alexametrics
27.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Hilal Tak Terlihat di Pantai Srau, 1 Ramadan Ditetapkan 3 April

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Hilal dipastikan tidak tampak di Pacitan kemarin (1/4). Bukan perkara ketinggiannya yang kurang, melainkan jarak pandang tertutup awan. Faktor itulah yang membuat tim rukyatul hilal belum dapat menetapkan 1 Ramadan hari ini (2/4).

Kepala Kantor Kemenag Pacitan M. Nasim mengatakan, pemantauan hilal dilakukan di Pantai Srau, Pringkuku, sekitar pukul 16.00. Hingga matahari terbenam, bulan baru tak kunjung terlihat. ‘’Hasil rukyatul hilal ini akan kami kirimkan ke Kemenag pusat untuk dijadikan pertimbangan penentuan 1 Ramadan, tapi di Pacitan tertutup awan,’’ ujarnya, Sabtu (2/4).

Nasim menyampaikan, terdapat beberapa metode penentuan 1 Ramadan. Baik lewat perhitungan kalender maupun pengamatan bulan. Kriteria hilal untuk penetapan awal bulan Hijriah itu berada di ketinggian 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam. Baik diukur menggunakan teropong maupun metode benang tradisional. ‘’Kita ikuti saja hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah,’’ katanya.

Baca Juga :  Tujuh Lumba-lumba Mati Terjerat Jaring Cakalang

Nasim berharap masyarakat mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Perbedaan penetapan awal Ramadan lumrah. Tak perlu diperdebatkan. ‘Nggak usah eker-ekeran (berdebat, Red), saling menghormati satu dan lainnya, selalu jaga kerukunan,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Hilal dipastikan tidak tampak di Pacitan kemarin (1/4). Bukan perkara ketinggiannya yang kurang, melainkan jarak pandang tertutup awan. Faktor itulah yang membuat tim rukyatul hilal belum dapat menetapkan 1 Ramadan hari ini (2/4).

Kepala Kantor Kemenag Pacitan M. Nasim mengatakan, pemantauan hilal dilakukan di Pantai Srau, Pringkuku, sekitar pukul 16.00. Hingga matahari terbenam, bulan baru tak kunjung terlihat. ‘’Hasil rukyatul hilal ini akan kami kirimkan ke Kemenag pusat untuk dijadikan pertimbangan penentuan 1 Ramadan, tapi di Pacitan tertutup awan,’’ ujarnya, Sabtu (2/4).

Nasim menyampaikan, terdapat beberapa metode penentuan 1 Ramadan. Baik lewat perhitungan kalender maupun pengamatan bulan. Kriteria hilal untuk penetapan awal bulan Hijriah itu berada di ketinggian 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam. Baik diukur menggunakan teropong maupun metode benang tradisional. ‘’Kita ikuti saja hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah,’’ katanya.

Baca Juga :  Perjuangan Ustad Muda Agus Cahyono Memakmurkan Masjid

Nasim berharap masyarakat mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Perbedaan penetapan awal Ramadan lumrah. Tak perlu diperdebatkan. ‘Nggak usah eker-ekeran (berdebat, Red), saling menghormati satu dan lainnya, selalu jaga kerukunan,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/