alexametrics
24.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Subsidi Dicabut, Harga Migor Curah Berpotensi Kembali Bergejolak

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kebijakan pemerintah mencabut subsidi minyak goreng (migor) curah membuat pelaku UMKM di Pacitan ketar-ketir. Para pelaku usaha cemas harga migor curah bakal kembali terkerek. ‘’Dampaknya nanti membuat pelaku usaha seperti kami semakin susah,’’ kata Lesti Anggraini, penjaja olahan ikan di Pantai Teleng Ria, Sidoharjo, Pacitan, Jumat (3/6).

Lesti berkaca pada situasi sebelum pemerintah menetapkan subsidi migor curah. Akibat tak ada aturan tegas mengenai harga eceran tertinggi (HET), harga migor curah ikut ugal-ugalan seperti migor kemasan. Bahkan, kendati sudah disubsidi sekalipun, harga migor curah sempat tembus Rp 19 ribu per kilogram. Padahal HET ditetapkan Rp 15 ribu per kilogram. ‘’Seperti pertengahan bulan lalu harganya sampai Rp 18 ribu, bahkan juga pernah Rp 19 ribu,’’ ungkapnya.

Dua hari usai pencabutan subsidi pada Selasa (31/5), tanda-tanda tersebut mulai telihat. Kemarin harga migor curah di Pacitan terpantau mulai bergejolak di kisaran Rp 16 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Ketek Ogleng Mejeng di Penceng

Lantaran usaha Lesti bergantung pada ketersediaan migor, dia pun risau dengan kondisi tersebut. Saban hari dia biasa menghabiskan 40 hingga 50 liter migor. Lesti hanya bisa berharap pencabutan subsidi tersebut telah dikaji pemerintah dengan matang. ‘’Semoga tidak ada lonjakan lagi, sulit mau usaha kalau mahal terus,’’ keluhnya.

Joko Purnowo, salah seorang pedagang di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa dua bulan belakangan ketersediaan migor berangsur normal. Meski harganya naik turun, migor curah maupun kemasan kini lebih mudah dijumpai. Namun, Joko juga diliputi kekhawatiran. Dia takut pencabutan subsidi migor curah kembali membuat komoditas tersebut menjadi langka. ‘’Sekarang harganya sekitar Rp 14 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram, tergantung kualitas,’’ sebutnya. (gen/c1/naz)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kebijakan pemerintah mencabut subsidi minyak goreng (migor) curah membuat pelaku UMKM di Pacitan ketar-ketir. Para pelaku usaha cemas harga migor curah bakal kembali terkerek. ‘’Dampaknya nanti membuat pelaku usaha seperti kami semakin susah,’’ kata Lesti Anggraini, penjaja olahan ikan di Pantai Teleng Ria, Sidoharjo, Pacitan, Jumat (3/6).

Lesti berkaca pada situasi sebelum pemerintah menetapkan subsidi migor curah. Akibat tak ada aturan tegas mengenai harga eceran tertinggi (HET), harga migor curah ikut ugal-ugalan seperti migor kemasan. Bahkan, kendati sudah disubsidi sekalipun, harga migor curah sempat tembus Rp 19 ribu per kilogram. Padahal HET ditetapkan Rp 15 ribu per kilogram. ‘’Seperti pertengahan bulan lalu harganya sampai Rp 18 ribu, bahkan juga pernah Rp 19 ribu,’’ ungkapnya.

Dua hari usai pencabutan subsidi pada Selasa (31/5), tanda-tanda tersebut mulai telihat. Kemarin harga migor curah di Pacitan terpantau mulai bergejolak di kisaran Rp 16 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Ketua Komisi I DPRD Pacitan: Warga Desa Kalikuning Ingin Wilayahnya Dimekarkan

Lantaran usaha Lesti bergantung pada ketersediaan migor, dia pun risau dengan kondisi tersebut. Saban hari dia biasa menghabiskan 40 hingga 50 liter migor. Lesti hanya bisa berharap pencabutan subsidi tersebut telah dikaji pemerintah dengan matang. ‘’Semoga tidak ada lonjakan lagi, sulit mau usaha kalau mahal terus,’’ keluhnya.

Joko Purnowo, salah seorang pedagang di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa dua bulan belakangan ketersediaan migor berangsur normal. Meski harganya naik turun, migor curah maupun kemasan kini lebih mudah dijumpai. Namun, Joko juga diliputi kekhawatiran. Dia takut pencabutan subsidi migor curah kembali membuat komoditas tersebut menjadi langka. ‘’Sekarang harganya sekitar Rp 14 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram, tergantung kualitas,’’ sebutnya. (gen/c1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/