23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Wisata Desa Menjamur Tanpa Mampu Eksis

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Kalangan legislatif menyoroti konsep pengembangan desa wisata. Kemunculannya bak jamur di musim hujan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk eksis. Padahal pendiriannya juga disokong dana desa (DD). Kucuran duit itu muspro bila desa wisata tidak berkembang.

”Konsep perencanaannya perlu dievaluasi,” pinta Wakil Ketua Komisi III DPRD Ngawi Yuwono Kartiko kemarin (23/1).

King, sapaan akrabnya, menilai pemkab perlu melakukan seleksi desa yang memang potensial menjadi objek pelesiran. Belakangan marak desa yang memanfaatkan lahan persawahan wilayahnya menjadi destinasi wisata.

Bermodal membuat wahana spot foto, taman, dan lapak berdagang. ”Namun terkesan hanya euforia sesaat karena pada akhirnya tidak bertahan lama,’’ ujarnya.

Desa wisata dipandang sebagai penyokong bisnis pariwisata kabupaten ini. Sebab bisa menjadi jujukan alternatif wisatawan selain mengunjungi wisata andalan. ”Harus diperhitungkan potensinya, tidak asal membuat wisata desa,’’ tegas politikus PDI Perjuangan tersebut.

King mengungkapkan, draft raperda tentang penyelenggaraan kepariwisataan masih dalam pembahasan Biro Hukum Pemprov Jawa Timur. Salah satu isian untuk desa wisata adalah syarat pembentukan tim khusus. Tim bentukan pemkab itu akan melakukan survei dan kajian dari berbagai aspek. ‘’Selain potensi, juga pengelolaan hingga daya dukung sumber daya alam maupun manusianya,’’ bebernya.

Baca Juga :  Ratusan CPNS-PPPK Ngawi Belum Terima Surat Pengangkatan 

Dia menambahkan, hadirnya Benteng Van den Bosch perlu diikuti penguatan wisata desa. Sebab daerah ini sejatinya bukan sasaran utama wisatawan. Selain itu memperkuat akomodasi transportasi dan perhotelan. ‘’Momen pengembangan pariwisata ini harus dikerjakan dengan baik,” tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Raden Rudi Sulisdiana satu suara dengan Wakil Ketua Komisi III DPRD Yuwono Kartiko. Desa tidak boleh latah mendirikan wisata tanpa menelaah potensi. Pun, harus menjunjung tinggi kearifan lokal wilayahnya. ”Harus spesifik memunculkan kekhasan desanya masing masing,’’ kata Rudi kemarin (23/1).

Rudi mengambil contoh wisata Kampung Kerbau di Dusun Bulak Pepe, Banyu Biru, Widodaren. Pekerjaan mayoritas warganya yang beternak kerbau menjadi daya tarik wisatawan yang cukup kuat. Kondisi saat ini bertolak belakang. Banyak desa ramai-ramai membuat wisata kolam renang atau selfie. ”Kesannya dibuat-buat karena tidak memunculkan keunggulan desa,” ujarnya.

Menurut dia, desa wisata yang saat ini masih eksis menjual panorama alam dan agrowisata. Sebut saja Air Terjun Selondo di Desa Ngrayudan, Jogorogo, atau Mata Air Cekok Mondol, Desa/Kecamatan Kendal. Lalu, Kampung Durian di Desa Karanggupito, Kendal, dan Giriharjo, Ngrambe. ”Ketika nanti disahkan, perda penyelenggaraan kepariwisataan akan membuat pengembangan desa wisata semakin jelas,” ucapnya. (sae/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Kalangan legislatif menyoroti konsep pengembangan desa wisata. Kemunculannya bak jamur di musim hujan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk eksis. Padahal pendiriannya juga disokong dana desa (DD). Kucuran duit itu muspro bila desa wisata tidak berkembang.

”Konsep perencanaannya perlu dievaluasi,” pinta Wakil Ketua Komisi III DPRD Ngawi Yuwono Kartiko kemarin (23/1).

King, sapaan akrabnya, menilai pemkab perlu melakukan seleksi desa yang memang potensial menjadi objek pelesiran. Belakangan marak desa yang memanfaatkan lahan persawahan wilayahnya menjadi destinasi wisata.

Bermodal membuat wahana spot foto, taman, dan lapak berdagang. ”Namun terkesan hanya euforia sesaat karena pada akhirnya tidak bertahan lama,’’ ujarnya.

Desa wisata dipandang sebagai penyokong bisnis pariwisata kabupaten ini. Sebab bisa menjadi jujukan alternatif wisatawan selain mengunjungi wisata andalan. ”Harus diperhitungkan potensinya, tidak asal membuat wisata desa,’’ tegas politikus PDI Perjuangan tersebut.

King mengungkapkan, draft raperda tentang penyelenggaraan kepariwisataan masih dalam pembahasan Biro Hukum Pemprov Jawa Timur. Salah satu isian untuk desa wisata adalah syarat pembentukan tim khusus. Tim bentukan pemkab itu akan melakukan survei dan kajian dari berbagai aspek. ‘’Selain potensi, juga pengelolaan hingga daya dukung sumber daya alam maupun manusianya,’’ bebernya.

Baca Juga :  Tingkat Hunian Lapas Ngawi Overload, Kamar 3x4 Meter Diisi 15 Napi

Dia menambahkan, hadirnya Benteng Van den Bosch perlu diikuti penguatan wisata desa. Sebab daerah ini sejatinya bukan sasaran utama wisatawan. Selain itu memperkuat akomodasi transportasi dan perhotelan. ‘’Momen pengembangan pariwisata ini harus dikerjakan dengan baik,” tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Raden Rudi Sulisdiana satu suara dengan Wakil Ketua Komisi III DPRD Yuwono Kartiko. Desa tidak boleh latah mendirikan wisata tanpa menelaah potensi. Pun, harus menjunjung tinggi kearifan lokal wilayahnya. ”Harus spesifik memunculkan kekhasan desanya masing masing,’’ kata Rudi kemarin (23/1).

Rudi mengambil contoh wisata Kampung Kerbau di Dusun Bulak Pepe, Banyu Biru, Widodaren. Pekerjaan mayoritas warganya yang beternak kerbau menjadi daya tarik wisatawan yang cukup kuat. Kondisi saat ini bertolak belakang. Banyak desa ramai-ramai membuat wisata kolam renang atau selfie. ”Kesannya dibuat-buat karena tidak memunculkan keunggulan desa,” ujarnya.

Menurut dia, desa wisata yang saat ini masih eksis menjual panorama alam dan agrowisata. Sebut saja Air Terjun Selondo di Desa Ngrayudan, Jogorogo, atau Mata Air Cekok Mondol, Desa/Kecamatan Kendal. Lalu, Kampung Durian di Desa Karanggupito, Kendal, dan Giriharjo, Ngrambe. ”Ketika nanti disahkan, perda penyelenggaraan kepariwisataan akan membuat pengembangan desa wisata semakin jelas,” ucapnya. (sae/cor)

Most Read

Artikel Terbaru