alexametrics
23.2 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

8.395 Perempuan di Pacitan Jadi Kepala Keluarga

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Munculnya janda di Pacitan saban tahunnya selaras dengan jumlah kasus perempuan jadi kepala keluarga (PEKKA). Pada 2021 ini, sebanyak 8.395 perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Jumlah itu terus merangkak naik setiap tahunnya.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak BKBPP P2 Pacitan Kartika Indah Susana mengatakan, bertambahnya PEKKA tak hanya dikarenakan ditinggal suami meninggal dunia. Juga disebabkan perceraian. ‘’Delapan ribuan perempuan jadi tulang punggung keluarga itu baru input data di aplikasi saja. Itu juga unggahan dari desa. Di lapangan, kami tak tahu berapa pastinya,’’ ujarnya, Rabu (22/12).

Berjuang sendiri mencari penghidupan, mayoritas PEKKA berekonomi menengah ke bawah. Bahkan, pandemi Covid-19 belakangan membuat perekonomian mereka ikut terpuruk. ‘’Kami gencarkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Jari Bengkak, Cincin Pernikahan Ibu di Pacitan Ini Digerinda

Kartika memastikan tak ada PEKKA yang masih di bawah umur. Rata-rata usianya lebih dari 40 tahun. Meskipun dia tak bisa pastikan rinci janda belia itu. Merujuk kasus kawin dini yang belakangan muncul di Pacitan. ‘’Kalau dari data, kami pastikan tidak ada PEKKA yang di bawah umur. Data itu juga unggahan dari desa. Tapi, di lapangan kami tidak tahu pasti,’’ ujarnya.

Di momen Hari Ibu ini, Kartika berharap perempuan tetap tangguh. Sudi andil dalam berkarya dan bersuara di negara demokrasi ini. ‘’Ketua RT masih belum ada yang perempuan. Legislatif juga dibatasi jumlahnya. Kami berharap perempuan tidak berada di bawah laki-laki agar bisa setara,’’ ucapnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Munculnya janda di Pacitan saban tahunnya selaras dengan jumlah kasus perempuan jadi kepala keluarga (PEKKA). Pada 2021 ini, sebanyak 8.395 perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Jumlah itu terus merangkak naik setiap tahunnya.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak BKBPP P2 Pacitan Kartika Indah Susana mengatakan, bertambahnya PEKKA tak hanya dikarenakan ditinggal suami meninggal dunia. Juga disebabkan perceraian. ‘’Delapan ribuan perempuan jadi tulang punggung keluarga itu baru input data di aplikasi saja. Itu juga unggahan dari desa. Di lapangan, kami tak tahu berapa pastinya,’’ ujarnya, Rabu (22/12).

Berjuang sendiri mencari penghidupan, mayoritas PEKKA berekonomi menengah ke bawah. Bahkan, pandemi Covid-19 belakangan membuat perekonomian mereka ikut terpuruk. ‘’Kami gencarkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kajari Pacitan: Korupsi Tak Diampuni, Restorative Justice Khusus Perkara Ringan

Kartika memastikan tak ada PEKKA yang masih di bawah umur. Rata-rata usianya lebih dari 40 tahun. Meskipun dia tak bisa pastikan rinci janda belia itu. Merujuk kasus kawin dini yang belakangan muncul di Pacitan. ‘’Kalau dari data, kami pastikan tidak ada PEKKA yang di bawah umur. Data itu juga unggahan dari desa. Tapi, di lapangan kami tidak tahu pasti,’’ ujarnya.

Di momen Hari Ibu ini, Kartika berharap perempuan tetap tangguh. Sudi andil dalam berkarya dan bersuara di negara demokrasi ini. ‘’Ketua RT masih belum ada yang perempuan. Legislatif juga dibatasi jumlahnya. Kami berharap perempuan tidak berada di bawah laki-laki agar bisa setara,’’ ucapnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/