alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Lima Bulan Ada 471 Janda Baru

PACITAN – Angka perceraian di Pacitan lumayan tinggi. Tahun ini hingga Mei kemarin tercatat 522 perkara masuk pengadilan agama (PA) Gugat cerai dari pihak istri mendominasi. Jumlahnya mencapai 329 perkara. Sedangkan cerai talak dari pihak suami hanya separonya. ‘’Cerai talak dari suami 165 permohonan,’’ ungkap Ketua PA Pacitan Sumarwan Jumat (31/5).

Pengajuan cerai gugat maupun talak tertinggi pada Januari. Jumlahnya 194 perkara. Perinciannya 120 cerai gugat dan selebihnya talak. Sedangkan tiga bulan berikutnya rata-rata 95 perkara. Bahkan, hingga memasuki Ramadan, masih ada pengajuan cerai sebanyak 73 perkara. ‘’Terdiri dari 46 cerai gugat dan 14 talak,’’ ujarnya.

Menurut Marwan, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama perceraian. Suami kesulitan mencukupi kebutuhan rumah tangga. Bahkan, tidak sanggup menafkahi keluarganya. Tidak heran jika gugat cerai dari pihak istri lebih tinggi. ‘’Ada korelasinya. Karena tanggung jawab kebutuhan ekonomi ada di pundak suami. Kalau tidak terpenuhi ujung-ujungnya istri minta cerai,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Waspada Gelombang Ketiga, Bupati Aji Rapatkan Barisan Satgas Covid-19 Pacitan

Terhitung hingga 27 Mei lalu 457 perkara sudah terselesaikan. Sedangkan keesokan harinya pihaknya memutus 14 perkara. Sehingga, tinggal 18 perkara lagi yang belum diputus. ‘’Penyebarannya relatif merata. Hampir ada dari setiap kecamatan,’’ bebernya.

Meski acap memutus perkara perceraian, PA juga selalu  berupaya untuk mendamaikan pasangan dan ‘mempersulit’ perceraian. Menurut dia, itu sesuai amanat undang-undang. ‘’Di setiap persidangan majelis hakim selalu berupaya menasehati kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan. Itupun masih di-backup upaya perdamaian di luar persidangan,’’ jelasnya.

Ada beberapa apasangan yang berhasil didamaikan dengan mencabut gugatan atau talaknya. Bulan Mei ini, ada tiga pasangan yang berakhir damai. Persentasenya memang kecil. Pasalnya, proses percerian di PA sudah melalui beberapa tahapan. Mulai upaya menghadirkan keluarga, perangkat desa hingga tokoh agama atau masyarakat. ‘’Sedangkan PA jadi puncaknya,’’ tambahnya. (odi/sat)

PACITAN – Angka perceraian di Pacitan lumayan tinggi. Tahun ini hingga Mei kemarin tercatat 522 perkara masuk pengadilan agama (PA) Gugat cerai dari pihak istri mendominasi. Jumlahnya mencapai 329 perkara. Sedangkan cerai talak dari pihak suami hanya separonya. ‘’Cerai talak dari suami 165 permohonan,’’ ungkap Ketua PA Pacitan Sumarwan Jumat (31/5).

Pengajuan cerai gugat maupun talak tertinggi pada Januari. Jumlahnya 194 perkara. Perinciannya 120 cerai gugat dan selebihnya talak. Sedangkan tiga bulan berikutnya rata-rata 95 perkara. Bahkan, hingga memasuki Ramadan, masih ada pengajuan cerai sebanyak 73 perkara. ‘’Terdiri dari 46 cerai gugat dan 14 talak,’’ ujarnya.

Menurut Marwan, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama perceraian. Suami kesulitan mencukupi kebutuhan rumah tangga. Bahkan, tidak sanggup menafkahi keluarganya. Tidak heran jika gugat cerai dari pihak istri lebih tinggi. ‘’Ada korelasinya. Karena tanggung jawab kebutuhan ekonomi ada di pundak suami. Kalau tidak terpenuhi ujung-ujungnya istri minta cerai,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Eksekutif-Legislatif Sepakati Ranwal RPJMD

Terhitung hingga 27 Mei lalu 457 perkara sudah terselesaikan. Sedangkan keesokan harinya pihaknya memutus 14 perkara. Sehingga, tinggal 18 perkara lagi yang belum diputus. ‘’Penyebarannya relatif merata. Hampir ada dari setiap kecamatan,’’ bebernya.

Meski acap memutus perkara perceraian, PA juga selalu  berupaya untuk mendamaikan pasangan dan ‘mempersulit’ perceraian. Menurut dia, itu sesuai amanat undang-undang. ‘’Di setiap persidangan majelis hakim selalu berupaya menasehati kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan. Itupun masih di-backup upaya perdamaian di luar persidangan,’’ jelasnya.

Ada beberapa apasangan yang berhasil didamaikan dengan mencabut gugatan atau talaknya. Bulan Mei ini, ada tiga pasangan yang berakhir damai. Persentasenya memang kecil. Pasalnya, proses percerian di PA sudah melalui beberapa tahapan. Mulai upaya menghadirkan keluarga, perangkat desa hingga tokoh agama atau masyarakat. ‘’Sedangkan PA jadi puncaknya,’’ tambahnya. (odi/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/