sulit terurai. Terbanyak kedua adalah sampah sisa makanan dan buah-buahan. ‘’Sisa makanan di TPA Selopuro sampai 30 persen,’’ ungkapnya.

Empat pasar rakyat juga menyumbang sampah cukup banyak. Yaitu, Pasar Besar, Beran, Karangjati, dan Paron. Masing-masing bisa membuat empat ton sampah per harinya. ‘’Karena itu, sanitary landfill saat ini dilakukan di lahan darurat karena zona I sudah tidak mampu menampung,’’ pungkas Sutikno. (sae/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Problem pelik sampah sampai ke tingkat tempat pembuangan akhir (TPA). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah yang dapat dikelola di TPA Selopuro, Ngawo, tahun lalu kurang dari separo total yang masuk.

Sistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu menyebutkan bahwa hanya 6.132 ton sampah yang dikelola. Adapun jumlah sampah masuk 14.600 ton. ‘’Sisanya (8.464 ton, Red) masuk landfill karena tidak dapat dikelola hingga menyebabkan TPA overload,’’ kata Sutikno, mandor TPA Selopuro, Minggu (22/5).

Sutikno mengungkapkan, upaya mereduksi volume sampah di tingkat TPA melalui dua cara. Pertama, 23 pemulung mengambil sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Seperti plastik dan buah-buahan untuk pakan ternak. Pengurangannya mencapai dua ton per hari. Kedua, sampah organik sekitar satu hingga dua ton diolah menjadi kompos. ‘’Para pemungut sampah yang sudah ada sejak 1995 ini sangat untuk mengurangi volume sampah,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Kholil Jamhari, Pemain Sekaligus Pembuat Biola asal Ngawi

Menurut dia, sampah plastik mendominasi TPA. Plastik lebih banyak dibuang karena dianggap tidak memiliki nilai jual. Padahal sampah jenis itu sulit terurai. Terbanyak kedua adalah sampah sisa makanan dan buah-buahan. ‘’Sisa makanan di TPA Selopuro sampai 30 persen,’’ ungkapnya.

Empat pasar rakyat juga menyumbang sampah cukup banyak. Yaitu, Pasar Besar, Beran, Karangjati, dan Paron. Masing-masing bisa membuat empat ton sampah per harinya. ‘’Karena itu, sanitary landfill saat ini dilakukan di lahan darurat karena zona I sudah tidak mampu menampung,’’ pungkas Sutikno. (sae/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/