alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Imlek Bersama Generasi Keenam Tionghoa di Pacitan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Chrismilia Natalia tak melewatkan begitu saja Imlek 2573. Momen istimewa itu selalu dirayakan bersama keluarga kecilnya di Jalan Ahmad Yani, Sidoharjo, Pacitan.

Nonik, sapaan Chrismilia Natalia, bolak-balik dari satu ruang ke ruang lain di rumahnya. Aneka kue warna-warni disiapkannya sejak pagi buta. Hidangan wajib itu disajikan di sebuah meja panjang. ‘’Semua kue harus serbamanis,’’ ujarnya, Selasa (1/2).

Bagi Nonik, menyiapkan aneka hidangan lezat saat Imlek menjadi sebuah keharusan. Lampion dan lilin merah juga dikeluarkan dari gudang. Semua itu disiapkan sejak jauh hari. Maklum, aneka kelengkapan menyambut Imlek tak banyak dijumpai di toko maupun pasar. ‘’Kalau ke pasar hanya beli buah, buahnya harus yang ngrumpul (bergerombol, Red) dan berair seperti anggur atau kelengkeng,’’ kata perempuan 50 tahun itu.

Baca Juga :  Dera Kekeringan, Hilang Nalar Kais Air Kotor

Sejak dulu Nonik rutin merayakan Imlek bersama keluarga kecilnya. Pandemi dua tahun terakhir sempat membuat perayaan terhenti. Jumlah warga keturunan di Pacitan semakin berkurang. Pun, generasi mudanya banyak yang melanjutkan pendidikan ke luar kota. ‘’Pastinya bakal sepi lagi, (yang melaksanakan sembahyang, Red) cuma saya, suami, dan anak,’’ ujar istri dari Agustinus Agung Trisnanto itu.

Menjadi keturunan keenam Tionghoa di Pacitan, Nonik akrab dengan tradisi nenek moyangnya sejak kecil. Biasanya, dalam setahun ada dua jenis sembahyang yang rutin dijalankan. Selain Imlek, juga Cheng Beng atau bulan arwah setiap April. ‘’Imlek wujud cinta dan bakti kami terhadap nenek moyang, adanya kami sampai sekarang ini juga karena mereka,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Chrismilia Natalia tak melewatkan begitu saja Imlek 2573. Momen istimewa itu selalu dirayakan bersama keluarga kecilnya di Jalan Ahmad Yani, Sidoharjo, Pacitan.

Nonik, sapaan Chrismilia Natalia, bolak-balik dari satu ruang ke ruang lain di rumahnya. Aneka kue warna-warni disiapkannya sejak pagi buta. Hidangan wajib itu disajikan di sebuah meja panjang. ‘’Semua kue harus serbamanis,’’ ujarnya, Selasa (1/2).

Bagi Nonik, menyiapkan aneka hidangan lezat saat Imlek menjadi sebuah keharusan. Lampion dan lilin merah juga dikeluarkan dari gudang. Semua itu disiapkan sejak jauh hari. Maklum, aneka kelengkapan menyambut Imlek tak banyak dijumpai di toko maupun pasar. ‘’Kalau ke pasar hanya beli buah, buahnya harus yang ngrumpul (bergerombol, Red) dan berair seperti anggur atau kelengkeng,’’ kata perempuan 50 tahun itu.

Baca Juga :  Nasabah Mekar Antusias Ikuti Pelatihan PKU yang Digelar PNM Pacitan

Sejak dulu Nonik rutin merayakan Imlek bersama keluarga kecilnya. Pandemi dua tahun terakhir sempat membuat perayaan terhenti. Jumlah warga keturunan di Pacitan semakin berkurang. Pun, generasi mudanya banyak yang melanjutkan pendidikan ke luar kota. ‘’Pastinya bakal sepi lagi, (yang melaksanakan sembahyang, Red) cuma saya, suami, dan anak,’’ ujar istri dari Agustinus Agung Trisnanto itu.

Menjadi keturunan keenam Tionghoa di Pacitan, Nonik akrab dengan tradisi nenek moyangnya sejak kecil. Biasanya, dalam setahun ada dua jenis sembahyang yang rutin dijalankan. Selain Imlek, juga Cheng Beng atau bulan arwah setiap April. ‘’Imlek wujud cinta dan bakti kami terhadap nenek moyang, adanya kami sampai sekarang ini juga karena mereka,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/