alexametrics
24.7 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Terdampak Kemarau, Sebagian Warga Pilih Beli Air Bersih

NGAWI – Pengeluaran sebagian warga Dusun Pojok, Desa Banjarbanggi, Pitu, sejak beberapa hari terakhir bertambah. Itu terjadi setelah sumber-sumber di desa setempat kering kerontang terdampak kekeringan. Mereka harus mengeluarkan duit demi mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi.

Kaur Pembangunan Desa Banjarbanggi Budi Purwanto menuturkan, RT 03 RW 01 Dusun Pojok merupakan wilayah terdampak paling parah. Kalaupun ada sumber yang menyisakan air, kata dia, merupakan resapan dari Bengawan Solo. Karena itu, sejumlah warga meragukan kelayakannya untuk dikonsumsi hingga memilih membeli air bersih. ‘’Per jeriken biasanya Rp 4 ribu, tapi kalau galon bisa sampai Rp 20 ribu,’’ ungkapnya Jumat (28/6).

Budi menyebut, pihak desa sudah mengajukan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi. Namun, sejauh ini mendapat kiriman tangki penampungan. ‘’Bantuan air bersihnya belum,’’ ujar Budi kepada Radar Ngawi.

Ketua RT 03 RW 01 Dusun Pojok Sukarjo membenarkan bahwa warganya saat ini tengah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, bukan berarti tidak ada air sama sekali. Untuk kebutuhan sehari-hari, terutama mandi dan mencuci, sebagian masih mengandalkan air Bengawan Solo. ‘’Tapi, yang beli juga ada,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  291 Peserta PKH di Ngawi Tereliminasi

Sukarjo mengatakan, puncak krisis air di dusunnya biasanya terjadi pada Agustus sampai Desember. Namun, pada bulan-bulan itu pula biasanya sudah mendapatkan dropping dari BPBD untuk dikonsumsi. Sedangkan untuk kebutuhan lain tetap mengandalkan air Bengawan Solo. ‘’Selama air sungainya masih bersih, tidak tercemar limbah, masih bisa digunakan,’’ ujarnya. (tif/isd)

NGAWI – Pengeluaran sebagian warga Dusun Pojok, Desa Banjarbanggi, Pitu, sejak beberapa hari terakhir bertambah. Itu terjadi setelah sumber-sumber di desa setempat kering kerontang terdampak kekeringan. Mereka harus mengeluarkan duit demi mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi.

Kaur Pembangunan Desa Banjarbanggi Budi Purwanto menuturkan, RT 03 RW 01 Dusun Pojok merupakan wilayah terdampak paling parah. Kalaupun ada sumber yang menyisakan air, kata dia, merupakan resapan dari Bengawan Solo. Karena itu, sejumlah warga meragukan kelayakannya untuk dikonsumsi hingga memilih membeli air bersih. ‘’Per jeriken biasanya Rp 4 ribu, tapi kalau galon bisa sampai Rp 20 ribu,’’ ungkapnya Jumat (28/6).

Budi menyebut, pihak desa sudah mengajukan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi. Namun, sejauh ini mendapat kiriman tangki penampungan. ‘’Bantuan air bersihnya belum,’’ ujar Budi kepada Radar Ngawi.

Ketua RT 03 RW 01 Dusun Pojok Sukarjo membenarkan bahwa warganya saat ini tengah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, bukan berarti tidak ada air sama sekali. Untuk kebutuhan sehari-hari, terutama mandi dan mencuci, sebagian masih mengandalkan air Bengawan Solo. ‘’Tapi, yang beli juga ada,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Operasi Yustisi Inkonsisten

Sukarjo mengatakan, puncak krisis air di dusunnya biasanya terjadi pada Agustus sampai Desember. Namun, pada bulan-bulan itu pula biasanya sudah mendapatkan dropping dari BPBD untuk dikonsumsi. Sedangkan untuk kebutuhan lain tetap mengandalkan air Bengawan Solo. ‘’Selama air sungainya masih bersih, tidak tercemar limbah, masih bisa digunakan,’’ ujarnya. (tif/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/