alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Dewan Temukan 13 Anak Berkebutuhan Khusus di Pacitan Ikut KBM Kelas Umum

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Masalah dunia pendidikan seakan tiada habisnya. Tak hanya ancaman anak putus sekolah, namun kelayakan pendidikan bagi anak kebutuhan khusus (ABK) juga mendesak diperhatikan.

Di SDN 1 Losari, Kecamatan Tulakan, 13 ABK mesti belajar bersama anak normal lainnya. Sayangnya, tak satu pun guru pengampu di sekolah itu memiliki spesialisasi mengajar anak-anak tersebut. Padahal, belasan siswa autis, tunarungu, dan hiperaktif butuh pendampingan khusus. ‘’Ini sangat kami sayangkan. ABK harus mendapat perhatian lebih, tidak bisa disamakan begitu saja,’’ kata Ketua Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko, Senin (11/4).

Sejatinya, di sekolah negeri itu terdapat ruang yang dikhususkan bagi siswa ABK. Lantaran tak ada guru pengajar spesialis difabel, ruang tersebut dibiarkan kosong. Bila dimanfaatkan, fasilitas itu bakal mempermudah pendidikan bagi ABK di lingkup Desa Losari tersebut. ‘’Eman sekali, ada ruang bagus tapi dibiarkan kosong,’’ ujar politisi Demokrat tersebut.

Baca Juga :  Puluhan Formasi CPPPK Dipastikan Kosong

Rudi berharap ada perhatian lebih bagi siswa ABK. Terlebih, mereka yang duduk di jenjang pendidikan sekolah dasar. Pihaknya menyarankan adanya kerja sama lintas sektoral antara dinas pendidikan (dindik) dan dinas sosial (dinsos) maupun sekolah luar biasa untuk menjajaki penambahan guru difabel. ‘’Jangan sampai persoalan ini justru membuat gaduh masyarakat sekitar sekolah,’’ ungkapnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Masalah dunia pendidikan seakan tiada habisnya. Tak hanya ancaman anak putus sekolah, namun kelayakan pendidikan bagi anak kebutuhan khusus (ABK) juga mendesak diperhatikan.

Di SDN 1 Losari, Kecamatan Tulakan, 13 ABK mesti belajar bersama anak normal lainnya. Sayangnya, tak satu pun guru pengampu di sekolah itu memiliki spesialisasi mengajar anak-anak tersebut. Padahal, belasan siswa autis, tunarungu, dan hiperaktif butuh pendampingan khusus. ‘’Ini sangat kami sayangkan. ABK harus mendapat perhatian lebih, tidak bisa disamakan begitu saja,’’ kata Ketua Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko, Senin (11/4).

Sejatinya, di sekolah negeri itu terdapat ruang yang dikhususkan bagi siswa ABK. Lantaran tak ada guru pengajar spesialis difabel, ruang tersebut dibiarkan kosong. Bila dimanfaatkan, fasilitas itu bakal mempermudah pendidikan bagi ABK di lingkup Desa Losari tersebut. ‘’Eman sekali, ada ruang bagus tapi dibiarkan kosong,’’ ujar politisi Demokrat tersebut.

Baca Juga :  Pasien Hepatitis A Overload, Dua Puskesmas Dipinjami Velbed BPBD dan Dinsos

Rudi berharap ada perhatian lebih bagi siswa ABK. Terlebih, mereka yang duduk di jenjang pendidikan sekolah dasar. Pihaknya menyarankan adanya kerja sama lintas sektoral antara dinas pendidikan (dindik) dan dinas sosial (dinsos) maupun sekolah luar biasa untuk menjajaki penambahan guru difabel. ‘’Jangan sampai persoalan ini justru membuat gaduh masyarakat sekitar sekolah,’’ ungkapnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/