alexametrics
29.7 C
Madiun
Thursday, January 20, 2022

27 Tahun Gunung Parangan di Pacitan Muntahkan Batu

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Banjir batu di perbatasan Karangrejo-Karanggede, Arjosari, diprediksi tak akan pernah berakhir. Seiring Gunung Parangan di Wonogiri, Jawa Tengah, terus memuntahkan material bebatuannya. Siklus banjir batu itu tercatat berlangsung sejak 1994 silam.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Widodo mengatakan, kontur tanah dan hutan di Gunung Parangan labil. Sumber guguran material itu hanya berjarak lima kilometer dari titik perbatasan desa setempat. Selain gundul, kemiringan lahannya lebih dari 45 derajat. Alhasil, tiap hujan mengguyur deras, tanahnya ambles. ‘’Semakin deras hujannya, semakin banyak material hanyut terbawa,’’ ujarnya, Senin (22/11).

Didik sempat meninjau langsung muara bencana di kabupaten tetangga provinsi itu. Setelah mengamatinya dari dekat, dia pun menyimpulkan bahwa kondisinya sulit dicarikan solusi. ‘’Sabo dam juga sudah penuh. Dikeruk pun kalau sudah penuh lagi pasti akan tergelincir turun batunya,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Tambang di Ngadirojo Mengandung Emas

Meski tak mengancam langsung permukiman, Didik meminta masyarakat berhati-hati. Utamanya saat hujan kembali mengguyur di seputaran Gunung Parangan. Antisipasi adanya guguran bebatuan yang sebagian teksturnya tajam tersebut. ‘’Saat penghujan kami minta lebih waspada,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Banjir batu di perbatasan Karangrejo-Karanggede, Arjosari, diprediksi tak akan pernah berakhir. Seiring Gunung Parangan di Wonogiri, Jawa Tengah, terus memuntahkan material bebatuannya. Siklus banjir batu itu tercatat berlangsung sejak 1994 silam.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Widodo mengatakan, kontur tanah dan hutan di Gunung Parangan labil. Sumber guguran material itu hanya berjarak lima kilometer dari titik perbatasan desa setempat. Selain gundul, kemiringan lahannya lebih dari 45 derajat. Alhasil, tiap hujan mengguyur deras, tanahnya ambles. ‘’Semakin deras hujannya, semakin banyak material hanyut terbawa,’’ ujarnya, Senin (22/11).

Didik sempat meninjau langsung muara bencana di kabupaten tetangga provinsi itu. Setelah mengamatinya dari dekat, dia pun menyimpulkan bahwa kondisinya sulit dicarikan solusi. ‘’Sabo dam juga sudah penuh. Dikeruk pun kalau sudah penuh lagi pasti akan tergelincir turun batunya,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Pacitan Panggil Kadinsos Soal Beras BPNT Tak Layak Konsumsi

Meski tak mengancam langsung permukiman, Didik meminta masyarakat berhati-hati. Utamanya saat hujan kembali mengguyur di seputaran Gunung Parangan. Antisipasi adanya guguran bebatuan yang sebagian teksturnya tajam tersebut. ‘’Saat penghujan kami minta lebih waspada,’’ imbaunya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru