alexametrics
23.5 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Dirusak Hama Tikus, Harga Jagung Anjlok

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Sejumlah petani jagung di Ngawi tidak kalah merana dengan petani padi. Setelah hasil panen tidak melimpah karena dirusak tikus, harga tanaman itu anjlok. Para petani ragu balik modal dari hasil penjualan. ‘’Harga jagung basah Rp 4.000 per kilogram bulan lalu, kini sekitar Rp 2.700,‘’ kata Suradi, petani jagung Desa Kwadungan Lor, Padas.

Suradi menyebut, harga jagung basah tidak manis dalam beberapa pekan terakhir. Meski naik beberapa ratus perak, tapi merosotnya cukup signifikan. Padahal, kualitas panen jagung tergolong bagus. Ukuran buahnya besar karena yang ditanam benih primer. ‘’Hasil panen tinggal 1,3 ton. Karena hanya bisa memanen seperempat dari luas tanam satu hektare,’’ paparnya.

Baca Juga :  Realisasi Perubahan Nama Stasiun Paron Tergantung Progres Double Track

Modal yang dikeluarkan Suradi mencapai Rp 1,5 juta. Duit tersebut untuk membeli pupuk, air irigasi, benih, dan upah tenaga penggarap. Suradi menduga anjloknya harga jagung hasil panen karena banyak yang rusak diserang tikus. Sedangkan stoknya melimpah karena panen raya. ‘’Kalau jagung dijual saat masih muda malah rugi, kalau kering ada untungnya sedikit,’’ jelasnya. (gen/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Sejumlah petani jagung di Ngawi tidak kalah merana dengan petani padi. Setelah hasil panen tidak melimpah karena dirusak tikus, harga tanaman itu anjlok. Para petani ragu balik modal dari hasil penjualan. ‘’Harga jagung basah Rp 4.000 per kilogram bulan lalu, kini sekitar Rp 2.700,‘’ kata Suradi, petani jagung Desa Kwadungan Lor, Padas.

Suradi menyebut, harga jagung basah tidak manis dalam beberapa pekan terakhir. Meski naik beberapa ratus perak, tapi merosotnya cukup signifikan. Padahal, kualitas panen jagung tergolong bagus. Ukuran buahnya besar karena yang ditanam benih primer. ‘’Hasil panen tinggal 1,3 ton. Karena hanya bisa memanen seperempat dari luas tanam satu hektare,’’ paparnya.

Baca Juga :  Komunitas Pemuda Madiun Bergerak Sambangi Dusun Bamban

Modal yang dikeluarkan Suradi mencapai Rp 1,5 juta. Duit tersebut untuk membeli pupuk, air irigasi, benih, dan upah tenaga penggarap. Suradi menduga anjloknya harga jagung hasil panen karena banyak yang rusak diserang tikus. Sedangkan stoknya melimpah karena panen raya. ‘’Kalau jagung dijual saat masih muda malah rugi, kalau kering ada untungnya sedikit,’’ jelasnya. (gen/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/