alexametrics
29.9 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

Minim Produk IKM Ngawi yang Dititipkan ke Minimarket

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Penitipan produk lokal pada minimarket waralaba di Ngawi belum sesuai ekspektasi. Selain jumlahnya masih minim, alur tata niaganya juga dinilai belum apik. Dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) mengevaluasi program yang telah berjalan setahun lebih tersebut. ‘’Evaluasi ini demi meningkatkan kualitas produksi dan kuantitas penjualan,’’ kata Kepala DPPTK Ngawi Yusuf Rosyadi, Jumat (31/12).

Yusuf menyebut, pendistribusian produk dilakukan secara mandiri oleh masing-masing industri kecil menengah (IKM). Cara tersebut mengakibatkan kegiatan pascaproduksi tidak terpantau dengan baik. Seperti, jumlah produk laku, tidak laku, serta paling laris. ‘’Dropping mandiri tidak efektif karena hasil penjualan antara satu minimarket dengan lainnya berbeda,’’ ujarnya.

DPPTK berencana membuat tim khusus yang memfasilitasi produk IKM di minimarket. Fasilitasi satu pintu itu membuat proses distribusi dan pencatatan lebih efisien dan efektif. Yusuf mengambil contoh IKM Kecamatan Sine yang menitipkan produknya di salah satu minimarket Kecamatan Geneng. Bila hanya laku dua barang, maka ongkos distribusinya lebih besar dari keuntungan. ‘’Tata niaganya ditata agar jumlah produk terjual dan omzet bisa terlaporkan dengan baik,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dindik Pastikan Pekan Depan Siswa di Ngawi Mulai PTM

Yusuf menyampaikan, baru 12 produk IKM yang lolos standar salah satu minimarket yang diajak kerja sama. Mayoritas berjenis makanan ringan. Padahal, ada 40 produk yang didaftarkan untuk mengisi rak berjualan. Pencoretan 28 produk itu lantaran dianggap tidak memenuhi standardisasi untuk dijual. Di antaranya, pengemasan, rasa, dan harga. ‘’Harus ada evaluasi kualitas produk jika ingin dapat bersaing,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Penitipan produk lokal pada minimarket waralaba di Ngawi belum sesuai ekspektasi. Selain jumlahnya masih minim, alur tata niaganya juga dinilai belum apik. Dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) mengevaluasi program yang telah berjalan setahun lebih tersebut. ‘’Evaluasi ini demi meningkatkan kualitas produksi dan kuantitas penjualan,’’ kata Kepala DPPTK Ngawi Yusuf Rosyadi, Jumat (31/12).

Yusuf menyebut, pendistribusian produk dilakukan secara mandiri oleh masing-masing industri kecil menengah (IKM). Cara tersebut mengakibatkan kegiatan pascaproduksi tidak terpantau dengan baik. Seperti, jumlah produk laku, tidak laku, serta paling laris. ‘’Dropping mandiri tidak efektif karena hasil penjualan antara satu minimarket dengan lainnya berbeda,’’ ujarnya.

DPPTK berencana membuat tim khusus yang memfasilitasi produk IKM di minimarket. Fasilitasi satu pintu itu membuat proses distribusi dan pencatatan lebih efisien dan efektif. Yusuf mengambil contoh IKM Kecamatan Sine yang menitipkan produknya di salah satu minimarket Kecamatan Geneng. Bila hanya laku dua barang, maka ongkos distribusinya lebih besar dari keuntungan. ‘’Tata niaganya ditata agar jumlah produk terjual dan omzet bisa terlaporkan dengan baik,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Lagi, Warga Ngawi Tewas Tersengat Jebakan Tikus

Yusuf menyampaikan, baru 12 produk IKM yang lolos standar salah satu minimarket yang diajak kerja sama. Mayoritas berjenis makanan ringan. Padahal, ada 40 produk yang didaftarkan untuk mengisi rak berjualan. Pencoretan 28 produk itu lantaran dianggap tidak memenuhi standardisasi untuk dijual. Di antaranya, pengemasan, rasa, dan harga. ‘’Harus ada evaluasi kualitas produk jika ingin dapat bersaing,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/