alexametrics
30.1 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Gejala Cikungunya Mirip Korona

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Penanganan cikungunya dan demam berdarah dengue (DBD) tak semudah membalikkan telapak tangan. Di masa pandemi ini, keluhan penderita gigitan nyamuk itu serupa dengan gejala Covid-19. Mulai nyeri, muntah, hingga demam tinggi.

Plt Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengatakan, serangan nyamuk Aedes aegypti itu tak bisa dideteksi manual. Penderita gejala terkait wajib menjalani uji laboratorium. Karenanya, dari ratusan kejadian gigitan nyamuk di masyarakat, baru 120 yang masuk data OPD-nya. Merujuk data pasien yang mendatangi fasilitas kesehatan pemerintah. Warga yang memilih rawat mandiri di rumah, luput dari pantauan. ‘’Itu yang membuat kami kesulitan menentukan penanganan, karena sedikit yang berobat,’’ ujarnya, Rabu (15/12).

Baca Juga :  DPUPR Pacitan Kewalahan Angkut Material Banjir Batu di Karangrejo

Hendra menginstruksikan tiap bidan desa dan puskesmas aktif berkoordinasi dengan pemangku wilayahnya masing-masing. Agar pendataan jumlah pasien semakin valid sehingga penanganannya pun lebih jelas. ‘’Beberapa pasien karena nyeri sendi dan kesulitan bergerak, akhirnya berdiam diri di rumah saja,’’ ungkapnya.

Fenomena terbaru, mantan pasien korona memungkinkan mengalami nyeri sendi. Belakangan masyarakat menganggap gejala yang dirasakan disebabkan gigitan nyamuk. Karenanya perlu pembuktian secara medis. ‘’Kami harap masyarakat bersedia memeriksakan diri agar dapat dipastikan sakitnya apa,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Penanganan cikungunya dan demam berdarah dengue (DBD) tak semudah membalikkan telapak tangan. Di masa pandemi ini, keluhan penderita gigitan nyamuk itu serupa dengan gejala Covid-19. Mulai nyeri, muntah, hingga demam tinggi.

Plt Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengatakan, serangan nyamuk Aedes aegypti itu tak bisa dideteksi manual. Penderita gejala terkait wajib menjalani uji laboratorium. Karenanya, dari ratusan kejadian gigitan nyamuk di masyarakat, baru 120 yang masuk data OPD-nya. Merujuk data pasien yang mendatangi fasilitas kesehatan pemerintah. Warga yang memilih rawat mandiri di rumah, luput dari pantauan. ‘’Itu yang membuat kami kesulitan menentukan penanganan, karena sedikit yang berobat,’’ ujarnya, Rabu (15/12).

Baca Juga :  Libur Lebaran, Pemkab Pacitan Siapkan Ribuan Dosis Vaksin Sambut Wisatawan

Hendra menginstruksikan tiap bidan desa dan puskesmas aktif berkoordinasi dengan pemangku wilayahnya masing-masing. Agar pendataan jumlah pasien semakin valid sehingga penanganannya pun lebih jelas. ‘’Beberapa pasien karena nyeri sendi dan kesulitan bergerak, akhirnya berdiam diri di rumah saja,’’ ungkapnya.

Fenomena terbaru, mantan pasien korona memungkinkan mengalami nyeri sendi. Belakangan masyarakat menganggap gejala yang dirasakan disebabkan gigitan nyamuk. Karenanya perlu pembuktian secara medis. ‘’Kami harap masyarakat bersedia memeriksakan diri agar dapat dipastikan sakitnya apa,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/