alexametrics
28.3 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Satu-satunya Perempuan di Tim Damkar Satpol PP Pacitan

Perannya dalam tim pemadam kebakaran (damkar) tak bisa dipandang sebelah mata. Mendokumentasi, bukan berarti luput dari bahaya. Dia juga punya tanggung jawab meladeni personel ujung tombak yang tengah berjibaku menjinakkan api.

======================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

TUMPUKAN limbah kayu di Desa Gembong, Arjosari, terbakar siang itu. Sirine mobil damkar meraung-raung. Kendaraan kelir merah-putih tersebut menerobos kerumuman warga. Air disemprotkan lebih dulu ke pohon dan gelondongan kayu di sekitar titik api. Seketika asap mengepul setelah semprotan mengarah ke kobaran. ‘’Bongkar dulu tumpukan kayunya,’’ aba-aba dari salah seorang personel.

Para personel mulai letih. Panas api plus terik matahari membuat wajah mereka berkeringat. Seorang perempuan berseragam mendekat ke dua pria pemegang slang damkar. Dia lantas menyodorkan sebotol teh dingin tepat di depan mulut rekan satu timnya itu. ‘’Pasti kehausan mereka,’’ katanya serampung memberi minum semua personel.

Adalah Dini Puspitasari. Satu-satunya perempuan di Damkar Satpol PP Pacitan. Dini jadi anggota tim berjargon ”pantang pulang sebelum padam” itu sejak awal 2019 lalu. Urusan administrasi, dokumentasi, dan pernik lain di tempat kejadian perkara (TKP) jadi tanggung jawabnya. Kendati belum lama, berbagai pengalaman sarat bahaya sudah dialami. ‘’Pertama kali tugas malah bukan kebakaran, tapi mobil tangki BBM terguling,’’ ungkap Dini.

Februari lalu, truk tangki BBM terguling di Jalan Pacitan-Solo, Desa Dadapan, Pringkuku, Pacitan. BBM tumpah di lokasi kejadian. Penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran sembari menunggu evakuasi. Dini harus berjaga bersama personel lain. Mulai pukul 14.00 sampai 21.00. Campur aduk. Senang dengan tugas perdana dan khawatir jika terjadi ledakan. ‘’Semalam di sana (TKP, Red), ke rumah warga cuma pas mau ke kamar kecil,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dua Pekan, Terbit 2.800 Surat Tilang

Satu pengalaman baru didapatkan gadis 20 tahun ini. Insiden bersandi 65 bermunculan. Pada awal terjun ke lokasi kebakaran rumah, Dini gugup dan gemetar. Rasa takut kian menjadi saat pimpinan memintanya ambil dokumentasi jarak dekat. Meski demikian, hanya kata ”siap” yang bisa diucapkan. ‘’Ya tanggung jawab gitu saja  yang membuat saya berani,’’ ucap warga Dusun Suruhan, Desa Sirnoboyo, Pacitan, itu.

Masuk ruang tamu, jantung Dini mau copot. Dia langsung disambut genting jatuh persis di depannya. Menuju dapur, titik sumber kebakaran, menerobos kepulan asap. Sambil menahan pedih di mata, ruang yang sudah jadi arang dijepret dengan kamera. Pikiran macam-macam di kepala Dini segera buyar serampung bertugas. ‘’Dari situ saya dapat pelajaran. Kalau perlengkapan keselamatan itu sangat penting,’’ tutur Dini. ‘’Pakai helm dan jaket tahan panas waktu itu,’’ imbuh bungsu dua bersaudara pasangan Sri Suwarni dan Budi Widodo itu.

Insiden demi insiden amuk si jago merah membentuk keberanian dan ketangguhan Dini. Tak hanya mendokumentasi, matanya juga harus tajam mengamati personel yang sedang melakukan pemadaman. Meski sekadar mengantarkan minuman, itu penting untuk keselamatan personel tim. ‘’Kadang ada yang lupa bawa helm atau masker. Karena saking paniknya langsung saya antarkan ke orangnya gitu saja,’’ terang Dini.

Sebelum jadi anggota damkar, dia termasuk suka bersolek. Sebisa mungkin, gadis yang bercita-cita jadi pramugari ini menjaga kulitnya agar tetap putih. Beberapa pekan awal masuk damkar, Dini selalu membawa tas berisi peranti make-up lengkap. Bedak sedikit luntur, langsung mencari kaca. ‘’Kalau sekarang buat apa ngelus-ngelus kulit, wong sehari-hari dengan abu,’’ ujarnya lantas terkekeh.*** (sat/c1)

Perannya dalam tim pemadam kebakaran (damkar) tak bisa dipandang sebelah mata. Mendokumentasi, bukan berarti luput dari bahaya. Dia juga punya tanggung jawab meladeni personel ujung tombak yang tengah berjibaku menjinakkan api.

======================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

TUMPUKAN limbah kayu di Desa Gembong, Arjosari, terbakar siang itu. Sirine mobil damkar meraung-raung. Kendaraan kelir merah-putih tersebut menerobos kerumuman warga. Air disemprotkan lebih dulu ke pohon dan gelondongan kayu di sekitar titik api. Seketika asap mengepul setelah semprotan mengarah ke kobaran. ‘’Bongkar dulu tumpukan kayunya,’’ aba-aba dari salah seorang personel.

Para personel mulai letih. Panas api plus terik matahari membuat wajah mereka berkeringat. Seorang perempuan berseragam mendekat ke dua pria pemegang slang damkar. Dia lantas menyodorkan sebotol teh dingin tepat di depan mulut rekan satu timnya itu. ‘’Pasti kehausan mereka,’’ katanya serampung memberi minum semua personel.

Adalah Dini Puspitasari. Satu-satunya perempuan di Damkar Satpol PP Pacitan. Dini jadi anggota tim berjargon ”pantang pulang sebelum padam” itu sejak awal 2019 lalu. Urusan administrasi, dokumentasi, dan pernik lain di tempat kejadian perkara (TKP) jadi tanggung jawabnya. Kendati belum lama, berbagai pengalaman sarat bahaya sudah dialami. ‘’Pertama kali tugas malah bukan kebakaran, tapi mobil tangki BBM terguling,’’ ungkap Dini.

Februari lalu, truk tangki BBM terguling di Jalan Pacitan-Solo, Desa Dadapan, Pringkuku, Pacitan. BBM tumpah di lokasi kejadian. Penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran sembari menunggu evakuasi. Dini harus berjaga bersama personel lain. Mulai pukul 14.00 sampai 21.00. Campur aduk. Senang dengan tugas perdana dan khawatir jika terjadi ledakan. ‘’Semalam di sana (TKP, Red), ke rumah warga cuma pas mau ke kamar kecil,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Manfaatkan Sisa Bahan Wayang Besar untuk Wayang Mini

Satu pengalaman baru didapatkan gadis 20 tahun ini. Insiden bersandi 65 bermunculan. Pada awal terjun ke lokasi kebakaran rumah, Dini gugup dan gemetar. Rasa takut kian menjadi saat pimpinan memintanya ambil dokumentasi jarak dekat. Meski demikian, hanya kata ”siap” yang bisa diucapkan. ‘’Ya tanggung jawab gitu saja  yang membuat saya berani,’’ ucap warga Dusun Suruhan, Desa Sirnoboyo, Pacitan, itu.

Masuk ruang tamu, jantung Dini mau copot. Dia langsung disambut genting jatuh persis di depannya. Menuju dapur, titik sumber kebakaran, menerobos kepulan asap. Sambil menahan pedih di mata, ruang yang sudah jadi arang dijepret dengan kamera. Pikiran macam-macam di kepala Dini segera buyar serampung bertugas. ‘’Dari situ saya dapat pelajaran. Kalau perlengkapan keselamatan itu sangat penting,’’ tutur Dini. ‘’Pakai helm dan jaket tahan panas waktu itu,’’ imbuh bungsu dua bersaudara pasangan Sri Suwarni dan Budi Widodo itu.

Insiden demi insiden amuk si jago merah membentuk keberanian dan ketangguhan Dini. Tak hanya mendokumentasi, matanya juga harus tajam mengamati personel yang sedang melakukan pemadaman. Meski sekadar mengantarkan minuman, itu penting untuk keselamatan personel tim. ‘’Kadang ada yang lupa bawa helm atau masker. Karena saking paniknya langsung saya antarkan ke orangnya gitu saja,’’ terang Dini.

Sebelum jadi anggota damkar, dia termasuk suka bersolek. Sebisa mungkin, gadis yang bercita-cita jadi pramugari ini menjaga kulitnya agar tetap putih. Beberapa pekan awal masuk damkar, Dini selalu membawa tas berisi peranti make-up lengkap. Bedak sedikit luntur, langsung mencari kaca. ‘’Kalau sekarang buat apa ngelus-ngelus kulit, wong sehari-hari dengan abu,’’ ujarnya lantas terkekeh.*** (sat/c1)

Artikel Sebelumnya14.500 Warga Madiun Jobless
Artikel Selanjutnya Awas, Ranitidin Picu Kanker

Most Read

Artikel Terbaru

/