alexametrics
31.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Upaya Nurmadjit Mengubah Kebiasaan Petani Gunakan Pupuk Kimia

Tingginya penggunaan pupuk kimia mengancam kerusakan lahan. Dari kekhawatiran itu ide membuat pupuk organik tercetus. Berbekal bahan alami yang mudah didapat dan pelatihan, Nurmadjit getol mengampanyekan penggantian pupuk kimia.

=============

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

KOTORAN sapi dan kambing kering digerus hingga halus. Daun trembesi, eceng gondok, dan bonggol pisang dicacah sama lembutnya. Bahan-bahan itu ditakar sesuai resep. ‘’Sudah ada perbandingannya. Ini cara mudah untuk membuat pupuk padat,’’ kata Nurmadjit, pencetus pertanian organik.

Kesuburan lahan dan hasil pertanian melimpah belum membuatnya puas. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida terus-menerus memunculkan kekhawatiran. Potensi alam dan bahan alami yang melimpah menggelitiknya untuk berinovasi. ‘’Dulu belum tahu manfaat organik, saya cuma pengin memanfaatkan potensi alam,’’ ujar warga Dusun Nglencong 2, Dempel, Geneng, Ngawi, ini.

Idenya disambut baik pemerintah desa setempat. Tiga tahun silam dia mendapat pelatihan pengolahan bahan organik untuk pupuk. Tak hanya padat, empat jenis pupuk cair untuk pertumbuhan tanaman, pencegahan hama, hingga penyuburan tanah pun dibuat pria kelahiran 6 Oktober 1968 itu. ‘’Bikinnya mudah, tinggal campur bahan sesuai takaran. Pemasarannya yang susah,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Bakso Sugeng Dipastikan Negatif Daging Tikus

Ajakan Nurmadjit pada para petani menggunakan pupuk organik mendapat hambatan. Mereka emoh meninggalkan pupuk kimia yang gampang, praktis, dan mudah didapat. Tak jarang mereka meragukan hasil panen menggunakan pupuk organik. ‘’Sekarang baru tiga petani yang 100 persen pakai organik, mungkin sekitar satu hektare lahannya,’’ sebutnya.

Selain belum membuahkan hasil nyata, para petani enggan mencoba. Namun, Nurmadjit tak lelah membagi resep ke tetangga dan kerabat yang penasaran. Dari percobaan menggunakan pupuk organik di beberapa lahan tersebut, hasil panen seminggu lebih cepat ketimbang pupuk kimia. Sementara, biaya produksi jauh lebih murah. ‘’Saat ini masih di seputar sini yang beli pupuk organik, kadang juga ikut pameran,’’ jelas Nurmadjit sembari menyebut harga pupuk kimia Rp 50 ribu per liter.*** (sat/c1)

Tingginya penggunaan pupuk kimia mengancam kerusakan lahan. Dari kekhawatiran itu ide membuat pupuk organik tercetus. Berbekal bahan alami yang mudah didapat dan pelatihan, Nurmadjit getol mengampanyekan penggantian pupuk kimia.

=============

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

KOTORAN sapi dan kambing kering digerus hingga halus. Daun trembesi, eceng gondok, dan bonggol pisang dicacah sama lembutnya. Bahan-bahan itu ditakar sesuai resep. ‘’Sudah ada perbandingannya. Ini cara mudah untuk membuat pupuk padat,’’ kata Nurmadjit, pencetus pertanian organik.

Kesuburan lahan dan hasil pertanian melimpah belum membuatnya puas. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida terus-menerus memunculkan kekhawatiran. Potensi alam dan bahan alami yang melimpah menggelitiknya untuk berinovasi. ‘’Dulu belum tahu manfaat organik, saya cuma pengin memanfaatkan potensi alam,’’ ujar warga Dusun Nglencong 2, Dempel, Geneng, Ngawi, ini.

Idenya disambut baik pemerintah desa setempat. Tiga tahun silam dia mendapat pelatihan pengolahan bahan organik untuk pupuk. Tak hanya padat, empat jenis pupuk cair untuk pertumbuhan tanaman, pencegahan hama, hingga penyuburan tanah pun dibuat pria kelahiran 6 Oktober 1968 itu. ‘’Bikinnya mudah, tinggal campur bahan sesuai takaran. Pemasarannya yang susah,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Epilepsi Kumat, Seorang Remaja Tewas Tercebur Waduk

Ajakan Nurmadjit pada para petani menggunakan pupuk organik mendapat hambatan. Mereka emoh meninggalkan pupuk kimia yang gampang, praktis, dan mudah didapat. Tak jarang mereka meragukan hasil panen menggunakan pupuk organik. ‘’Sekarang baru tiga petani yang 100 persen pakai organik, mungkin sekitar satu hektare lahannya,’’ sebutnya.

Selain belum membuahkan hasil nyata, para petani enggan mencoba. Namun, Nurmadjit tak lelah membagi resep ke tetangga dan kerabat yang penasaran. Dari percobaan menggunakan pupuk organik di beberapa lahan tersebut, hasil panen seminggu lebih cepat ketimbang pupuk kimia. Sementara, biaya produksi jauh lebih murah. ‘’Saat ini masih di seputar sini yang beli pupuk organik, kadang juga ikut pameran,’’ jelas Nurmadjit sembari menyebut harga pupuk kimia Rp 50 ribu per liter.*** (sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/