alexametrics
30.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Sumber Menyusut, Kapasitas Pasokan Air Bersih Berkurang

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi pantas merasa waswas jika musim penghujan mundur dari perkiraan. Pasalnya, sumber air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan dropping ke desa terdampak semakin menyusut.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi mengungkapkan, jika biasanya dalam sehari BPBD bisa memasok tujuh tangki air bersih, kini tinggal enam. ‘’Kalau anggaran tidak masalah, BPBD provinsi siap. Tapi, sumber airnya yang jadi kendala,’’ ujar Teguh Senin (21/10).

Dia menyebut, selama ini kebutuhan air bersih BPBD hanya bergantung pada satu sumur milik PDAM di Desa Gentong, Paron, yang dinilai paling layak konsumsi. ‘’Idealnya memang tujuh tangki sehari, tapi kalau hanya berkurang satu tangki tidak masalah sebenarnya,’’ katanya.

Berkurangnya kapasitas pasokan air itu memaksa BPBD membagi dengan sistem prioritas. Wilayah yang mengalami krisis air bersih parah lebih diutamakan. Sedangkan kategori sedang menggunakan sistem bergiliran. ‘’Makanya, kami berharap warga memaklumi dan sabar menunggu bantuan,’’ pintanya.

Bagaimana jika sumber air semakin menyusut karena hujan tidak kunjung turun? Teguh menyatakan, sejatinya ada beberapa solusi yang bisa diterapkan. Di antaranya, mengambil air dari luar daerah. Namun, langkah itu bukan penyelesaian terbaik mengingat Cepu dan Bojonegoro saat ini ikut mengambil air di Ngawi.

Baca Juga :  Mobil Dinas Pemkab Sukoharjo Renggut Satu Nyawa

Solusi lainnya adalah menggunakan sistem water treatment. Yakni, proses penjernihan air sawah atau waduk diproses agar layak dikonsumsi. Namun, upaya itu juga sulit direalisasikan lantaran hanya BNPB yang memiliki peralatannya.

Kalaupun BPBD Ngawi mendapat bantuan alat tersebut juga belum tentu bisa langsung dilaksanakan. Sebab, untuk mengambil air yang akan diolah harus melibatkan pihak lain, misalnya pengelola waduk. ‘’Solusi lain bisa menggunakan hujan buatan seperti yang dilakukan BNPB, tapi itu saya kira juga sulit,’’ ungkapnya.

Teguh menuturkan, jumlah desa terdampak kekeringan di Ngawi kini telah menyentuh angka 50. Terbaru, ada dua desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni, Bangunrejo (Karanganyar) dan Ketanggung (Sine).

Sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Ngawi memasuki musim penghujan pada Oktober ini. ‘’Menurut BMKG, harusnya akhir September lalu, tapi mundur sampai akhir bulan ini,’’ kata Teguh. (tif/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi pantas merasa waswas jika musim penghujan mundur dari perkiraan. Pasalnya, sumber air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan dropping ke desa terdampak semakin menyusut.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi mengungkapkan, jika biasanya dalam sehari BPBD bisa memasok tujuh tangki air bersih, kini tinggal enam. ‘’Kalau anggaran tidak masalah, BPBD provinsi siap. Tapi, sumber airnya yang jadi kendala,’’ ujar Teguh Senin (21/10).

Dia menyebut, selama ini kebutuhan air bersih BPBD hanya bergantung pada satu sumur milik PDAM di Desa Gentong, Paron, yang dinilai paling layak konsumsi. ‘’Idealnya memang tujuh tangki sehari, tapi kalau hanya berkurang satu tangki tidak masalah sebenarnya,’’ katanya.

Berkurangnya kapasitas pasokan air itu memaksa BPBD membagi dengan sistem prioritas. Wilayah yang mengalami krisis air bersih parah lebih diutamakan. Sedangkan kategori sedang menggunakan sistem bergiliran. ‘’Makanya, kami berharap warga memaklumi dan sabar menunggu bantuan,’’ pintanya.

Bagaimana jika sumber air semakin menyusut karena hujan tidak kunjung turun? Teguh menyatakan, sejatinya ada beberapa solusi yang bisa diterapkan. Di antaranya, mengambil air dari luar daerah. Namun, langkah itu bukan penyelesaian terbaik mengingat Cepu dan Bojonegoro saat ini ikut mengambil air di Ngawi.

Baca Juga :  Projo Waseso, Pembalap Sepeda Nasional Jadi Guest Star Event Jamus 100 Km

Solusi lainnya adalah menggunakan sistem water treatment. Yakni, proses penjernihan air sawah atau waduk diproses agar layak dikonsumsi. Namun, upaya itu juga sulit direalisasikan lantaran hanya BNPB yang memiliki peralatannya.

Kalaupun BPBD Ngawi mendapat bantuan alat tersebut juga belum tentu bisa langsung dilaksanakan. Sebab, untuk mengambil air yang akan diolah harus melibatkan pihak lain, misalnya pengelola waduk. ‘’Solusi lain bisa menggunakan hujan buatan seperti yang dilakukan BNPB, tapi itu saya kira juga sulit,’’ ungkapnya.

Teguh menuturkan, jumlah desa terdampak kekeringan di Ngawi kini telah menyentuh angka 50. Terbaru, ada dua desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni, Bangunrejo (Karanganyar) dan Ketanggung (Sine).

Sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Ngawi memasuki musim penghujan pada Oktober ini. ‘’Menurut BMKG, harusnya akhir September lalu, tapi mundur sampai akhir bulan ini,’’ kata Teguh. (tif/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru