alexametrics
23.7 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

50 Warga Pacitan Terserang Cikungunya

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Meski korona berangsur mereda, jangan kendurkan waspada. Musim penghujan ini menjadi momen sempurna bagi kembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Plt Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengatakan, serangan nyamuk ganas itu mulai terdata. Saban pekannya selalu ada laporan warga yang terserang penyakit gejala ruam kemerahan itu. Meski kasusnya masih dapat dihitung jari, jika tak diantisipasi dengan benar, maka berpotensi meledak di kemudian hari. Terulang seperti tahun-tahun sebelumnya. ‘’Bulan lalu ada 50 warga yang terserang cikungunya, dua DBD (demam berdarah dengue, Red),” ujarnya, Kamis (11/11).

Meski sejauh ini tingkat fatality-nya rendah, Hendra berharap masyarakat tak menyepelekan kasus gigitan nyamuk belang itu. Terlebih, gejalanya biasa disertai demam ringan pada tiga hari pertama. Fase tersebut menjadi kondisi riskan, mengingat gejala selanjutnya mengakibatkan seperti tak bergejala. Seolah-olah tubuh sehat padahal masih terjangkit. ‘’Kalau terlambat penanganannya, bisa mematikan. Beberapa kasus meninggal dunia karena terlambat dibawa ke rumah sakit,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pariwisata Pacitan Buka, Bupati Aji: Obati Kerinduan Wisatawan

Hendra berharap ada gerakan pemberantasan nyamuk dari penanggung jawab wilayah masing-masing. Tak sekadar sosialisasi, reward dan punishment perlu diberikan. Seperti pemberian hadiah pada penemu jentik hingga sanksi bagi warga yang tidak melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN) di rumahnya masing-masing. Langkah itu dapat memberi edukasi yang baik. ”Jika satu rumah tidak bebas jentik atau tak peduli PSN, berbahaya bagi lingkungannya,’’ pungkas Hendra. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Meski korona berangsur mereda, jangan kendurkan waspada. Musim penghujan ini menjadi momen sempurna bagi kembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Plt Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengatakan, serangan nyamuk ganas itu mulai terdata. Saban pekannya selalu ada laporan warga yang terserang penyakit gejala ruam kemerahan itu. Meski kasusnya masih dapat dihitung jari, jika tak diantisipasi dengan benar, maka berpotensi meledak di kemudian hari. Terulang seperti tahun-tahun sebelumnya. ‘’Bulan lalu ada 50 warga yang terserang cikungunya, dua DBD (demam berdarah dengue, Red),” ujarnya, Kamis (11/11).

Meski sejauh ini tingkat fatality-nya rendah, Hendra berharap masyarakat tak menyepelekan kasus gigitan nyamuk belang itu. Terlebih, gejalanya biasa disertai demam ringan pada tiga hari pertama. Fase tersebut menjadi kondisi riskan, mengingat gejala selanjutnya mengakibatkan seperti tak bergejala. Seolah-olah tubuh sehat padahal masih terjangkit. ‘’Kalau terlambat penanganannya, bisa mematikan. Beberapa kasus meninggal dunia karena terlambat dibawa ke rumah sakit,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Dampak Kekeringan, Padi Dipanen untuk Pakan Ternak

Hendra berharap ada gerakan pemberantasan nyamuk dari penanggung jawab wilayah masing-masing. Tak sekadar sosialisasi, reward dan punishment perlu diberikan. Seperti pemberian hadiah pada penemu jentik hingga sanksi bagi warga yang tidak melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN) di rumahnya masing-masing. Langkah itu dapat memberi edukasi yang baik. ”Jika satu rumah tidak bebas jentik atau tak peduli PSN, berbahaya bagi lingkungannya,’’ pungkas Hendra. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/