alexametrics
23.1 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Produsen Tahu Keluhkan Kenaikan Harga Kedelai

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Entah perasaan seperti apa yang berkecamuk di benak ibu-ibu ketika menggoreng tahu dan tempe di dapur. Selain minyak goreng susah dicari, harga dua jenis lauk dari olahan kedelai itu terancam meroket.

Sebulan terakhir, harga kedelai terus merangkak naik. Dari semula Rp 9.000 kini tembus Rp 11.400 per kilogram. Meski selisih baru terpaut dua ribu, dampaknya cukup terasa bagi produsen tahu di Arjosari. ‘’Ketika harga bahan baku naik begini, mau ikutan menaikkan harga jual tak berani,’’ kata Sudarto, produsen tahu di Arjosari, Rabu (23/2).

Meski dipusingkan dengan kenaikan harga kedelai, dia tetap memproduksi tahu setiap hari. Sampai kini juga tidak mengurangi volume produksi. Dia tidak ingin pelanggan setia kecewa. Namun, jika situasi tak berangsur membaik, keberlangsungan usahanya tentu dipertaruhkan. ‘’Kalau harga tahu saya naikkan, apakah masyarakat bawah sanggup membelinya?,’’ tanyanya balik.

Baca Juga :  Pastikan Tak Ada Penyekatan di Jalur Perbatasan Pacitan

Sudarto berharap pemerintah turut memperhatikan persoalan ini. Kedelai menjadi bahan baku utama pembuatan tahu-tempe yang menjadi konsumsi harian masyarakat. Harus ada langkah konkret untuk menstabilkan gejolak harga bahan baku ini. ‘’Saya pasrah dan yakin pemerintah punya solusi, bila perlu diadakan pertemuan dengan paguyuban pengusaha pabrik tahu,’’ harap pengusaha yang dibantu 15 pekerja itu.

Misni, produsen tempe di Tulakan, juga mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Saat ini dia memilih untuk mengurangi intensitas produksi. Semula berproduksi setiap hari, kini hanya empat hari dalam sepekan. ‘’Daripada tidak laku dan merugi, lebih baik dikurangi. Ongkos produksi itu mahal,’’ ungkapnya. (ti2/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Entah perasaan seperti apa yang berkecamuk di benak ibu-ibu ketika menggoreng tahu dan tempe di dapur. Selain minyak goreng susah dicari, harga dua jenis lauk dari olahan kedelai itu terancam meroket.

Sebulan terakhir, harga kedelai terus merangkak naik. Dari semula Rp 9.000 kini tembus Rp 11.400 per kilogram. Meski selisih baru terpaut dua ribu, dampaknya cukup terasa bagi produsen tahu di Arjosari. ‘’Ketika harga bahan baku naik begini, mau ikutan menaikkan harga jual tak berani,’’ kata Sudarto, produsen tahu di Arjosari, Rabu (23/2).

Meski dipusingkan dengan kenaikan harga kedelai, dia tetap memproduksi tahu setiap hari. Sampai kini juga tidak mengurangi volume produksi. Dia tidak ingin pelanggan setia kecewa. Namun, jika situasi tak berangsur membaik, keberlangsungan usahanya tentu dipertaruhkan. ‘’Kalau harga tahu saya naikkan, apakah masyarakat bawah sanggup membelinya?,’’ tanyanya balik.

Baca Juga :  Pastikan Tak Ada Penyekatan di Jalur Perbatasan Pacitan

Sudarto berharap pemerintah turut memperhatikan persoalan ini. Kedelai menjadi bahan baku utama pembuatan tahu-tempe yang menjadi konsumsi harian masyarakat. Harus ada langkah konkret untuk menstabilkan gejolak harga bahan baku ini. ‘’Saya pasrah dan yakin pemerintah punya solusi, bila perlu diadakan pertemuan dengan paguyuban pengusaha pabrik tahu,’’ harap pengusaha yang dibantu 15 pekerja itu.

Misni, produsen tempe di Tulakan, juga mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Saat ini dia memilih untuk mengurangi intensitas produksi. Semula berproduksi setiap hari, kini hanya empat hari dalam sepekan. ‘’Daripada tidak laku dan merugi, lebih baik dikurangi. Ongkos produksi itu mahal,’’ ungkapnya. (ti2/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/