alexametrics
28.9 C
Madiun
Friday, July 1, 2022

Penangkapan Benur Ilegal Sama dengan Peredaran Narkoba

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Angin revisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) 56/2016 terkait legalitas penangkapan dan ekspor benih lobster (benur) berembus hingga Pacitan. Terlebih, potensi udang jumbo tersebut di perairan Pacitan melimpah.

Pun beberapa tahun terakhir acap dijadikan lokasi pelepasan benur hasil sitaan pihak berwajib. ‘’Kami berharap ada kajian dulu. Terutama plus minusnya,’’ kata Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dinas Kelautan Pemprov Jatim Wilayah Pacitan Ninik Setyorini Jumat (20/12).

Ninik mengungkapkan, meski acap disidak, nelayan yang nekat menangkap benur tak kunjung berhenti. Sekali tangkap jumlah benur mencapai ribuan ekor. Pihaknya khawatir, jika dilegalkan nelayan yang menangkap benur kian banyak. Dampaknya, merusak ekosistem laut. ‘’Kadang saya masih melihat ada lampu menyala di tengah laut saat malam hari. Itu tandanya sedang ada penangkapan benur ilegal. Sangat disayangkan,’’ sesalnya.

Ninik menyebut, penangkapan benur secara ilegal tak jauh beda dengan peredaran narkoba. Ada bandar penyokong pelak dan peralatan nelayan untuk beroperasi yang harganya lumayan mahal. Sehingga, jika dilegalkan dan eksploitasi, keuntungkan bakal mengalir ke para bandar. ‘’Nelayan belum tentu mendapat untung, karena mereka difasilitasi orang ketiga,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Bersama Menko Airlangga Groundbreaking Smelter Freeport di Gresik

Pihaknya juga khawatir legalitas bakal meningkatkan jumlah pelak yang disebar. Dampaknya bakal mengganggu jalur pelayaran para nelayan lain. Sebab, pemasangan alat tersebut sejajar dengan jalur nelayan mencari ikan. ‘’Kalau dilegalkan dan tidak ada penataan tempat mencari benur, bisa memunculkan konflik sosial,’’ beber Ninik.

Menurut dia, harga benur memang menggiurkan. Selain penangkapannya mudah, satu ekor benur sebesar biji beras dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Padahal, sekali angkat, satu pelak bisa menangkap ribuan benur. Suhu perairan laut di Pacitan yang hangat dengan banyak karang membuat lobster mudah ditemukan. ‘’Bayangkan jika ini terus terjadi. Bagaimana kelangsungan lobster di Pacitan?’’ tanyanya.

Pihaknya tak sepenuhnya kontra dengan wacana revisi permen tersebut. Khususnya, legalitas budi daya benur. Sehingga, jika ditangkarkan, para nelayan bakal menikmati keuntungan. ‘’Kalau membuat benih itu sulit, tapi kalau benur itu dibudidayakan dan dijual besar saya rasa lebih bagus. Bisa jadi mata pencarian baru,’’ pungkasnya. (gen/c1/sat)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Angin revisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) 56/2016 terkait legalitas penangkapan dan ekspor benih lobster (benur) berembus hingga Pacitan. Terlebih, potensi udang jumbo tersebut di perairan Pacitan melimpah.

Pun beberapa tahun terakhir acap dijadikan lokasi pelepasan benur hasil sitaan pihak berwajib. ‘’Kami berharap ada kajian dulu. Terutama plus minusnya,’’ kata Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dinas Kelautan Pemprov Jatim Wilayah Pacitan Ninik Setyorini Jumat (20/12).

Ninik mengungkapkan, meski acap disidak, nelayan yang nekat menangkap benur tak kunjung berhenti. Sekali tangkap jumlah benur mencapai ribuan ekor. Pihaknya khawatir, jika dilegalkan nelayan yang menangkap benur kian banyak. Dampaknya, merusak ekosistem laut. ‘’Kadang saya masih melihat ada lampu menyala di tengah laut saat malam hari. Itu tandanya sedang ada penangkapan benur ilegal. Sangat disayangkan,’’ sesalnya.

Ninik menyebut, penangkapan benur secara ilegal tak jauh beda dengan peredaran narkoba. Ada bandar penyokong pelak dan peralatan nelayan untuk beroperasi yang harganya lumayan mahal. Sehingga, jika dilegalkan dan eksploitasi, keuntungkan bakal mengalir ke para bandar. ‘’Nelayan belum tentu mendapat untung, karena mereka difasilitasi orang ketiga,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Allah Maha Pengampun, Covid Tiada Ampun

Pihaknya juga khawatir legalitas bakal meningkatkan jumlah pelak yang disebar. Dampaknya bakal mengganggu jalur pelayaran para nelayan lain. Sebab, pemasangan alat tersebut sejajar dengan jalur nelayan mencari ikan. ‘’Kalau dilegalkan dan tidak ada penataan tempat mencari benur, bisa memunculkan konflik sosial,’’ beber Ninik.

Menurut dia, harga benur memang menggiurkan. Selain penangkapannya mudah, satu ekor benur sebesar biji beras dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Padahal, sekali angkat, satu pelak bisa menangkap ribuan benur. Suhu perairan laut di Pacitan yang hangat dengan banyak karang membuat lobster mudah ditemukan. ‘’Bayangkan jika ini terus terjadi. Bagaimana kelangsungan lobster di Pacitan?’’ tanyanya.

Pihaknya tak sepenuhnya kontra dengan wacana revisi permen tersebut. Khususnya, legalitas budi daya benur. Sehingga, jika ditangkarkan, para nelayan bakal menikmati keuntungan. ‘’Kalau membuat benih itu sulit, tapi kalau benur itu dibudidayakan dan dijual besar saya rasa lebih bagus. Bisa jadi mata pencarian baru,’’ pungkasnya. (gen/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/