28.1 C
Madiun
Tuesday, March 21, 2023

Kirab Pusaka Kelilingi Pendapa

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Hari ini Pacitan genap 277 tahun. Berbagai persiapan telah dimatangkan untuk menyambut peringatan dua setengah abad lebih usia kabupaten di ujung barat daya Jatim itu.

Plt Kepala Disbudparpora Pacitan Eno Spith Mudumi memastikan seluruh perhelatan telah dipersiapkan maksimal. Geladi resik untuk berbagai kegiatan juga telah dilakukan. Mulai kirab sederhana dari halaman wingking (halking) pendapa hingga prosesi penyerahan pusaka tombak dan keris oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. ‘’Tahun ini lebih spesial karena ada beberapa susunan acara yang kami ubah,’’ ujarnya, Sabtu (19/2).

Meski dilangsungkan secara sederhana namun tetap bersahaja. Tradisi rucuh pace tak dilangsungkan di pendapa, melainkan di desa-desa. Pengurangan prosesi ini bukan bermaksud mengurangi kesakralan tradisi. ‘’Tidak kami hilangkan, maknanya tetap sama, hanya prosesinya kami sederhanakan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Ekonomi Pasar Minulyo Rebound, Dagangan Habis Duit Terkumpul

Pandemi Covid-19 belum berakhir. Karenanya, setiap kegiatan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Salah satunya dengan mencegah terjadinya kerumunan. ‘’Kami intens koordinasi dengan Satgas Covid-19,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Hari ini Pacitan genap 277 tahun. Berbagai persiapan telah dimatangkan untuk menyambut peringatan dua setengah abad lebih usia kabupaten di ujung barat daya Jatim itu.

Plt Kepala Disbudparpora Pacitan Eno Spith Mudumi memastikan seluruh perhelatan telah dipersiapkan maksimal. Geladi resik untuk berbagai kegiatan juga telah dilakukan. Mulai kirab sederhana dari halaman wingking (halking) pendapa hingga prosesi penyerahan pusaka tombak dan keris oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. ‘’Tahun ini lebih spesial karena ada beberapa susunan acara yang kami ubah,’’ ujarnya, Sabtu (19/2).

Meski dilangsungkan secara sederhana namun tetap bersahaja. Tradisi rucuh pace tak dilangsungkan di pendapa, melainkan di desa-desa. Pengurangan prosesi ini bukan bermaksud mengurangi kesakralan tradisi. ‘’Tidak kami hilangkan, maknanya tetap sama, hanya prosesinya kami sederhanakan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pacitan Waspada Antraks

Pandemi Covid-19 belum berakhir. Karenanya, setiap kegiatan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Salah satunya dengan mencegah terjadinya kerumunan. ‘’Kami intens koordinasi dengan Satgas Covid-19,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru