alexametrics
23.5 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Begini Kondisi Sungai Grindulu Terkini

PACITAN, Jawa Pos Radar PacitanJaga terus kelestarian Sungai Grindulu. Pesan itu datang dari anak-anak Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo. Kawasan permukiman di Kecamataan Arjosari, daerah aliran sungai (DAS) Grindulu. ‘’Mumpung airnya kecil,’’ kata Danis Rahmad, 13, salah seorang anak dusun setempat yang saban hari mandi dan mencari ikan di Sungai Grindulu, Jumat (15/11).

Kemarau panjang kali ini jadi berkah bagi Danis dan sebayanya. Setiap sore mereka mencari ikan di Sungai Grindulu yang mengecil debit airnya. Setiap hari pula, mereka makan malam berlauk ikan hasil tangkapan sendiri. Berkumpul di salah satu rumah kemudian makan beramai-ramai. ‘’Sering dapat ikan wader, melem, dan udang. Kadang banyak, kadang sedikit,’’ ungkap siswa kelas VI SDN 02 Kedungbendo itu.

Danis dkk selalu pulang menenteng ikan. Kondisi Sungai Grindulu sekarang bisa dibilang masih aman dari pencemaran. Bahkan, bocah-bocah tersebut bisa menangkap ikan dengan tangan kosong. Istilah setempat digogoh alias tanpa peranti apa pun, seperti kail dan jala. Itu saking banyaknya ikan. Kondisi tersebut merupakan indikator tingkat kebersihan Sungai Grindulu. ‘’Sambil mandi sambil cari ikan. Tapi, kalau musim hujan tidak bisa,’’ ujar Danis.

Baca Juga :  Kegigihan Arif Beni Kurniawan Geluti Delivery Isoman

Danis dan teman-temannya senang bisa mencari ikan. Pun bisa mandi dan main air di Sungai Grindulu setiap hari. Namun demikian, lumayan sering tubuh mereka dihampiri sampah plastik yang hanyut saat mandi di “kolam renang” alami tersebut. ‘’Harusnya sampah itu dibakar, jangan dibuang ke sungai. Kalau banyak sampah, tidak ada ikan nanti,’’ ungkapnya.

Sebaliknya, pegiat lingkungan Pacitan Anita Bidaryati menyebut tingkat kebersihan Sungai Grindulu saat ini masuk kategori parah. Sampah plastik sampai popok bayi paling sering didapati di kolong-kolong jembatan. ‘’Sekitar tiga bulan lalu ada teman saya, mahasiswa dari UGM (Universitas Gadjah Mada Jogjakarta) meneliti muara Sungai Grindulu. Hasilnya, air tercemar berat,’’ ungkap tim leader Gayeng Resik Ayem (Guritan) Pacitan itu. (den/sat)

PACITAN, Jawa Pos Radar PacitanJaga terus kelestarian Sungai Grindulu. Pesan itu datang dari anak-anak Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo. Kawasan permukiman di Kecamataan Arjosari, daerah aliran sungai (DAS) Grindulu. ‘’Mumpung airnya kecil,’’ kata Danis Rahmad, 13, salah seorang anak dusun setempat yang saban hari mandi dan mencari ikan di Sungai Grindulu, Jumat (15/11).

Kemarau panjang kali ini jadi berkah bagi Danis dan sebayanya. Setiap sore mereka mencari ikan di Sungai Grindulu yang mengecil debit airnya. Setiap hari pula, mereka makan malam berlauk ikan hasil tangkapan sendiri. Berkumpul di salah satu rumah kemudian makan beramai-ramai. ‘’Sering dapat ikan wader, melem, dan udang. Kadang banyak, kadang sedikit,’’ ungkap siswa kelas VI SDN 02 Kedungbendo itu.

Danis dkk selalu pulang menenteng ikan. Kondisi Sungai Grindulu sekarang bisa dibilang masih aman dari pencemaran. Bahkan, bocah-bocah tersebut bisa menangkap ikan dengan tangan kosong. Istilah setempat digogoh alias tanpa peranti apa pun, seperti kail dan jala. Itu saking banyaknya ikan. Kondisi tersebut merupakan indikator tingkat kebersihan Sungai Grindulu. ‘’Sambil mandi sambil cari ikan. Tapi, kalau musim hujan tidak bisa,’’ ujar Danis.

Baca Juga :  Kegigihan Arif Beni Kurniawan Geluti Delivery Isoman

Danis dan teman-temannya senang bisa mencari ikan. Pun bisa mandi dan main air di Sungai Grindulu setiap hari. Namun demikian, lumayan sering tubuh mereka dihampiri sampah plastik yang hanyut saat mandi di “kolam renang” alami tersebut. ‘’Harusnya sampah itu dibakar, jangan dibuang ke sungai. Kalau banyak sampah, tidak ada ikan nanti,’’ ungkapnya.

Sebaliknya, pegiat lingkungan Pacitan Anita Bidaryati menyebut tingkat kebersihan Sungai Grindulu saat ini masuk kategori parah. Sampah plastik sampai popok bayi paling sering didapati di kolong-kolong jembatan. ‘’Sekitar tiga bulan lalu ada teman saya, mahasiswa dari UGM (Universitas Gadjah Mada Jogjakarta) meneliti muara Sungai Grindulu. Hasilnya, air tercemar berat,’’ ungkap tim leader Gayeng Resik Ayem (Guritan) Pacitan itu. (den/sat)

Artikel SebelumnyaBojonegoro Dekati Caruban
Artikel Selanjutnya Arimbi Vero

Most Read

Artikel Terbaru

/