alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Stok Berkurang, Harga Ikan Melambung

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan nelayan. Di tengah mahalnya modal melaut, cuaca buruk yang mulai melanda laut selatan Jawa turut berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Sumber pasokan yang merosot tajam membuat harga ikan melambung.

Supeni, pedagang ikan di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa harga ikan belakangan mulai melonjak. Merata di semua jenis ikan. Kenaikannya berkisar Rp 5.000-Rp 10.000 saban kilonya. Banyar kembung biasanya dijual Rp 22 ribu, kini dibanderol hingga Rp 28 ribu. Keting semula Rp 20 ribu melonjak hingga Rp 25 ribu. ‘’Jenis lain seperti tongkol hingga tuna juga naik harga karena memang sulit nyarinya,’’ ujarnya, Kamis (22/9).

Peningkatan harga ikan, lanjut Supeni, berbanding terbalik dengan permintaan pasar. Situasi ini membuat pembeli ogah-ogahan untuk membeli ikan. Atau, membatasi jumlah pembelian. Akhirnya, pedagang tak berani ambil stok banyak. ‘’Sehari laku 10 kilo sudah bagus. Kalau nyetok banyak dan nggak laku, takutnya busuk,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Lepas Kelola Objek Wisata, Disparpora Pacitan Optimistis PAD Tak Terpengaruh

Boyati, pedagang ikan lainnya, menambahkan bahwa jenis ikan tertentu yang selama ini menjadi primadona juga kehilangan pamornya. Memang, stok ikan dapat dibekukan. Namun, itu dapat mengurangi kesegaran dan kelezatan rasanya. ‘’Kiriman dari nelayan juga berkurang. Biasanya dua hingga tiga kuintal, sekarang tinggal 40 kilograman. Itu pun jenis ikan yang dapat ditangkap di teluk saja,’’ terangnya.

Boyati mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini saban tahunnya. Dia hafal, jelang awal tahun pendapatannya pasti berkurang. Dia pun tidak menyalahkan keadaan lantaran bisnis yang digeluti cukup bergantung dengan kondisi alam. Biasanya, situasi kembali berangsur normal saat memasuki Maret. Saat itu, nelayan berani kembali ke laut lepas. ‘’Karena yang dihadapi alam, ya mau bagaimana lagi. Semoga cuaca lekas normal,’’ tuturnya. (Tyara Nur Fadilla-PKL PNM/gen/c1/fin)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan nelayan. Di tengah mahalnya modal melaut, cuaca buruk yang mulai melanda laut selatan Jawa turut berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Sumber pasokan yang merosot tajam membuat harga ikan melambung.

Supeni, pedagang ikan di Pasar Arjowinangun, mengatakan bahwa harga ikan belakangan mulai melonjak. Merata di semua jenis ikan. Kenaikannya berkisar Rp 5.000-Rp 10.000 saban kilonya. Banyar kembung biasanya dijual Rp 22 ribu, kini dibanderol hingga Rp 28 ribu. Keting semula Rp 20 ribu melonjak hingga Rp 25 ribu. ‘’Jenis lain seperti tongkol hingga tuna juga naik harga karena memang sulit nyarinya,’’ ujarnya, Kamis (22/9).

Peningkatan harga ikan, lanjut Supeni, berbanding terbalik dengan permintaan pasar. Situasi ini membuat pembeli ogah-ogahan untuk membeli ikan. Atau, membatasi jumlah pembelian. Akhirnya, pedagang tak berani ambil stok banyak. ‘’Sehari laku 10 kilo sudah bagus. Kalau nyetok banyak dan nggak laku, takutnya busuk,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kerajian Tripleks Karya Budi Santoso Jadi Bahan Pembelajaran

Boyati, pedagang ikan lainnya, menambahkan bahwa jenis ikan tertentu yang selama ini menjadi primadona juga kehilangan pamornya. Memang, stok ikan dapat dibekukan. Namun, itu dapat mengurangi kesegaran dan kelezatan rasanya. ‘’Kiriman dari nelayan juga berkurang. Biasanya dua hingga tiga kuintal, sekarang tinggal 40 kilograman. Itu pun jenis ikan yang dapat ditangkap di teluk saja,’’ terangnya.

Boyati mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini saban tahunnya. Dia hafal, jelang awal tahun pendapatannya pasti berkurang. Dia pun tidak menyalahkan keadaan lantaran bisnis yang digeluti cukup bergantung dengan kondisi alam. Biasanya, situasi kembali berangsur normal saat memasuki Maret. Saat itu, nelayan berani kembali ke laut lepas. ‘’Karena yang dihadapi alam, ya mau bagaimana lagi. Semoga cuaca lekas normal,’’ tuturnya. (Tyara Nur Fadilla-PKL PNM/gen/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/