alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Duh, 60 Pendidik di Pacitan Gugur Selama Pandemi

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – PGRI Pacitan mencatat tak kurang dari 60 tenaga pengajar aktif meninggal dunia selama pandemi dua tahun terakhir. Mayoritas terindikasi tertular Covid-19.

Sekretaris PGRI Pacitan Khusnul Qomarudin mengatakan, pandemi korona cukup membawa duka mendalam bagi insan pendidikan di kabupaten ini. Meski sejak awal telah diterapkan pembatasan kegiatan belajar mengajar (KBM), tetap saja ada pendidik yang terpapar korona. Bahkan, membuat sebagian di antaranya meninggal dunia. ‘’Enam puluh itu tidak semuanya korona, tapi mayoritas memang begitu (terpapar, Red),’’ ujarnya, Rabu (2/2).

Khusnul menjelaskan, puluhan pengajar aktif yang meninggal dunia itu tersebar di berbagai jenjang sekolah di 12 kecamatan. Mulai SD hingga SMP. Jika dirata-rata, mayoritas pendidik yang terjangkit berusia di atas 60 tahun dan memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid). ‘’Ada beberapa yang di bawah 50 tahun, tapi sebagian besar juga karena komorbid,’’ terangnya.

Baca Juga :  Imlek Bersama Generasi Keenam Tionghoa di Pacitan

Tiap keluarga yang ditinggalkan dipastikan mendapat santunan Rp 4 juta. Tali asih itu dari dana rutin yang dihimpun setiap bulannya. Saking banyaknya korban, dana yang dihimpun tak cukup digunakan santunan. ‘’Akhirnya kami tambahi dari patungan sukarela, akhirnya cukup,’’ tuturnya.

Khusnul berharap tenaga pendidik lekas merampungkan jatah vaksinasinya. Tak cukup satu-dua, namun disempurnakan dengan booster dosis ketiga. Jangan sampai Covid-19 dengan varian terbarunya mengganggu kelancaran aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) belakangan. ”Seluruh guru terus kami dorong untuk booster dan patuh prokes saat di sekolah maupun rumah,” tegasnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – PGRI Pacitan mencatat tak kurang dari 60 tenaga pengajar aktif meninggal dunia selama pandemi dua tahun terakhir. Mayoritas terindikasi tertular Covid-19.

Sekretaris PGRI Pacitan Khusnul Qomarudin mengatakan, pandemi korona cukup membawa duka mendalam bagi insan pendidikan di kabupaten ini. Meski sejak awal telah diterapkan pembatasan kegiatan belajar mengajar (KBM), tetap saja ada pendidik yang terpapar korona. Bahkan, membuat sebagian di antaranya meninggal dunia. ‘’Enam puluh itu tidak semuanya korona, tapi mayoritas memang begitu (terpapar, Red),’’ ujarnya, Rabu (2/2).

Khusnul menjelaskan, puluhan pengajar aktif yang meninggal dunia itu tersebar di berbagai jenjang sekolah di 12 kecamatan. Mulai SD hingga SMP. Jika dirata-rata, mayoritas pendidik yang terjangkit berusia di atas 60 tahun dan memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid). ‘’Ada beberapa yang di bawah 50 tahun, tapi sebagian besar juga karena komorbid,’’ terangnya.

Baca Juga :  Beras BPNT Tak Layak Konsumsi, Anggota DPRD Pacitan Tegur Dinsos

Tiap keluarga yang ditinggalkan dipastikan mendapat santunan Rp 4 juta. Tali asih itu dari dana rutin yang dihimpun setiap bulannya. Saking banyaknya korban, dana yang dihimpun tak cukup digunakan santunan. ‘’Akhirnya kami tambahi dari patungan sukarela, akhirnya cukup,’’ tuturnya.

Khusnul berharap tenaga pendidik lekas merampungkan jatah vaksinasinya. Tak cukup satu-dua, namun disempurnakan dengan booster dosis ketiga. Jangan sampai Covid-19 dengan varian terbarunya mengganggu kelancaran aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) belakangan. ”Seluruh guru terus kami dorong untuk booster dan patuh prokes saat di sekolah maupun rumah,” tegasnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/