23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

UMK Pacitan 2023 Naik 10 Persen, Apindo Keberatan, SPSI Bersyukur

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) langsung bereaksi begitu UMK Pacitan 2023 ditetapkan naik. Sebagian di antara pengusaha mengaku keberatan membayar upah pekerjanya sesuai dengan besaran yang diputuskan oleh gubernur sebesar Rp 2.157.270.

Ketua Apindo Pacitan Anang Setyaji mengatakan, kondisi keuangan sejumlah perusahaan di daerah saat ini sedang berusaha memulihkan diri pasca pandemi Covid-19.

Kondisi itu diperparah dengan ancaman resesi yang diprediksi terjadi pada 2023. Sehingga, tak sepatutnya UMK tahun depan naik sekitar 10 persen.

‘’Mereka tidak melihat dampak tersebut juga diraskaan para pengusaha. Jadi, tidak hanya produksi dan tenaga kerja, tapi bahan baku juga mahal saat ini,’’ katannya, Kamis (8/12).

Anang mengungkapkan, pangkal permasalahan bermula dari keluarnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) 18/2022 sebagai dasar penghitungan besaran UMK 2023.

Padahal, sebelumnya sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) 36/2021 yang dapat dijadikan pijakan penentuan UMK. ‘’Saat ini, Apindo sudah mengajukan gugatan terkait Permenaker 18/2022 yang dijadikan dasar penghitungan UMK 2023,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Cinta Ditolak Sepupu Bertindak

Menurutnya, formula penghitungan besaran UMK pada Permenaker 18/2022 itu kurang tepat. Karena dampak inflasi tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tapi juga para pengusaha.

‘’PP 36/2021 itu dianggap menguntungkan Apindo. Padahal, aturan yang ditetapkan dalam PP tersebut bukan usulan Apindo,’’ kata Anang.

Terisah, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Pacitan Dwi Murniati mengaku bersyukur besaran UMK 2023 ditetapkan naik dari usulan awal. Menurutnya, hal itu wajar. Sebab, tahun lalu UMK tidak.

Selain itu, saat ini beberapa harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) naik. ‘’Tentu sudah sesuai harapan kalau ternyata besaran UMK 2023 naik 10 persen. Soalnya, harapan awal kami 13 persen,’’ katanya. (gen/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) langsung bereaksi begitu UMK Pacitan 2023 ditetapkan naik. Sebagian di antara pengusaha mengaku keberatan membayar upah pekerjanya sesuai dengan besaran yang diputuskan oleh gubernur sebesar Rp 2.157.270.

Ketua Apindo Pacitan Anang Setyaji mengatakan, kondisi keuangan sejumlah perusahaan di daerah saat ini sedang berusaha memulihkan diri pasca pandemi Covid-19.

Kondisi itu diperparah dengan ancaman resesi yang diprediksi terjadi pada 2023. Sehingga, tak sepatutnya UMK tahun depan naik sekitar 10 persen.

‘’Mereka tidak melihat dampak tersebut juga diraskaan para pengusaha. Jadi, tidak hanya produksi dan tenaga kerja, tapi bahan baku juga mahal saat ini,’’ katannya, Kamis (8/12).

Anang mengungkapkan, pangkal permasalahan bermula dari keluarnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) 18/2022 sebagai dasar penghitungan besaran UMK 2023.

Padahal, sebelumnya sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) 36/2021 yang dapat dijadikan pijakan penentuan UMK. ‘’Saat ini, Apindo sudah mengajukan gugatan terkait Permenaker 18/2022 yang dijadikan dasar penghitungan UMK 2023,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Cinta Ditolak Sepupu Bertindak

Menurutnya, formula penghitungan besaran UMK pada Permenaker 18/2022 itu kurang tepat. Karena dampak inflasi tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tapi juga para pengusaha.

‘’PP 36/2021 itu dianggap menguntungkan Apindo. Padahal, aturan yang ditetapkan dalam PP tersebut bukan usulan Apindo,’’ kata Anang.

Terisah, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Pacitan Dwi Murniati mengaku bersyukur besaran UMK 2023 ditetapkan naik dari usulan awal. Menurutnya, hal itu wajar. Sebab, tahun lalu UMK tidak.

Selain itu, saat ini beberapa harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) naik. ‘’Tentu sudah sesuai harapan kalau ternyata besaran UMK 2023 naik 10 persen. Soalnya, harapan awal kami 13 persen,’’ katanya. (gen/her)

Most Read

Artikel Terbaru