alexametrics
23.7 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Pemkab Pacitan Ingatkan Pelaku Wisata Tak Patok Harga Tinggi ke Pengunjung

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Suram perekonomian mulai terang benderang. Setelah dihantam badai korona dua tahun belakangan, iklim perekonomian di Pacitan kembali bergeliat. Mendulang pundi pendapatan seleluasa mungkin selama libur Lebaran kali ini.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwista, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Pacitan Turmudi mengatakan, ledakan kunjungan libur Lebaran kali ini menjadi pelepas dahaga bagi seluruh pelaku pariwisata. Setelah sebelumnya tertatih-tatih mengais rezeki di tengah bayang-bayang Covid-19. ‘’Lebaran ini, ratusan hingga ribuan wisatawan silih berganti mengunjungi Pacitan,’’ ujarnya, Kamis (5/5).

Turmudi berharap kondisi tersebut tak membuat pelaku usaha dan pariwisata gelagapan. Meski dua tahun nyaris ’’menganggur’’, kini saatnya menyongsong adaptasi kebiasaan baru. ‘’Kami harap pelaku usaha dan pariwisata tidak kaget dan kikuk karena kelamaan sepi,’’ tuturnya.

Turmudi mengingatkan para pelaku usaha ’’tak semena-mena’’ dalam mematok harga. Baik pedagang kulineran maupun hotel dan jasa pariwisata lainnya. Jangan jadikan momentum libur Lebaran kali ini sebagai aji mumpung. Setiap lokasi bisnis wisata, seyogianya menunjukkan daftar menu yang transparan. ‘’Jangan ada yang main-main harga, semisal jual es kelapa Rp 50 ribu. Kami waspadai ini,’’ tekannya.

Baca Juga :  Bawaslu Pacitan Soroti Potensi Calon Tunggal

Disbudparpora tak segan menjatuhkan sanksi terhadap pelaku usaha yang kedapatan mendongkrak harga gila-gilaan. Sanksi terberatnya berupa pencabutan izin usaha. Ketegasan itu diterapkan agar tidak mencoreng citra Pacitan sebagai daerah ramah wisatawan. ‘’Perilaku seperti itu bakal membuat wisatawan kapok. Kalau ada temuan seperti itu, silakan lapor kepada kami,’’ tegasnya.

Turmudi percaya iklim pariwisata di Pacitan cukup kompetitif. Ketimbang daerah lain, dia menjamin baik makanan maupun tiket wisata jauh lebih murah. Sementara keindahan alamnya tak kalah bila disandingkan dengan destinasi ternama di luar daerah. Citra positif itu harus senantiasa dijaga. ‘’Mereka juga makan dari sana (pariwisata, Red). Jadi, kami berharap ada rasa memiliki dan menjaga,’’ imbaunya. (gen/c1/fin) 

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Suram perekonomian mulai terang benderang. Setelah dihantam badai korona dua tahun belakangan, iklim perekonomian di Pacitan kembali bergeliat. Mendulang pundi pendapatan seleluasa mungkin selama libur Lebaran kali ini.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwista, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Pacitan Turmudi mengatakan, ledakan kunjungan libur Lebaran kali ini menjadi pelepas dahaga bagi seluruh pelaku pariwisata. Setelah sebelumnya tertatih-tatih mengais rezeki di tengah bayang-bayang Covid-19. ‘’Lebaran ini, ratusan hingga ribuan wisatawan silih berganti mengunjungi Pacitan,’’ ujarnya, Kamis (5/5).

Turmudi berharap kondisi tersebut tak membuat pelaku usaha dan pariwisata gelagapan. Meski dua tahun nyaris ’’menganggur’’, kini saatnya menyongsong adaptasi kebiasaan baru. ‘’Kami harap pelaku usaha dan pariwisata tidak kaget dan kikuk karena kelamaan sepi,’’ tuturnya.

Turmudi mengingatkan para pelaku usaha ’’tak semena-mena’’ dalam mematok harga. Baik pedagang kulineran maupun hotel dan jasa pariwisata lainnya. Jangan jadikan momentum libur Lebaran kali ini sebagai aji mumpung. Setiap lokasi bisnis wisata, seyogianya menunjukkan daftar menu yang transparan. ‘’Jangan ada yang main-main harga, semisal jual es kelapa Rp 50 ribu. Kami waspadai ini,’’ tekannya.

Baca Juga :  Peta Rencana Kontingensi Bencana Pacitan Mendesak Diperbarui

Disbudparpora tak segan menjatuhkan sanksi terhadap pelaku usaha yang kedapatan mendongkrak harga gila-gilaan. Sanksi terberatnya berupa pencabutan izin usaha. Ketegasan itu diterapkan agar tidak mencoreng citra Pacitan sebagai daerah ramah wisatawan. ‘’Perilaku seperti itu bakal membuat wisatawan kapok. Kalau ada temuan seperti itu, silakan lapor kepada kami,’’ tegasnya.

Turmudi percaya iklim pariwisata di Pacitan cukup kompetitif. Ketimbang daerah lain, dia menjamin baik makanan maupun tiket wisata jauh lebih murah. Sementara keindahan alamnya tak kalah bila disandingkan dengan destinasi ternama di luar daerah. Citra positif itu harus senantiasa dijaga. ‘’Mereka juga makan dari sana (pariwisata, Red). Jadi, kami berharap ada rasa memiliki dan menjaga,’’ imbaunya. (gen/c1/fin) 

Most Read

Artikel Terbaru

/