alexametrics
27.8 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Beri Tempat Pedagang di Eks Lahan Sengketa Pasar Tulakan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Ibarat nasi telanjur bubur. Status kepemilikan lahan di depan Pasar Tulakan tak bisa diganggu gugat lagi. Empat kali kalah perebutan lahan seluas 1.225 meter persegi, kini pemkab harus menyewa lahan milik keluarga J. Tasman tersebut. Demi memfasilitasi tempat berjualan bagi 60 pedagang yang terdampak eksekusi. ‘’Kalau lahannya dijual, tentu kita ada niatan membeli,’’ kata Kabag Hukum Setkab Pacitan Deni Cahyantoro, Senin (14/6).

Kini, pemkab mengupayakan pinjam pakai lahan bekas sengketa tersebut. Sebagian kembali difungsikan sebagai pasar tradisional dengan status pinjam pakai. ‘’Sisi utara sudah pinjam pakai. Tinggal sisi selatan dari pihak keluarga pemilik masih rembukan. Semoga semuanya bisa dipinjam pakai,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Alesa Febi Nareswari, Tunarungu yang Laris Manis Jualan Dimsum

Meski sebagian lapak mulai ditempati pedagang, Deni belum tahu pasti anggaran sewanya. Sejauh ini tim ahli masih menakar besaran harga penawaran (appraisal). Langkah itu dipandang lebih transparan dari potensi markup anggaran. Lantaran pinjam pakai, diharapkan pedagang tak terburu-buru membangun lapak permanen di tempat tersebut. Menunggu kejelasan status pinjam lahan berakhir. Terlebih tak semua lapak digunakan saban hari untuk berdagang. (gen/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Ibarat nasi telanjur bubur. Status kepemilikan lahan di depan Pasar Tulakan tak bisa diganggu gugat lagi. Empat kali kalah perebutan lahan seluas 1.225 meter persegi, kini pemkab harus menyewa lahan milik keluarga J. Tasman tersebut. Demi memfasilitasi tempat berjualan bagi 60 pedagang yang terdampak eksekusi. ‘’Kalau lahannya dijual, tentu kita ada niatan membeli,’’ kata Kabag Hukum Setkab Pacitan Deni Cahyantoro, Senin (14/6).

Kini, pemkab mengupayakan pinjam pakai lahan bekas sengketa tersebut. Sebagian kembali difungsikan sebagai pasar tradisional dengan status pinjam pakai. ‘’Sisi utara sudah pinjam pakai. Tinggal sisi selatan dari pihak keluarga pemilik masih rembukan. Semoga semuanya bisa dipinjam pakai,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pandemi Cetak 1.769 Janda Baru di Ponorogo

Meski sebagian lapak mulai ditempati pedagang, Deni belum tahu pasti anggaran sewanya. Sejauh ini tim ahli masih menakar besaran harga penawaran (appraisal). Langkah itu dipandang lebih transparan dari potensi markup anggaran. Lantaran pinjam pakai, diharapkan pedagang tak terburu-buru membangun lapak permanen di tempat tersebut. Menunggu kejelasan status pinjam lahan berakhir. Terlebih tak semua lapak digunakan saban hari untuk berdagang. (gen/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/