alexametrics
28.4 C
Madiun
Wednesday, June 29, 2022

Kapal Arka Kinari Berlabuh di Dermaga Tamperan Pacitan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Berlayar dari Rotterdam, Agustus 2019, Arka Kinari melewati berbagai negara sebelum tiba di Indonesia. Setelah mengitari Terusan Suez, kapal berawak tujuh orang itu menyusuri tepian benua Amerika, Samudra Pasifik, hingga masuk perairan Indonesia pada 2020.

Perjalanan Nova Ruth dan Grey Filastine, pemilik kapal yang semestinya sembilan bulan, molor hingga setahun terdampak pandemi Covid-19. Di sepanjang perjalanan, mereka mengenalkan basic skill perkapalan, workshop seputar lingkungan dan perubahan iklim, hingga menggelar konser musik di atas kapal.

………..

LAYAR Arka Kinari dibentangkan. Tali-tali ditarik untuk mengerek kain-kain putih yang terbentang itu. Lambung kapal berwarna kuning tersebut cukup memantik perhatian nelayan kala berlabuh sepekan di Pelabuhan Tamperan. ‘’Kami lebih menitikberatkan pada kabar tentang perubahan iklim. Bagaimana kita harus bersikap dan bersiap dalam kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah pesisir,’’ kata Nova, pemilik kapal.

Baca Juga :  Gudang Farmasi Milik Dinkes Pacitan Kurang Memadai

Kapal sepanjang 18 meter itu ditopang dua tiang utama dan enam layar. Usianya tak lagi muda, dibuat selang dua tahun setelah perang dunia kedua berakhir 1947 silam di Rostock, Jerman. Kapal berkabin luas itu dulunya dijuluki Neptune I. Sempat berganti nama menjadi Mariosa dan dijadikan kapal penangkap ikan pada 2019 silam.

Kapal delapan ruangan itu kini diberi nama Arka Kinari. ‘’Nama ini diambilkan dari dua bahasa, yaitu Arka (Latin) yang berarti menahan atau mempertahankan dan Kinari (Sansekerta) yang berarti musisi penjaga kehidupan,’’ ungkap Nova saat di Pelabuhan Tamperan lalu.

Bertolak dari Pacitan, Arka Kinari bakal melanjutkan perjalanannya menyusuri jalur rempah Indonesia. Menuju Kepulauan Seribu Jakarta, Cirebon, Semarang, Karimun Jawa, Lasem, Bawean, Gresik, Talaut di Sulawesi Utara, Manado, dan berakhir di Bali sebelum kembali ke Belanda. (gen/c1/fin)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Berlayar dari Rotterdam, Agustus 2019, Arka Kinari melewati berbagai negara sebelum tiba di Indonesia. Setelah mengitari Terusan Suez, kapal berawak tujuh orang itu menyusuri tepian benua Amerika, Samudra Pasifik, hingga masuk perairan Indonesia pada 2020.

Perjalanan Nova Ruth dan Grey Filastine, pemilik kapal yang semestinya sembilan bulan, molor hingga setahun terdampak pandemi Covid-19. Di sepanjang perjalanan, mereka mengenalkan basic skill perkapalan, workshop seputar lingkungan dan perubahan iklim, hingga menggelar konser musik di atas kapal.

………..

LAYAR Arka Kinari dibentangkan. Tali-tali ditarik untuk mengerek kain-kain putih yang terbentang itu. Lambung kapal berwarna kuning tersebut cukup memantik perhatian nelayan kala berlabuh sepekan di Pelabuhan Tamperan. ‘’Kami lebih menitikberatkan pada kabar tentang perubahan iklim. Bagaimana kita harus bersikap dan bersiap dalam kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah pesisir,’’ kata Nova, pemilik kapal.

Baca Juga :  Peserta Pemilu Ogah Bayar Pajak APK

Kapal sepanjang 18 meter itu ditopang dua tiang utama dan enam layar. Usianya tak lagi muda, dibuat selang dua tahun setelah perang dunia kedua berakhir 1947 silam di Rostock, Jerman. Kapal berkabin luas itu dulunya dijuluki Neptune I. Sempat berganti nama menjadi Mariosa dan dijadikan kapal penangkap ikan pada 2019 silam.

Kapal delapan ruangan itu kini diberi nama Arka Kinari. ‘’Nama ini diambilkan dari dua bahasa, yaitu Arka (Latin) yang berarti menahan atau mempertahankan dan Kinari (Sansekerta) yang berarti musisi penjaga kehidupan,’’ ungkap Nova saat di Pelabuhan Tamperan lalu.

Bertolak dari Pacitan, Arka Kinari bakal melanjutkan perjalanannya menyusuri jalur rempah Indonesia. Menuju Kepulauan Seribu Jakarta, Cirebon, Semarang, Karimun Jawa, Lasem, Bawean, Gresik, Talaut di Sulawesi Utara, Manado, dan berakhir di Bali sebelum kembali ke Belanda. (gen/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/