alexametrics
24.8 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Cerita Sigit Nugroho Menjadi Penyepuh Emas Selama Seperempat Abad

Sigit Nugroho punya keterampilan khusus. Dia bisa menyepuh perhiasan emas. Kemampuan seperti matri, nyuci, dan nyepuh itu didapatnya setelah menahun bekerja di sebuah toko emas.

========================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Radar Pacitan

SEBUAH rumah yang berada di salah satu gang di Jalan Sudirman Kamis (14/11) begitu ramai emak-emak. Mereka antre mengerubungi Sigit Nugroho, si empu rumah, yang sedang sibuk menyepuh perhiasan cincin emas.

Sementara, kaki kanan pria 46 tahun itu tak berhenti bergerak seperti orang menjahit. Dia menggenjot pompa untuk menjaga nyala api pemanas cairan penyepuh. Sejurus kemudian, dia meraih satu kabel lagi lantas dimasukkan ke cairan penyepuh dalam mangkuk. ‘’Yang ini air biasa (cairan dalam mangkuk, Red), dialiri listrik aliran plus. Kalau ini cairan emas (dalam wadah gelas menyerupai gelas laboratorium), listriknya minus,’’ terang Sigit. ‘’Tegangannya cuma tiga watt,’’ imbuhnya.

Sigit menjadi penyepuh emas sudah 25 tahun. Selama itu, ribuan perhiasan emas telah disepuhnya. Baik itu mematri (menambal bagian perhiasan yang rusak), nyepuh (membuat perhiasan menjadi lebih mengkilap), maupun sekadar mencuci. ‘’Yang paling sulit itu gelang model keroncong, kalau dipatri gampang pecah,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Perantau Enggan Pulang untuk Nyoblos

Menurutnya, proses pematrian bukan hanya menambal. Namun, butuh perhitungan lebih. Seperti harus dipastikan kadar karat emas tersebut. Semisal emas 42 karat, akan dipatri dengan yang 35 karat. Tujuannya, supaya tidak meleleh saat dipanasi. ‘’Kadar emas yang untuk matri harus di bawah kadar emas perhiasannya,’’ ujar warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan, itu.

Untuk jasa pencucian perhiasan, dia menggunakan biji buah lerak. Jenis biji buah tersebut bakal mengeluarkan busa alami dari getah yang dikandung sebagai pembersih perhiasan. ‘’Tiga hari sekali harus diganti ini (biji buah lerak, Red). Ambilnya harus ke Solo, di Pacitan tidak ada,’’ terang bapak empat anak tersebut.

Dia mengaku keterampilannya itu tidak datang begitu saja. Jauh sebelumnya, dia pernah bekerja selama tiga tahun di sebuah toko emas di Pacitan. Dari situ, dirinya mendapat ilmu menyepuh emas. ‘’Omzet paling banyak saat Lebaran. Kalau hari-hari biasa, sekitar 7–10 orang,’’ jelas suami Yeni Astuti itu. ****(her/c1)

Sigit Nugroho punya keterampilan khusus. Dia bisa menyepuh perhiasan emas. Kemampuan seperti matri, nyuci, dan nyepuh itu didapatnya setelah menahun bekerja di sebuah toko emas.

========================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Radar Pacitan

SEBUAH rumah yang berada di salah satu gang di Jalan Sudirman Kamis (14/11) begitu ramai emak-emak. Mereka antre mengerubungi Sigit Nugroho, si empu rumah, yang sedang sibuk menyepuh perhiasan cincin emas.

Sementara, kaki kanan pria 46 tahun itu tak berhenti bergerak seperti orang menjahit. Dia menggenjot pompa untuk menjaga nyala api pemanas cairan penyepuh. Sejurus kemudian, dia meraih satu kabel lagi lantas dimasukkan ke cairan penyepuh dalam mangkuk. ‘’Yang ini air biasa (cairan dalam mangkuk, Red), dialiri listrik aliran plus. Kalau ini cairan emas (dalam wadah gelas menyerupai gelas laboratorium), listriknya minus,’’ terang Sigit. ‘’Tegangannya cuma tiga watt,’’ imbuhnya.

Sigit menjadi penyepuh emas sudah 25 tahun. Selama itu, ribuan perhiasan emas telah disepuhnya. Baik itu mematri (menambal bagian perhiasan yang rusak), nyepuh (membuat perhiasan menjadi lebih mengkilap), maupun sekadar mencuci. ‘’Yang paling sulit itu gelang model keroncong, kalau dipatri gampang pecah,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Hilang Kendali, Pegawai Dispendukcapil Tewas Kecelakaan

Menurutnya, proses pematrian bukan hanya menambal. Namun, butuh perhitungan lebih. Seperti harus dipastikan kadar karat emas tersebut. Semisal emas 42 karat, akan dipatri dengan yang 35 karat. Tujuannya, supaya tidak meleleh saat dipanasi. ‘’Kadar emas yang untuk matri harus di bawah kadar emas perhiasannya,’’ ujar warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan, itu.

Untuk jasa pencucian perhiasan, dia menggunakan biji buah lerak. Jenis biji buah tersebut bakal mengeluarkan busa alami dari getah yang dikandung sebagai pembersih perhiasan. ‘’Tiga hari sekali harus diganti ini (biji buah lerak, Red). Ambilnya harus ke Solo, di Pacitan tidak ada,’’ terang bapak empat anak tersebut.

Dia mengaku keterampilannya itu tidak datang begitu saja. Jauh sebelumnya, dia pernah bekerja selama tiga tahun di sebuah toko emas di Pacitan. Dari situ, dirinya mendapat ilmu menyepuh emas. ‘’Omzet paling banyak saat Lebaran. Kalau hari-hari biasa, sekitar 7–10 orang,’’ jelas suami Yeni Astuti itu. ****(her/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/