alexametrics
26.2 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

Terkait Penyusutan Sumur Gentong, Kanang Pastikan Pasokan Aman

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Bupati Budi ’’Kanang’’ Sulistyono ikut angkat bicara terkait penyusutan debit air sumur PDAM di Desa Gentong, Paron, dampak kemarau panjang. Orang nomor satu di Ngawi itu menjamin kondisi tersebut tidak mengganggu pasokan air bersih untuk warga terdampak kekeringan.

Kanang mengatakan, penanganan bencana kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Ngawi harus diutamakan. Warga terdampak mesti mendapat pasokan air bersih sesuai kebutuhan mereka. ‘’Sumber air bersihnya bisa diambilkan dari mana saja. Misalnya, beberapa hari lalu ada teman-teman baksos (bakti sosial, Red) yang ambil air dari Sragen. Tidak masalah,’’ ujar Kanang Kamis (24/10).

Dia meminta pihak-pihak terkait, terutama yang mengurusi masalah bencana kekeringan, tidak hanya bergantung pada satu sumur di Gentong. Apalagi, jika air sumur itu terus menyusut. ‘’Yang pasti, pemkab akan mengusahakan (kebutuhan air bersih), dari mana pun sumbernya,’’ tegasnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi sempat menyampaikan bahwa salah satu dampak kemarau panjang tahun ini adalah berkurangnya jatah pasokan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak. Jika semula dalam sehari sebanyak tujuh tangki, kini turun menjadi enam. Hal itu terjadi karena sumber mata air di sumur PDAM Gentong mengalami penyusutan.

Direktur PDAM Tirta Dharma Ngawi Dwi Indarto tak menampik bahwa debit air sumur di Gentong mengalami penyusutan. Namun, dia membantah jika hal itu membuat pasokan untuk BPBD berkurang.

Untuk penanggulangan bencana kekeringan, pihak BPBD langsung order air bersih kepada pengusaha truk tangki yang mengambil air di sumur tersebut. ‘’Jadi, (dari PDAM) tidak ada pengurangan,’’ ujar Dwi.

Dia menduga, jatah BPBD berkurang karena saat ini pihak perusahaan truk tangki mulai kesulitan mendapatkan air. Sebab, pihaknya sengaja menyiasati untuk pengisian air truk tangki dilakukan malam hari supaya lebih optimal. Sebab, jika dilakukan siang hari, bersamaan dengan tingginya tingkat konsumsi air oleh pelanggan PDAM. ‘’Kalau malam kan konsumsinya rendah,’’ terangnya.

Baca Juga :  Ratusan Massa Gelar Unjuk Rasa Tuntu Kades Mundur dari Jabatannya

Dwi menambahkan, produksi air bersih PDAM saat kemarau menyusut sekitar 40 persen dibandingkan ketika musim penghujan. Sedangkan soal program giliran, dia mengklaim tidak berdampak signifikan pada pelanggan. ‘’Hanya kami atur saja agar air ke pelanggan tetap mengalir,’’ jelasnya. (tif/c1/isd)

Andalkan Pasokan dari Sendang Beji

ANDALAN: Sendang Beji jadi andalan warga tiga desa sekitar Waduk Pondok untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau.

TINGGAL di dekat waduk tak selamanya menjamin kecukupan air saat musim kemarau seperti sekarang. Tiga desa sekitar Waduk Pondok, misalnya, sumur-sumur milik warga setempat kini telah mengering.

Namun, mereka tidak terlampau risau. Pasalnya, ada Sendang Beji di Desa Gondang. Lokasinya sekitar 300 meter dari Waduk Pondok. Volume air sendang itu tak pernah menyusut meski kemarau panjang.

Sejak 2014 lalu, Desa Gondang, Dero, dan Suruh membangun pompa air dari sendang tersebut untuk disalurkan ke desa masing-masing. ‘’Bisa untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 2 ribu jiwa,’’ ujar Prasetyo, salah seorang warga Gondang, Kamis (24/10).

Desa Gondang sejatinya tak terlampau jauh dari Waduk Pondok. Namun, banyak sumur di desa setempat yang mengering lantaran kondisi tanah yang didominasi batu cadas. ‘’Banyak yang sudah ditambahi kedalamannya, istilahnya disuntik, tapi kebanyakan gagal,’’ ungkapnya.

Sekretaris Desa Dero Sukiman mengatakan, pasokan air dari Sendang Beji mampu memenuhi kebutuhan sekitar 300 warga di empat dusun. Hanya, saat ini penggunaannya harus dilakukan secara bergiliran. Sebab, tandon kerap telat terisi lantaran tingginya tingkat konsumsi air.

Alhasil, untuk mengatasi hal itu warga harus bergantian saat membuka keran. Biasanya, satu wilayah dijatah dua hingga tiga jam bergiliran. ‘’Kalau tidak begitu mungkin tak cukup,’’ ujar Sukiman sembari menyebut sebagian warga memilih membeli air isi ulang saat kondisi mendesak. (gen/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Bupati Budi ’’Kanang’’ Sulistyono ikut angkat bicara terkait penyusutan debit air sumur PDAM di Desa Gentong, Paron, dampak kemarau panjang. Orang nomor satu di Ngawi itu menjamin kondisi tersebut tidak mengganggu pasokan air bersih untuk warga terdampak kekeringan.

Kanang mengatakan, penanganan bencana kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Ngawi harus diutamakan. Warga terdampak mesti mendapat pasokan air bersih sesuai kebutuhan mereka. ‘’Sumber air bersihnya bisa diambilkan dari mana saja. Misalnya, beberapa hari lalu ada teman-teman baksos (bakti sosial, Red) yang ambil air dari Sragen. Tidak masalah,’’ ujar Kanang Kamis (24/10).

Dia meminta pihak-pihak terkait, terutama yang mengurusi masalah bencana kekeringan, tidak hanya bergantung pada satu sumur di Gentong. Apalagi, jika air sumur itu terus menyusut. ‘’Yang pasti, pemkab akan mengusahakan (kebutuhan air bersih), dari mana pun sumbernya,’’ tegasnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi sempat menyampaikan bahwa salah satu dampak kemarau panjang tahun ini adalah berkurangnya jatah pasokan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak. Jika semula dalam sehari sebanyak tujuh tangki, kini turun menjadi enam. Hal itu terjadi karena sumber mata air di sumur PDAM Gentong mengalami penyusutan.

Direktur PDAM Tirta Dharma Ngawi Dwi Indarto tak menampik bahwa debit air sumur di Gentong mengalami penyusutan. Namun, dia membantah jika hal itu membuat pasokan untuk BPBD berkurang.

Untuk penanggulangan bencana kekeringan, pihak BPBD langsung order air bersih kepada pengusaha truk tangki yang mengambil air di sumur tersebut. ‘’Jadi, (dari PDAM) tidak ada pengurangan,’’ ujar Dwi.

Dia menduga, jatah BPBD berkurang karena saat ini pihak perusahaan truk tangki mulai kesulitan mendapatkan air. Sebab, pihaknya sengaja menyiasati untuk pengisian air truk tangki dilakukan malam hari supaya lebih optimal. Sebab, jika dilakukan siang hari, bersamaan dengan tingginya tingkat konsumsi air oleh pelanggan PDAM. ‘’Kalau malam kan konsumsinya rendah,’’ terangnya.

Baca Juga :  Ratusan Massa Gelar Unjuk Rasa Tuntu Kades Mundur dari Jabatannya

Dwi menambahkan, produksi air bersih PDAM saat kemarau menyusut sekitar 40 persen dibandingkan ketika musim penghujan. Sedangkan soal program giliran, dia mengklaim tidak berdampak signifikan pada pelanggan. ‘’Hanya kami atur saja agar air ke pelanggan tetap mengalir,’’ jelasnya. (tif/c1/isd)

Andalkan Pasokan dari Sendang Beji

ANDALAN: Sendang Beji jadi andalan warga tiga desa sekitar Waduk Pondok untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau.

TINGGAL di dekat waduk tak selamanya menjamin kecukupan air saat musim kemarau seperti sekarang. Tiga desa sekitar Waduk Pondok, misalnya, sumur-sumur milik warga setempat kini telah mengering.

Namun, mereka tidak terlampau risau. Pasalnya, ada Sendang Beji di Desa Gondang. Lokasinya sekitar 300 meter dari Waduk Pondok. Volume air sendang itu tak pernah menyusut meski kemarau panjang.

Sejak 2014 lalu, Desa Gondang, Dero, dan Suruh membangun pompa air dari sendang tersebut untuk disalurkan ke desa masing-masing. ‘’Bisa untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 2 ribu jiwa,’’ ujar Prasetyo, salah seorang warga Gondang, Kamis (24/10).

Desa Gondang sejatinya tak terlampau jauh dari Waduk Pondok. Namun, banyak sumur di desa setempat yang mengering lantaran kondisi tanah yang didominasi batu cadas. ‘’Banyak yang sudah ditambahi kedalamannya, istilahnya disuntik, tapi kebanyakan gagal,’’ ungkapnya.

Sekretaris Desa Dero Sukiman mengatakan, pasokan air dari Sendang Beji mampu memenuhi kebutuhan sekitar 300 warga di empat dusun. Hanya, saat ini penggunaannya harus dilakukan secara bergiliran. Sebab, tandon kerap telat terisi lantaran tingginya tingkat konsumsi air.

Alhasil, untuk mengatasi hal itu warga harus bergantian saat membuka keran. Biasanya, satu wilayah dijatah dua hingga tiga jam bergiliran. ‘’Kalau tidak begitu mungkin tak cukup,’’ ujar Sukiman sembari menyebut sebagian warga memilih membeli air isi ulang saat kondisi mendesak. (gen/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/