alexametrics
25.2 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Salini Rengganis, 14 Tahun Berkebaya Taklukkan Ganasnya Ombak Lautan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Bukan gimmick, bukan pula sok cantik. Emansipasi yang diajarkan RA Kartini mendarah daging di benak Salini Rengganis Iedewa. Peselancar kebanggaan Pacitan itu tak canggung berkebaya saat mengarungi ganasnya ombak samudra di Pantai Srau, Selasa (20/4).

Saking cintanya kepada pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi perempuan itu, dara 23 tahun ini rutin berkebaya saat berselancar di Hari Kartini. Bukan sekali ini, tapi sudah dilakoninya sejak 2007 silam. ‘’Selalu berkebaya saban 21 April. Saya ingin menunjukkan bahwa pakaian tradisional bukan penghalang perempuan untuk mengejar mimpi,’’ katanya.

Memang bukan penghalang, tapi bukan perkara gampang ketika berselancar mengenakan jarit, kemban, dan selendang. Salini mengakui kain jarit terasa berat setelah terbasahi air laut. Jika tak piawai menjaga keseimbangan di atas gelombang, bakal tergelincir dari papan seluncur. ‘’Surfing kan idealnya memang pakai baju renang yang tipis agar mudah gerak. Jadi, ini kebalikannya,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pasien Positif Covid-19 di Pacitan Bertambah, Pak In Minta Maaf

Kebiasaan yang rutin dilakoni 14 tahun terakhir itu cukup menginspirasi. Selalu ada yang ikut serta berkebaya seperti Salini di setiap Hari Kartini. Tentu saja aksi itu memberi energi positif bagi perempuan di era emansipasi ini. ‘’Teman-teman juga ikut mengenakan kebaya,’’ tuturnya. (gen/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Bukan gimmick, bukan pula sok cantik. Emansipasi yang diajarkan RA Kartini mendarah daging di benak Salini Rengganis Iedewa. Peselancar kebanggaan Pacitan itu tak canggung berkebaya saat mengarungi ganasnya ombak samudra di Pantai Srau, Selasa (20/4).

Saking cintanya kepada pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi perempuan itu, dara 23 tahun ini rutin berkebaya saat berselancar di Hari Kartini. Bukan sekali ini, tapi sudah dilakoninya sejak 2007 silam. ‘’Selalu berkebaya saban 21 April. Saya ingin menunjukkan bahwa pakaian tradisional bukan penghalang perempuan untuk mengejar mimpi,’’ katanya.

Memang bukan penghalang, tapi bukan perkara gampang ketika berselancar mengenakan jarit, kemban, dan selendang. Salini mengakui kain jarit terasa berat setelah terbasahi air laut. Jika tak piawai menjaga keseimbangan di atas gelombang, bakal tergelincir dari papan seluncur. ‘’Surfing kan idealnya memang pakai baju renang yang tipis agar mudah gerak. Jadi, ini kebalikannya,’’ terangnya.

Baca Juga :  Dindik Upayakan Rehabilitasi SDN Ngadirejan Tahun Depan

Kebiasaan yang rutin dilakoni 14 tahun terakhir itu cukup menginspirasi. Selalu ada yang ikut serta berkebaya seperti Salini di setiap Hari Kartini. Tentu saja aksi itu memberi energi positif bagi perempuan di era emansipasi ini. ‘’Teman-teman juga ikut mengenakan kebaya,’’ tuturnya. (gen/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/