alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Serapan Pupuk Subsdidi Petani di Pacitan Rendah

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tingginya alokasi pupuk bersubsidi terkesan disia-siakan. Serapannya hingga tutup tahun tak berjalan maksimal. Dari enam jenis pupuk, tak satu pun yang terserap hingga 100 persen. Padahal jatah ini telah disesuaikan dengan pengajuan dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) petani.

Kepala Disperta Pacitan Bambang Suprioko mengatakan, dari enam jenis pupuk hanya NPK dan ZA yang serapannya terbilang apik. Tak kurang 9,6 ribu ton dari total 10,9 ribu ton telah diambil petani. Sementara jenis ZA dari 1,4 ribu ton, terserap 1,2 ribu ton. Pupuk urea hanya terserap 9,6 ribu ton dari total 22.809 ton. ‘’Mungkin RDKK-nya harus disusun setahun sebelumnya, supaya prediksi serapannya tidak meleset,’’ ujarnya, Sabtu (1/1).

Baca Juga :  Dinkes Pacitan Jajaki Vaksinasi Malam, Dukung Wajib Booster Pemudik

Selain salah prediksi, Bambang menilai pandemi korona turut menyebabkan rendahnya serapan. Sehingga petani pikir-pikir untuk membeli pupuk meski bersubsidi. Akhirnya mengganti pupuk dengan kandungan yang lebih majemuk. ‘’Seperti NPK itu majemuk. Karena banyak komposisinya, jadi diburu. Beda dengan urea yang hanya satu fungsinya,’’ jelas Bambang.

Belajar dari rendahnya serapan di sepanjang 2021, disperta bakal memperketat pemantauan dalam penyusunan RDKK. Agar jatah pupuk yang teralokasikan habis terserap di akhir tahun. Layaknya dagangan, pupuk yang tak habis itu bakal dikembalikan. Hal ini sangat disayangkan menimbang setiap tahunnya pemerintah pusat melakukan pembatasan distribusi. ‘’Ada yang bilang ambil pupuk bersubsidi itu ribet karena harus bawa KTP. Padahal syarat itu semata demi pemanfaatannya tepat sasaran,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tingginya alokasi pupuk bersubsidi terkesan disia-siakan. Serapannya hingga tutup tahun tak berjalan maksimal. Dari enam jenis pupuk, tak satu pun yang terserap hingga 100 persen. Padahal jatah ini telah disesuaikan dengan pengajuan dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) petani.

Kepala Disperta Pacitan Bambang Suprioko mengatakan, dari enam jenis pupuk hanya NPK dan ZA yang serapannya terbilang apik. Tak kurang 9,6 ribu ton dari total 10,9 ribu ton telah diambil petani. Sementara jenis ZA dari 1,4 ribu ton, terserap 1,2 ribu ton. Pupuk urea hanya terserap 9,6 ribu ton dari total 22.809 ton. ‘’Mungkin RDKK-nya harus disusun setahun sebelumnya, supaya prediksi serapannya tidak meleset,’’ ujarnya, Sabtu (1/1).

Baca Juga :  Hari Pertama PTM SD di Pacitan, Guru Tandai Nama Siswa di Meja

Selain salah prediksi, Bambang menilai pandemi korona turut menyebabkan rendahnya serapan. Sehingga petani pikir-pikir untuk membeli pupuk meski bersubsidi. Akhirnya mengganti pupuk dengan kandungan yang lebih majemuk. ‘’Seperti NPK itu majemuk. Karena banyak komposisinya, jadi diburu. Beda dengan urea yang hanya satu fungsinya,’’ jelas Bambang.

Belajar dari rendahnya serapan di sepanjang 2021, disperta bakal memperketat pemantauan dalam penyusunan RDKK. Agar jatah pupuk yang teralokasikan habis terserap di akhir tahun. Layaknya dagangan, pupuk yang tak habis itu bakal dikembalikan. Hal ini sangat disayangkan menimbang setiap tahunnya pemerintah pusat melakukan pembatasan distribusi. ‘’Ada yang bilang ambil pupuk bersubsidi itu ribet karena harus bawa KTP. Padahal syarat itu semata demi pemanfaatannya tepat sasaran,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/