27.6 C
Madiun
Saturday, December 10, 2022

Lulusan SMK Dominasi Tunakarya di Ngawi

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pengangguran di Ngawi didominasi lulusan SMK. Dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) mencatat angka pengangguran terbuka mencapai 21.216 jiwa tahun lalu. ‘’Sembilan persen di antaranya lulusan SMK,’’ kata Kabid Tenaga Kerja DPPTK Ngawi Supriyadi, Senin (26/9).

Supriyadi mengatakan, banyaknya lulusan SMK menganggur karena beberapa faktor. Salah satunya jumlah peserta didik satuan pendidikan itu lebih banyak ketimbang jenjang lainnya. Asumsinya, semakin banyak peserta didik, persentase menjadi tunakarya selepas lulus juga tinggi.

Di tahun ajaran 2021/2022, misalnya. Ada 5.319 siswa lulus setelah menimba ilmu di 41 SMK negeri dan swasta. Terpaut separo dari lulusan SMA negeri dan swasta yang mencapai 2.781 siswa. ‘’Sementara, peluang kerja berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga kerja yang tinggi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Apes! Bengkel Las Ludes Terbakar

Supriyadi menerangkan, ketersediaan lapangan pekerjaan minim karena pertumbuhan industri juga rendah. Pihaknya berupaya memangkas kesenjangan itu dengan rencana pembangunan kawasan industri agropolitan. Selain itu, menggelar pelatihan kepada para pencari kerja secara masif. ‘’Harapannya bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan industri,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pengangguran di Ngawi didominasi lulusan SMK. Dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) mencatat angka pengangguran terbuka mencapai 21.216 jiwa tahun lalu. ‘’Sembilan persen di antaranya lulusan SMK,’’ kata Kabid Tenaga Kerja DPPTK Ngawi Supriyadi, Senin (26/9).

Supriyadi mengatakan, banyaknya lulusan SMK menganggur karena beberapa faktor. Salah satunya jumlah peserta didik satuan pendidikan itu lebih banyak ketimbang jenjang lainnya. Asumsinya, semakin banyak peserta didik, persentase menjadi tunakarya selepas lulus juga tinggi.

Di tahun ajaran 2021/2022, misalnya. Ada 5.319 siswa lulus setelah menimba ilmu di 41 SMK negeri dan swasta. Terpaut separo dari lulusan SMA negeri dan swasta yang mencapai 2.781 siswa. ‘’Sementara, peluang kerja berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga kerja yang tinggi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Buntut Kedelai Mahal, Mau Tak Mau Naikkan Harga Tahu

Supriyadi menerangkan, ketersediaan lapangan pekerjaan minim karena pertumbuhan industri juga rendah. Pihaknya berupaya memangkas kesenjangan itu dengan rencana pembangunan kawasan industri agropolitan. Selain itu, menggelar pelatihan kepada para pencari kerja secara masif. ‘’Harapannya bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan industri,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/