alexametrics
28.7 C
Madiun
Sunday, August 14, 2022

Perjuangan KH. Ahmad Romlan Membangun Ponpes Ma’rifatul Ulum

Bangunan megah Ponpes Ma’rifatul Ulum dulu hanya musala seukuran 3×4 meter. Menjadi berkembang berkat dermawan dan dorongan pemuda yang belajar ngaji ke KH Ahmad Romlan.

———————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

PERJALANAN menuju Pondok Pesantren (Ponpes) Ma’rifatul Ulum serasa menunggangi seekor kuda. Motor bergoyang naik-turun lantaran akses jalan menuju pesantren di Dusun Winong Timur, Desa Krompil, Bringin, Ngawi, itu bergelombang. Namun, rasa linu di sekujur tubuh menghilang kala menyaksikan dua bangunan megah, yang hendak dituju terlihat di ujung jalan.Beberapa santri putra keluar dari gedung dua lantai berkelir hijau itu. Mereka berlarian ceria di depan KH. Ahmad Romlan, pemilik ponpes. ‘’Pesantren ini saya bangun 1986 silam,’’ kata Romlan.

Cikal bakal pesantren yang ditempati 500 santri madrasah dan 150 santri mukim itu adalah sebuah musala berukuran 3×4 meter. Dulu selain dipakai salat berjamaah, juga untuk mengaji beberapa pemuda yang berguru agama kepada Romlan. Kebersamaan terbangun antara mereka. Hingga memunculkan rasa saling memiliki dengan ikut merawat musala. ‘’Mungkin karena kebersamaan ini yang membuat para pemuda yang belajar kala itu terus mengalami peningkatan,’’ ujarnya.

Musala tidak cukup untuk menampung para pemuda yang biasa mengaji selepas salat magrib dan Isya. Kondisi tidak representatif itu membukakan pintu izin dari bapak Romlan untuk membangun tempat mengaji di atas lahan kebun tidak jauh dari musala. Lahan seluas 12×5 meter yang ditanami singkong itu disulap menjadi dua buah ruang sederhana. Berdinding dan disekat anyaman bambu. Tiang fondasinya memanfaatkan batang kelapa. ‘’Pembangunannya gotong-royong. Jadi ya tidak bisa membeli semen, harganya mahal,’’ ungkap pria 59 tahun tersebut.

Baca Juga :  Pemkot Madiun Buka Lagi Fasilitas Olahraga, Bergerombol Dibubarkan

Tidak berapa lama setelah tempat sederhana itu berdiri, puting beliung menyapu Dusun Winong Timur. Musala dan sejumlah rumah warga ambruk rata dengan tanah. Rutinitas mengaji sempat tersendat sebelum akhirnya memperoleh bantuan dari sejumlah mahasiswa IAIN Surabaya yang sedang melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) di sana. ‘’Musala akhirnya diubah menjadi masjid,’’ kenang bapak enam anak ini.

Bertahan hingga 14 tahun, bangunan sederhana itu akhirnya dirombak setelah menerima bantuan seorang dermawan asal Kecamatan Takeran, Magetan. Yakni, 80 zak semen yang langsung dimanfaatkan untuk membuat fondasi. Sebelum akhirnya dirombak total sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi para santri pada 2002. ‘’Alhamdulillah bisa terus berkembang. Yang terbaru adalah pembangunan masjid masuk tahap finishing,’’ ujarnya.

Keaktifan Romlan dalam berorganisasi menjadi pemantik mendirikan pendidikan formal. Ketika tempat mengajar yang dipakai masih bangunan berpenyekat bambu. Kondisi tersebut tidak dipermasalahkan teman-temannya berprofesi guru yang ditawari membantu mengajar. ‘’Yang pertama kali mendirikan MTs (madrasah tsanawiyah) pada 1999. Sekarang komplet mulai PAUD hingga aliyah,’’ bebernya.

Suami Masfuatul Lailatin ini lahir dari keluarga petani. Namun, dia konsen dengan ilmu agama dan ingin menjadi ulama. Setelah tamat SD, dia memutuskan mondok selama tujuh tahun di tiga ponpes berbeda. Yakni, dua tempat di Karas,  Magetan dan Pare, Kediri. ‘’Berkat nasihat dari guru ngaji,’’ katanya menjelaskan di balik motivasi menjadi seorang ulama. ***(cor)

Bangunan megah Ponpes Ma’rifatul Ulum dulu hanya musala seukuran 3×4 meter. Menjadi berkembang berkat dermawan dan dorongan pemuda yang belajar ngaji ke KH Ahmad Romlan.

———————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

PERJALANAN menuju Pondok Pesantren (Ponpes) Ma’rifatul Ulum serasa menunggangi seekor kuda. Motor bergoyang naik-turun lantaran akses jalan menuju pesantren di Dusun Winong Timur, Desa Krompil, Bringin, Ngawi, itu bergelombang. Namun, rasa linu di sekujur tubuh menghilang kala menyaksikan dua bangunan megah, yang hendak dituju terlihat di ujung jalan.Beberapa santri putra keluar dari gedung dua lantai berkelir hijau itu. Mereka berlarian ceria di depan KH. Ahmad Romlan, pemilik ponpes. ‘’Pesantren ini saya bangun 1986 silam,’’ kata Romlan.

Cikal bakal pesantren yang ditempati 500 santri madrasah dan 150 santri mukim itu adalah sebuah musala berukuran 3×4 meter. Dulu selain dipakai salat berjamaah, juga untuk mengaji beberapa pemuda yang berguru agama kepada Romlan. Kebersamaan terbangun antara mereka. Hingga memunculkan rasa saling memiliki dengan ikut merawat musala. ‘’Mungkin karena kebersamaan ini yang membuat para pemuda yang belajar kala itu terus mengalami peningkatan,’’ ujarnya.

Musala tidak cukup untuk menampung para pemuda yang biasa mengaji selepas salat magrib dan Isya. Kondisi tidak representatif itu membukakan pintu izin dari bapak Romlan untuk membangun tempat mengaji di atas lahan kebun tidak jauh dari musala. Lahan seluas 12×5 meter yang ditanami singkong itu disulap menjadi dua buah ruang sederhana. Berdinding dan disekat anyaman bambu. Tiang fondasinya memanfaatkan batang kelapa. ‘’Pembangunannya gotong-royong. Jadi ya tidak bisa membeli semen, harganya mahal,’’ ungkap pria 59 tahun tersebut.

Baca Juga :  Kereta Kelinci Dilarang Beroperasi, Kunjungan Taman Candi Sepi

Tidak berapa lama setelah tempat sederhana itu berdiri, puting beliung menyapu Dusun Winong Timur. Musala dan sejumlah rumah warga ambruk rata dengan tanah. Rutinitas mengaji sempat tersendat sebelum akhirnya memperoleh bantuan dari sejumlah mahasiswa IAIN Surabaya yang sedang melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) di sana. ‘’Musala akhirnya diubah menjadi masjid,’’ kenang bapak enam anak ini.

Bertahan hingga 14 tahun, bangunan sederhana itu akhirnya dirombak setelah menerima bantuan seorang dermawan asal Kecamatan Takeran, Magetan. Yakni, 80 zak semen yang langsung dimanfaatkan untuk membuat fondasi. Sebelum akhirnya dirombak total sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi para santri pada 2002. ‘’Alhamdulillah bisa terus berkembang. Yang terbaru adalah pembangunan masjid masuk tahap finishing,’’ ujarnya.

Keaktifan Romlan dalam berorganisasi menjadi pemantik mendirikan pendidikan formal. Ketika tempat mengajar yang dipakai masih bangunan berpenyekat bambu. Kondisi tersebut tidak dipermasalahkan teman-temannya berprofesi guru yang ditawari membantu mengajar. ‘’Yang pertama kali mendirikan MTs (madrasah tsanawiyah) pada 1999. Sekarang komplet mulai PAUD hingga aliyah,’’ bebernya.

Suami Masfuatul Lailatin ini lahir dari keluarga petani. Namun, dia konsen dengan ilmu agama dan ingin menjadi ulama. Setelah tamat SD, dia memutuskan mondok selama tujuh tahun di tiga ponpes berbeda. Yakni, dua tempat di Karas,  Magetan dan Pare, Kediri. ‘’Berkat nasihat dari guru ngaji,’’ katanya menjelaskan di balik motivasi menjadi seorang ulama. ***(cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/