alexametrics
23.6 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Ketua Dewan Kesenian Pacitan: Rutinkan Pentas Tiap Bulan Purnama

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dibukanya Lapangan Tumenggung Notopuro untuk umum disambut semringah kalangan seniman. Tak disangka, pergelaran reog yang semua dimaksudkan untuk memberi dukungan moril bagi Ponorogo itu berbuah manis. Seniman tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.

Ketua Dewan Kesenian Pacitan Khoirul Amin mengatakan, pandemi Covid-19 cukup membuat seniman tercekik. Selama dua tahun terakhir mereka tak leluasa pentas. Padahal, pertunjukan menjadi roh dari sebuah kesenian untuk menunjukkan eksistensinya. ‘’Kami sudah puasa dua tahun, tidak ada kegiatan seni budaya skala besar. Baik rontek, kethek ogleng, maupun reog,’’ ujarnya, Minggu (17/4).

Amin memandang dibukanya keran seni pertunjukan selayaknya oase di tengah gurun pasir. Tak hanya bagi pelaku seni, juga bagi masyarakat yang sudah sangat haus hiburan. Hal itu terlihat dari besarnya animo masyarakat saat menyaksikan pergelaran reog Rabu malam. ‘’Padahal persiapannya seadanya. Woro-woro-nya juga sekenanya lewat media sosial. Tapi, pengunjungnya sungguh luar biasa,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Hilang 23 Hari, Ditemukan Membusuk

Amin berencana menggelar event rutin di Lapangan Tumenggung Notopuro saban bulannya. Minimal dihelat setiap pertengahan bulan saat bulan purnama. Pertunjukan seni budaya itu diharapkan dapat lebih membuka kesadaran masyarakat. Sekaligus menggaet pelaku seni anyar di Pacitan. ‘’Nanti akan kami agendakan rutin setiap purnama. Gratis untuk umum,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dibukanya Lapangan Tumenggung Notopuro untuk umum disambut semringah kalangan seniman. Tak disangka, pergelaran reog yang semua dimaksudkan untuk memberi dukungan moril bagi Ponorogo itu berbuah manis. Seniman tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.

Ketua Dewan Kesenian Pacitan Khoirul Amin mengatakan, pandemi Covid-19 cukup membuat seniman tercekik. Selama dua tahun terakhir mereka tak leluasa pentas. Padahal, pertunjukan menjadi roh dari sebuah kesenian untuk menunjukkan eksistensinya. ‘’Kami sudah puasa dua tahun, tidak ada kegiatan seni budaya skala besar. Baik rontek, kethek ogleng, maupun reog,’’ ujarnya, Minggu (17/4).

Amin memandang dibukanya keran seni pertunjukan selayaknya oase di tengah gurun pasir. Tak hanya bagi pelaku seni, juga bagi masyarakat yang sudah sangat haus hiburan. Hal itu terlihat dari besarnya animo masyarakat saat menyaksikan pergelaran reog Rabu malam. ‘’Padahal persiapannya seadanya. Woro-woro-nya juga sekenanya lewat media sosial. Tapi, pengunjungnya sungguh luar biasa,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Rantai Distribusi Migor di Pacitan Terputus, Operasi Pasar Katrol Daya Beli

Amin berencana menggelar event rutin di Lapangan Tumenggung Notopuro saban bulannya. Minimal dihelat setiap pertengahan bulan saat bulan purnama. Pertunjukan seni budaya itu diharapkan dapat lebih membuka kesadaran masyarakat. Sekaligus menggaet pelaku seni anyar di Pacitan. ‘’Nanti akan kami agendakan rutin setiap purnama. Gratis untuk umum,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/