alexametrics
24.1 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Susah Cari Minyak Goreng Subsidi di Ngawi

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pemerintah belum berhasil menstabilkan harga minyak goreng kemasan di Ngawi. Sebab, penyeragaman harga Rp 14 ribu per liter hanya terjadi di toko ritel modern.

Kondisi itu memicu pemborongan hingga akhirnya minyak goreng murah susah ditemukan. ’’Kebijakan satu harga mengubah kebiasaan masyarakat belanja minyak goreng tidak lagi di pasar tradisional,’’ kata Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Kamis (27/1).

Ony mengatakan, minyak goreng kemasan masih dapat ditemukan di pasar rakyat. Namun, harganya mahal. Pedagang berat hati menurunkan harga. Sebab, barang yang dijual merupakan stok sebelum mendapatkan subsidi. ‘’Pedagang menghabiskan stok yang ada,’’ ujarnya.

Pihaknya tidak dapat berbuat banyak menyikapi persoalan minyak goreng. Sebab, sebelum ada subsidi, harga mahal dan kelangkaan telah terjadi sebelumnya. Persoalan itu dipicu kenaikan harga bahan baku pembuatan minyak atau crude palm oil (CPO). ‘’Karena harganya sudah mahal, produsen mengurangi jumlah produksinya,’’ terang bupati.

Baca Juga :  Waspada Korona, Periksa Acak Pemudik di Rest Area

Ida Kusnianti, salah seorang pengelola minimarket di Ngawi, mengamini pengurangan pasokan minyak goreng. Sementara peminatnya cukup tinggi. Buktinya, warga langsung menyerbu tidak lama setelah minyak goreng diletakkan di etalase. ‘’Tidak ada kendala dalam pendistribusianya, tapi setiap kali barang datang langsung habis,’’ ungkapnya. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pemerintah belum berhasil menstabilkan harga minyak goreng kemasan di Ngawi. Sebab, penyeragaman harga Rp 14 ribu per liter hanya terjadi di toko ritel modern.

Kondisi itu memicu pemborongan hingga akhirnya minyak goreng murah susah ditemukan. ’’Kebijakan satu harga mengubah kebiasaan masyarakat belanja minyak goreng tidak lagi di pasar tradisional,’’ kata Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Kamis (27/1).

Ony mengatakan, minyak goreng kemasan masih dapat ditemukan di pasar rakyat. Namun, harganya mahal. Pedagang berat hati menurunkan harga. Sebab, barang yang dijual merupakan stok sebelum mendapatkan subsidi. ‘’Pedagang menghabiskan stok yang ada,’’ ujarnya.

Pihaknya tidak dapat berbuat banyak menyikapi persoalan minyak goreng. Sebab, sebelum ada subsidi, harga mahal dan kelangkaan telah terjadi sebelumnya. Persoalan itu dipicu kenaikan harga bahan baku pembuatan minyak atau crude palm oil (CPO). ‘’Karena harganya sudah mahal, produsen mengurangi jumlah produksinya,’’ terang bupati.

Baca Juga :  Waspada Korona, Periksa Acak Pemudik di Rest Area

Ida Kusnianti, salah seorang pengelola minimarket di Ngawi, mengamini pengurangan pasokan minyak goreng. Sementara peminatnya cukup tinggi. Buktinya, warga langsung menyerbu tidak lama setelah minyak goreng diletakkan di etalase. ‘’Tidak ada kendala dalam pendistribusianya, tapi setiap kali barang datang langsung habis,’’ ungkapnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/