27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Imbas Krisis Ekonomi Global, Ratusan Pekerja di Ngawi Dirumahkan

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Dampak agresi Rusia ke Ukraina merembet sampai Ngawi. Sedikitnya 225 pekerja pabrik pakaian di Kecamatan Karangjati dirumahkan sementara. Pemberhentian tak permanen sejak Agustus lalu itu buntut tidak stabilnya neraca keuangan perusahaan.

Penjualan produk ke Amerika Serikat turun seiring mencuatnya krisis ekonomi global imbas perseteruan dua negara tersebut. ‘’Kegiatan produksinya dihentikan, hanya 25 karyawan yang masuk rutin,’’ kata Kabid Tenaga Kerja Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Supriyadi, Selasa (27/9).

Supriyadi sempat menemui bagian sumber daya manusia (SDM) perusahaan. Dia meminta kepastian kapan ratusan karyawan akan kembali bekerja. Akan tetapi, jawaban yang diberikan kurang memuaskan. ‘’Tidak bisa berbuat banyak selain menunggu arahan dari kantor pusatnya di Surabaya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Punya Langkah Jitu, DPRD Wonogiri Berguru Ilmu

Kendati dirumahkan, Supriyadi menyampaikan bahwa karyawan sejatinya masih menerima gaji pokok saban bulan. Namun, pembayarannya sering kali telat. Situasi tersebut membuat dilematis pekerja. Di satu sisi harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sisi lainnya bimbang bila ingin mencari pekerjaan baru. ‘’Khawatirnya pabrik beroperasi kembali,’’ ucapnya.

Menurut Supriyadi, perang berkepanjangan Rusia dan Ukraina berpotensi menambah jumlah pengangguran. Khususnya dari perusahaan yang melayani ekspor ke Eropa. Di kabupaten ini ada tiga pabrik sepatu yang produknya merambah mancanegara. ‘’Kalau nantinya ada karyawan kena pemutusan kerja, kami akan membekali pelatihan agar bisa memulai usaha secara mandiri,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Dampak agresi Rusia ke Ukraina merembet sampai Ngawi. Sedikitnya 225 pekerja pabrik pakaian di Kecamatan Karangjati dirumahkan sementara. Pemberhentian tak permanen sejak Agustus lalu itu buntut tidak stabilnya neraca keuangan perusahaan.

Penjualan produk ke Amerika Serikat turun seiring mencuatnya krisis ekonomi global imbas perseteruan dua negara tersebut. ‘’Kegiatan produksinya dihentikan, hanya 25 karyawan yang masuk rutin,’’ kata Kabid Tenaga Kerja Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Supriyadi, Selasa (27/9).

Supriyadi sempat menemui bagian sumber daya manusia (SDM) perusahaan. Dia meminta kepastian kapan ratusan karyawan akan kembali bekerja. Akan tetapi, jawaban yang diberikan kurang memuaskan. ‘’Tidak bisa berbuat banyak selain menunggu arahan dari kantor pusatnya di Surabaya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dekan FE Umpo: Ekonomi Tahun Depan Tetap Terang

Kendati dirumahkan, Supriyadi menyampaikan bahwa karyawan sejatinya masih menerima gaji pokok saban bulan. Namun, pembayarannya sering kali telat. Situasi tersebut membuat dilematis pekerja. Di satu sisi harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sisi lainnya bimbang bila ingin mencari pekerjaan baru. ‘’Khawatirnya pabrik beroperasi kembali,’’ ucapnya.

Menurut Supriyadi, perang berkepanjangan Rusia dan Ukraina berpotensi menambah jumlah pengangguran. Khususnya dari perusahaan yang melayani ekspor ke Eropa. Di kabupaten ini ada tiga pabrik sepatu yang produknya merambah mancanegara. ‘’Kalau nantinya ada karyawan kena pemutusan kerja, kami akan membekali pelatihan agar bisa memulai usaha secara mandiri,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/