alexametrics
27.4 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Mahmud, Inspektur Inspektorat Pemkab Pacitan yang Juga Ustad

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Setibanya di tempat pengajian, Mahmud tak mengira bakal disambut penyanyi cantik berselendang yang sedang menembangkan campursari. Sontak, seisi lokasi pengajian yang diawali tayuban itu mendadak hening. Keringat dingin bercucuran di dahi panitia melihat kedatangan sang ustad.

Bukannya marah dan menghentikan tayuban, Mahmud justru sabar menanti acara pembukaan itu selesai. ‘’Alhamdulillah, sampai di sini saya dihibur. Tayub sebenarnya metode dakwah para pendahulu kita di Pulau Jawa. Tayub itu dari bahasa Arab toyibun, diwakafkan menjadi toyib. Tapi, orang Jawa yang tidak bisa Arab melafalkannya toyub dan lama-kelamaan menjadi tayuban. Artinya, ditata ben guyub,’’ kata Mahmud mengenang pengalamannya mengisi ceramah di suatu wilayah.

Kisah yang dipaparkan Mahmud itu tentu bukan cerita yang sebenarnya. Namun, jurus cocoklogi yang diterangkan Mahmud justru mengundang perhatian dari jemaah. Panitia yang sebelumnya pucat pasi mengira dirinya marah. Pun anggota tayub yang hendak pulang justru betah dan ikut mendengarkan ceramah.

Pendekatan itu ampuh menjadi metode dakwah yang efektif. Masyarakat yang semula datang ke lokasi acara hanya ingin menikmati tayuban, akhirnya menyimak pengajian hingga selesai. Jurus jitu itulah yang diterapkan Mahmud saat berdakwah di lingkungan Ngampel, Ploso, Pacitan, beberapa tahun silam. ‘’Sebenarnya tayub dan toyibun itu bukan saudara, apalagi keturunan,’’ kelakar suami Husnul Chotimah tersebut.

Mahmud sempat mesantren di Darul Ulum Jombang. Lulus dari sana, dia melanjutkan studi di perguruan tinggi. Setelah lulus dan diterima menjadi abdi negara, Mahmud tak lupa dengan cita-cita orang tuanya. Masa remajanya penuh perjuangan. ‘’Waktu itu saya nekat. Bahkan, kuliah di tahun pertama tidak diberi uang. Akhirnya biaya kuliahnya mengandalkan bayaran sebagai translator bahasa Inggris di kampus,’’ ungkap pria lulusan sarjana bahasa Inggris IKIP Malang itu.

Baca Juga :  Ribuan Pelaku Usaha Wisata Pacitan Lesu Terdampak PPKM

Mendapat mandat mengajar di SMPN Nawangan kian membuka jalan Mahmud menyebarkan ajaran Islam. Warga yang tinggal jauh dari kota di tepian bukit itu sangat membutuhkan siraman rohani. Kala itu, tempat ibadah dan taman pendidikan Alquran (TPA) sepi. Sembari mengajar di sekolah,

Mahmud intens syiar Islam di Desa Pakis Baru. ‘’Antusias warga belajar agama besar sekali. Saat itu, lebih dari 100 siswa ikut TPA. Hebatnya lagi, 90 santri saya bawa untuk diwisuda di Pacitan,’’ terang pria lulusan S-2 Teknologi Pembelajaran Unipa Surabaya itu.

Warga pun mengamanahi Mahmud menjadi ketua Nahdlatul Ulama (NU) tingkat ranting di desa setempat. Pengabdiannya sebagai ASN yang kerap berpindah tugas kian membuatnya semakin dikenal sebagai pendakwah. Hingga Mahmud resmi diamanahi menjadi ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pacitan sejak 2012 silam. ‘’Barangkali, saya satu-satunya ketua NU yang berlatar pendidikan umum di Indonesia,’’ tutur bapak tiga anak itu. (gen/fin/c1/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Setibanya di tempat pengajian, Mahmud tak mengira bakal disambut penyanyi cantik berselendang yang sedang menembangkan campursari. Sontak, seisi lokasi pengajian yang diawali tayuban itu mendadak hening. Keringat dingin bercucuran di dahi panitia melihat kedatangan sang ustad.

Bukannya marah dan menghentikan tayuban, Mahmud justru sabar menanti acara pembukaan itu selesai. ‘’Alhamdulillah, sampai di sini saya dihibur. Tayub sebenarnya metode dakwah para pendahulu kita di Pulau Jawa. Tayub itu dari bahasa Arab toyibun, diwakafkan menjadi toyib. Tapi, orang Jawa yang tidak bisa Arab melafalkannya toyub dan lama-kelamaan menjadi tayuban. Artinya, ditata ben guyub,’’ kata Mahmud mengenang pengalamannya mengisi ceramah di suatu wilayah.

Kisah yang dipaparkan Mahmud itu tentu bukan cerita yang sebenarnya. Namun, jurus cocoklogi yang diterangkan Mahmud justru mengundang perhatian dari jemaah. Panitia yang sebelumnya pucat pasi mengira dirinya marah. Pun anggota tayub yang hendak pulang justru betah dan ikut mendengarkan ceramah.

Pendekatan itu ampuh menjadi metode dakwah yang efektif. Masyarakat yang semula datang ke lokasi acara hanya ingin menikmati tayuban, akhirnya menyimak pengajian hingga selesai. Jurus jitu itulah yang diterapkan Mahmud saat berdakwah di lingkungan Ngampel, Ploso, Pacitan, beberapa tahun silam. ‘’Sebenarnya tayub dan toyibun itu bukan saudara, apalagi keturunan,’’ kelakar suami Husnul Chotimah tersebut.

Mahmud sempat mesantren di Darul Ulum Jombang. Lulus dari sana, dia melanjutkan studi di perguruan tinggi. Setelah lulus dan diterima menjadi abdi negara, Mahmud tak lupa dengan cita-cita orang tuanya. Masa remajanya penuh perjuangan. ‘’Waktu itu saya nekat. Bahkan, kuliah di tahun pertama tidak diberi uang. Akhirnya biaya kuliahnya mengandalkan bayaran sebagai translator bahasa Inggris di kampus,’’ ungkap pria lulusan sarjana bahasa Inggris IKIP Malang itu.

Baca Juga :  Ribuan Pelaku Usaha Wisata Pacitan Lesu Terdampak PPKM

Mendapat mandat mengajar di SMPN Nawangan kian membuka jalan Mahmud menyebarkan ajaran Islam. Warga yang tinggal jauh dari kota di tepian bukit itu sangat membutuhkan siraman rohani. Kala itu, tempat ibadah dan taman pendidikan Alquran (TPA) sepi. Sembari mengajar di sekolah,

Mahmud intens syiar Islam di Desa Pakis Baru. ‘’Antusias warga belajar agama besar sekali. Saat itu, lebih dari 100 siswa ikut TPA. Hebatnya lagi, 90 santri saya bawa untuk diwisuda di Pacitan,’’ terang pria lulusan S-2 Teknologi Pembelajaran Unipa Surabaya itu.

Warga pun mengamanahi Mahmud menjadi ketua Nahdlatul Ulama (NU) tingkat ranting di desa setempat. Pengabdiannya sebagai ASN yang kerap berpindah tugas kian membuatnya semakin dikenal sebagai pendakwah. Hingga Mahmud resmi diamanahi menjadi ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pacitan sejak 2012 silam. ‘’Barangkali, saya satu-satunya ketua NU yang berlatar pendidikan umum di Indonesia,’’ tutur bapak tiga anak itu. (gen/fin/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/