alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Modernisasi Pilkades Pacitan Butuh Kajian Matang

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Modernisasi proses demokrasi tak semudah membalikkan tangan. Demi menuju pemilihan kepala desa (pilkades) e-voting di tahun depan dibutuhkan persiapan panjang.

Sekda Pacitan Heru Wiwoho tak ingin kabupaten ini terburu-buru beralih model coblosan secara modern. Jika bakal diterapkan harus dipersiapkan secara matang. Setidaknya, menunjuk desa yang dijadikan pilot project. Juga, perlu studi banding ke daerah yang lebih dulu melaksanakan. ‘’Harus siap dulu. Gak mungkin kita paksa walaupun ada arah kesana (e-voting, Red),’’ tegasnya, Jumat (20/5).

Selain pendalaman, itung-itungan anggarannya mesti dikalkulasikan matang. Benarkah, pelaksanaan e-voting butuh biaya lebih murah ketimbang coblosan kertas?. Pelaksanaan e-voting juga memerlukan tenaga ahli meski pelaksanaannya di internal desa. ‘’Kalau jaringan mungkin gak perlu karena perhitungannya hanya skala satu desa. Beda dengan pemilihan satu kabupaten,’’ urainya.

Baca Juga :  Asyik Berjudi, Digerebek Polisi

Masyarakat juga perlu mendapatkan sosialisasi mendalam. Agar tak gagap saat mengikuti model pemilihan dengan sistem baru yang lebih modern. Faktor lain seperti kearifan lokal yang biasa melekat pada pemilu konvensional juga perlu dipertimbangkan. ‘’Sisi positif dan negatif pasti ada karena itu harus kita pertimbangkan sebaik mungkin,’’ pungkasnya. (gen/fin)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Modernisasi proses demokrasi tak semudah membalikkan tangan. Demi menuju pemilihan kepala desa (pilkades) e-voting di tahun depan dibutuhkan persiapan panjang.

Sekda Pacitan Heru Wiwoho tak ingin kabupaten ini terburu-buru beralih model coblosan secara modern. Jika bakal diterapkan harus dipersiapkan secara matang. Setidaknya, menunjuk desa yang dijadikan pilot project. Juga, perlu studi banding ke daerah yang lebih dulu melaksanakan. ‘’Harus siap dulu. Gak mungkin kita paksa walaupun ada arah kesana (e-voting, Red),’’ tegasnya, Jumat (20/5).

Selain pendalaman, itung-itungan anggarannya mesti dikalkulasikan matang. Benarkah, pelaksanaan e-voting butuh biaya lebih murah ketimbang coblosan kertas?. Pelaksanaan e-voting juga memerlukan tenaga ahli meski pelaksanaannya di internal desa. ‘’Kalau jaringan mungkin gak perlu karena perhitungannya hanya skala satu desa. Beda dengan pemilihan satu kabupaten,’’ urainya.

Baca Juga :  Pacitan Hujan Lebat, Arjowinangun Tergenang

Masyarakat juga perlu mendapatkan sosialisasi mendalam. Agar tak gagap saat mengikuti model pemilihan dengan sistem baru yang lebih modern. Faktor lain seperti kearifan lokal yang biasa melekat pada pemilu konvensional juga perlu dipertimbangkan. ‘’Sisi positif dan negatif pasti ada karena itu harus kita pertimbangkan sebaik mungkin,’’ pungkasnya. (gen/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/