alexametrics
23.3 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Setahun, Lahan Pertanian Padi di Ngawi Susut 153 Hektare

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Lahan pertanian padi di Ngawi kian terkikis seiring gencarnya pembangunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, lahan pertanian produktif kabupaten ini susut 153 hektare tahun lalu. Dari sebelumnya 50.868 hektare menjadi 50.715 hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi tidak memungkiri adanya penurunan lahan pertanian. Kawasan itu beralih fungsi menjadi permukiman baru. Belakangan banyak muncul pengusaha properti dan warga membangun rumah. ‘’Juga ada proyek tol dan industri,’’ katanya, Rabu (23/2).

Menurut Supardi, pengurangan lahan pertanian tidak bisa dihindari. Apalagi pembangunan tol dan kawasan industri juga demi kemajuan daerah. Pabrik mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jalan bebas hambatan mempermudah akses transportasi masyarakat. ‘’Kami coba melindungi lahan pertanian produktif dengan Perda LP2B (lahan pertanian pangan berkelanjutan),’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dewan Pertanyakan Nasib PKL di Trotoar Kartonyono

Dia mengatakan, penyusutan lahan pertanian menjadi tantangan bagi lembaganya atau petani. Selain mengoptimalkan masa tanam, juga meningkatkan produktivitasnya. Agar mencapai target tersebut, pihaknya memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada gabungan kelompok tani (gapoktan). ‘’Petani didorong meningkatkan produksi dengan cara menerapkan good agricultural practice (budi daya pertanian yang baik, Red) dan sistem tanam modern,’’ terangnya.

Supardi mengungkapkan, indeks pertanaman (IP) padi saat ini di angka 290. Artinya, masa tanam dan panen tiga kali dalam setahun. Pihaknya berencana meningkatkan IP menjadi 400. ‘’Sistem empat kali tanam dan panen dalam setahun ini terobosan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah petani,’’ tuturnya.

Dia menyampaikan, sistem empat kali tanam dan panen dalam setahun berhasil di Sukoharjo, Jawa Tengah. ‘’Kami akan melakukan uji coba dalam waktu dekat,’’ pungkasnya. (tr1/c1/cor/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Lahan pertanian padi di Ngawi kian terkikis seiring gencarnya pembangunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, lahan pertanian produktif kabupaten ini susut 153 hektare tahun lalu. Dari sebelumnya 50.868 hektare menjadi 50.715 hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi tidak memungkiri adanya penurunan lahan pertanian. Kawasan itu beralih fungsi menjadi permukiman baru. Belakangan banyak muncul pengusaha properti dan warga membangun rumah. ‘’Juga ada proyek tol dan industri,’’ katanya, Rabu (23/2).

Menurut Supardi, pengurangan lahan pertanian tidak bisa dihindari. Apalagi pembangunan tol dan kawasan industri juga demi kemajuan daerah. Pabrik mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jalan bebas hambatan mempermudah akses transportasi masyarakat. ‘’Kami coba melindungi lahan pertanian produktif dengan Perda LP2B (lahan pertanian pangan berkelanjutan),’’ ujarnya.

Baca Juga :  Tanamkan Filosofi Bertani pada Generasi Muda

Dia mengatakan, penyusutan lahan pertanian menjadi tantangan bagi lembaganya atau petani. Selain mengoptimalkan masa tanam, juga meningkatkan produktivitasnya. Agar mencapai target tersebut, pihaknya memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada gabungan kelompok tani (gapoktan). ‘’Petani didorong meningkatkan produksi dengan cara menerapkan good agricultural practice (budi daya pertanian yang baik, Red) dan sistem tanam modern,’’ terangnya.

Supardi mengungkapkan, indeks pertanaman (IP) padi saat ini di angka 290. Artinya, masa tanam dan panen tiga kali dalam setahun. Pihaknya berencana meningkatkan IP menjadi 400. ‘’Sistem empat kali tanam dan panen dalam setahun ini terobosan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah petani,’’ tuturnya.

Dia menyampaikan, sistem empat kali tanam dan panen dalam setahun berhasil di Sukoharjo, Jawa Tengah. ‘’Kami akan melakukan uji coba dalam waktu dekat,’’ pungkasnya. (tr1/c1/cor/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/