alexametrics
24.2 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Tersandung Masalah Ekonomi, 315 Pasutri di Pacitan Pilih Pegatan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus perceraian di Pacitan tak kunjung surut. Saban tahun ada ratusan pasangan yang pilih pisah ranjang. Penyebabnya beragam. Mulai nafkah lahir dan batin yang kurang terpenuhi hingga problem lainnya.

Ketua Pengadilan Agama Pacitan Muhamad Rizki mengatakan bahwa kasus perceraian terbilang tinggi. Tiga bulan awal di tahun ini, sedikitnya 315 kasus perceraian diajukan, baik talak maupun gugat. Trennya sempat mengalami penurunan selama Ramadan. ‘’Kebanyakan gugat cerai yang diajukan pihak perempuan,’’ ujarnya, Sabtu (7/5).

Faktor ekonomi, lanjut Rizki, menjadi dalang penyebab tingginya perceraian di kabupaten ini. Pandemi dan naiknya harga kebutuhan pokok cukup membikin runyam urusan rumah tangga. Persoalan itu kerap memicu pertengkaran hingga berujung perceraian. Faktor lainnya soal biologis hingga hadirnya orang ketiga. ‘’Kami tetap berusaha mendamaikan. Kalau bisa jangan sampai bercerai walau keputusan akhirnya tetap di tangan pasangan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Hati Senang Bertanam Porang, Pemkab Pacitan Dorong Registrasi Lahan Tanam

Rizki menekankan pentingnya menjaga komitmen dan kejujuran antara pasangan suami istri (pasutri). Minimal menyediakan ruang berkomunikasi setiap menghadapi suatu permasalahan. Meski sepele, cara itu dipandangnya ampuh menekan perceraian. Pasutri harus saling menjaga dan memahami. Perceraian sering kali terpicu emosi yang telanjur meninggi. ‘’Juga, perkataan sedikit-sedikit minta cerai yang akhirnya terjadi betulan,’’ ungkapnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus perceraian di Pacitan tak kunjung surut. Saban tahun ada ratusan pasangan yang pilih pisah ranjang. Penyebabnya beragam. Mulai nafkah lahir dan batin yang kurang terpenuhi hingga problem lainnya.

Ketua Pengadilan Agama Pacitan Muhamad Rizki mengatakan bahwa kasus perceraian terbilang tinggi. Tiga bulan awal di tahun ini, sedikitnya 315 kasus perceraian diajukan, baik talak maupun gugat. Trennya sempat mengalami penurunan selama Ramadan. ‘’Kebanyakan gugat cerai yang diajukan pihak perempuan,’’ ujarnya, Sabtu (7/5).

Faktor ekonomi, lanjut Rizki, menjadi dalang penyebab tingginya perceraian di kabupaten ini. Pandemi dan naiknya harga kebutuhan pokok cukup membikin runyam urusan rumah tangga. Persoalan itu kerap memicu pertengkaran hingga berujung perceraian. Faktor lainnya soal biologis hingga hadirnya orang ketiga. ‘’Kami tetap berusaha mendamaikan. Kalau bisa jangan sampai bercerai walau keputusan akhirnya tetap di tangan pasangan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Duh, Upah Penggali Kubur Jenazah Covid-19 Pacitan Tak Kunjung Dibayar

Rizki menekankan pentingnya menjaga komitmen dan kejujuran antara pasangan suami istri (pasutri). Minimal menyediakan ruang berkomunikasi setiap menghadapi suatu permasalahan. Meski sepele, cara itu dipandangnya ampuh menekan perceraian. Pasutri harus saling menjaga dan memahami. Perceraian sering kali terpicu emosi yang telanjur meninggi. ‘’Juga, perkataan sedikit-sedikit minta cerai yang akhirnya terjadi betulan,’’ ungkapnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/