alexametrics
23.8 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Warga Desa Sekar, Pacitan Lestarikan Tradisi Ceprotan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua kelompok warga berpakaian hitam-hitam berbaris rapi di lapangan Desa Sekar, Donorojo. Tak berselang lama, suara teriakan menggema menandai dimulainya ”perang”.

Kedua kelompok itu saling serang. Bukan menyerang antara satu sama lain. Melainkan melemparkan ratusan cengkir atau kelapa muda yang sebelumnya telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari hingga lunak. Cengkir yang diletakkan di sebuah keranjang bambu dilemparkan oleh kedua kelompok itu ke arah ingkung (ayam utuh dipanggang). Pelemparan terus dilakukan hingga ”amunisi” cengkir habis.

Itulah tradisi ceprotan yang rutin diselenggarakan warga desa setempat setiap Senin Kliwon di bulan Longkang (Selo pada kalender Jawa). ‘’Ini wujud syukur atas kemakmuran yang dianugerahkan Sang Pencipta bagi desa kami,’’ kata Kades Sekar Miswadi.

Baca Juga :  Gejala Cikungunya Mirip Korona

Kisah Dewi Sekartaji diyakini berperan penting dalam pembentukan Desa Sekar. Dahulu kala, ketika Pacitan masih berupa hutan belantara, datanglah pengembara tua bernama Ki Godek. Dialah yang membabat hutan dan membuka lahan untuk mendirikan peradaban di tlatah ini. Suatu ketika, Dewi Sekartaji ketika mencari kekasihnya Panji Asmorobangun kehausan dan meminta tolong kepada Ki Godek agar dicarikan air kelapa muda untuk diminum.

Setelah dicarikan kelapa, Dewi Sekartaji tidak menghabiskan seluruh airnya. Sebagian dituangkan ke tanah dan menjadi sumber yang melimpah. ‘’Tradisi ini mengajarkan kita bahwa dalam mencapai tujuan hidup seyogianya tolong-menolong dan selalu ingat dengan perjuangan teman,’’ tutur Miswadi. (hyo/c1/fin)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua kelompok warga berpakaian hitam-hitam berbaris rapi di lapangan Desa Sekar, Donorojo. Tak berselang lama, suara teriakan menggema menandai dimulainya ”perang”.

Kedua kelompok itu saling serang. Bukan menyerang antara satu sama lain. Melainkan melemparkan ratusan cengkir atau kelapa muda yang sebelumnya telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari hingga lunak. Cengkir yang diletakkan di sebuah keranjang bambu dilemparkan oleh kedua kelompok itu ke arah ingkung (ayam utuh dipanggang). Pelemparan terus dilakukan hingga ”amunisi” cengkir habis.

Itulah tradisi ceprotan yang rutin diselenggarakan warga desa setempat setiap Senin Kliwon di bulan Longkang (Selo pada kalender Jawa). ‘’Ini wujud syukur atas kemakmuran yang dianugerahkan Sang Pencipta bagi desa kami,’’ kata Kades Sekar Miswadi.

Baca Juga :  Pemkab Pacitan Maksimalkan Pengelolaan Tadah Hujan di Pegunungan

Kisah Dewi Sekartaji diyakini berperan penting dalam pembentukan Desa Sekar. Dahulu kala, ketika Pacitan masih berupa hutan belantara, datanglah pengembara tua bernama Ki Godek. Dialah yang membabat hutan dan membuka lahan untuk mendirikan peradaban di tlatah ini. Suatu ketika, Dewi Sekartaji ketika mencari kekasihnya Panji Asmorobangun kehausan dan meminta tolong kepada Ki Godek agar dicarikan air kelapa muda untuk diminum.

Setelah dicarikan kelapa, Dewi Sekartaji tidak menghabiskan seluruh airnya. Sebagian dituangkan ke tanah dan menjadi sumber yang melimpah. ‘’Tradisi ini mengajarkan kita bahwa dalam mencapai tujuan hidup seyogianya tolong-menolong dan selalu ingat dengan perjuangan teman,’’ tutur Miswadi. (hyo/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/