alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Minyak Goreng Semakin Langka dan Mahal di Pacitan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Membeli minyak goreng sulitnya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Keberadaannya nyaris menghilang di pasaran. Minimnya stok membuat harga komoditas bahan pokok itu kian melambung. Situasi ini tak menguntungkan penjual dan memusingkan pembeli.

Joko Purnowo, pedagang kelontong di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa stok minyak goreng di kiosnya kian menipis. Hanya merek-merek tertentu yang masih tersisa. Itu pun bukan merek terkenal. ‘’Kemarin ada kiriman dari distributor tapi cuma dua karton, itu pun harus dibagi satu pasar,’’ ujarnya, Rabu (9/2).

Kelangkaan stok terjadi ketika penjual didorong menurunkan harga eceran tertinggi (HET). Penjual tak punya banyak pilihan selain menjajakan sesuai kebutuhan. Meskipun banyak pembeli komplain. ‘’Sulit kalau harus jual empat belas ribu per liter, stoknya nggak ada,’’ ungkap pria yang telah berjualan puluhan tahun itu.

Baca Juga :  Operasi Pasar, Warga Rela Berdesakan Demi Dapat Dua Liter Minyak Goreng

Joko berharap lekas mendapatkan penambahan stok minyak goreng. Jika tidak, pemerintah sebaiknya menghapus subsidi HET. Kebijakan itu justru membuat harga melambung dan stok menipis. ”Subsidinya nggak perlu sampai lima ribuan, saya kira dua ribu sudah cukup,” tuturnya.

Suminah, salah seorang pembeli, terpaksa tetap membeli minyak goreng di pasar tradisional. Meski harganya relatif lebih mahal, namun stoknya masih tersedia. Bolak-balik ke toko retail, dia pun tak mendapati minyak goreng seharga Rp 14 ribu. ‘’Terpaksa beli mahal daripada nunggu yang murah nggak ada,” katanya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Membeli minyak goreng sulitnya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Keberadaannya nyaris menghilang di pasaran. Minimnya stok membuat harga komoditas bahan pokok itu kian melambung. Situasi ini tak menguntungkan penjual dan memusingkan pembeli.

Joko Purnowo, pedagang kelontong di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa stok minyak goreng di kiosnya kian menipis. Hanya merek-merek tertentu yang masih tersisa. Itu pun bukan merek terkenal. ‘’Kemarin ada kiriman dari distributor tapi cuma dua karton, itu pun harus dibagi satu pasar,’’ ujarnya, Rabu (9/2).

Kelangkaan stok terjadi ketika penjual didorong menurunkan harga eceran tertinggi (HET). Penjual tak punya banyak pilihan selain menjajakan sesuai kebutuhan. Meskipun banyak pembeli komplain. ‘’Sulit kalau harus jual empat belas ribu per liter, stoknya nggak ada,’’ ungkap pria yang telah berjualan puluhan tahun itu.

Baca Juga :  Tekan Harga Migor dan Inflasi, Pemkot Madiun Gandeng Distributor Gelar OP

Joko berharap lekas mendapatkan penambahan stok minyak goreng. Jika tidak, pemerintah sebaiknya menghapus subsidi HET. Kebijakan itu justru membuat harga melambung dan stok menipis. ”Subsidinya nggak perlu sampai lima ribuan, saya kira dua ribu sudah cukup,” tuturnya.

Suminah, salah seorang pembeli, terpaksa tetap membeli minyak goreng di pasar tradisional. Meski harganya relatif lebih mahal, namun stoknya masih tersedia. Bolak-balik ke toko retail, dia pun tak mendapati minyak goreng seharga Rp 14 ribu. ‘’Terpaksa beli mahal daripada nunggu yang murah nggak ada,” katanya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/