alexametrics
26.3 C
Madiun
Monday, May 16, 2022

Pemkab Pacitan Maksimalkan Pengelolaan Tadah Hujan di Pegunungan

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kondisi perairan di Pacitan berbeda dengan daerah lain di Madiun Raya. Sumber daya airnya kerap berpotensi mengalami anomali. Maklum, kabupaten ini dikelilingi 70 kilometer garis pantai selatan. Sungai Grindulu juga memiliki panjang kurang lebih sama dengan jangkauan aliran hingga empat kecamatan.

Saat banjir bandang, limpahan air meruah hingga menggenangi daratan. Begitu kemarau, beberapa kawasan terdampak kekeringan memprihatinkan. Butuh terobosan khusus untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada demi mencukupi kebutuhan harian.

Sekretaris DPUPR Pacitan Yudo Tri Kuncoro getol mengampanyekan pemanfaatan air tadah hujan untuk menekan kerusakan sumber alam. Satu tampungan air hujan berukuran 180 meter kubik digadang mampu digunakan 85 jemaah masjid untuk wudu salat lima waktu dalam setahun. Cara itu dapat mengurangi penggunaan air tanah. ‘’Di Desa Kasihan, Tegalombo, dan Desa Petungsinarang, Bandar, kami jadikan pilot project ABSAH (akuifer buatan simpanan air hujan),’’ ujarnya, Rabu (23/3).

Baca Juga :  Ketua DPRD Pacitan Usul Besaran Insentif Guru PAUD-TK Layak Ditambah

Yudo menegaskan, pengelolaan air semestinya dilakukan dari hulu hingga hilir. Daerah pegunungan bertugas menampung air hujan semaksimal mungkin. Pun, di daerah tengah berkewajiban menggunakan air semaksimal mungkin. Agar banjir tak lagi meneror daerah di sisi hilir. ‘’Yang terjadi saat ini, kebanyakan air hujan justru berlomba-lomba dialirkan ke sungai. Saluran dilebarkan, diplester, dan sebagainya, sehingga serapan semakin susah,’’ ungkapnya.

Masalah lainnya, lanjut Yudo, merangseknya air laut ke Grindulu, Pacitan. Di Desa Tanjungsari, saat kemarau berkepanjangan, airnya berubah payau (air asin dan tawar tercampur). Selain mengganggu ekosistem, air payau tak bisa lagi digunakan mengaliri sawah.  Persoalan itu tengah dikaji DPUPR. ‘’Kalau payau sampai meresap ke sumur warga, belum kami temukan,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kondisi perairan di Pacitan berbeda dengan daerah lain di Madiun Raya. Sumber daya airnya kerap berpotensi mengalami anomali. Maklum, kabupaten ini dikelilingi 70 kilometer garis pantai selatan. Sungai Grindulu juga memiliki panjang kurang lebih sama dengan jangkauan aliran hingga empat kecamatan.

Saat banjir bandang, limpahan air meruah hingga menggenangi daratan. Begitu kemarau, beberapa kawasan terdampak kekeringan memprihatinkan. Butuh terobosan khusus untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada demi mencukupi kebutuhan harian.

Sekretaris DPUPR Pacitan Yudo Tri Kuncoro getol mengampanyekan pemanfaatan air tadah hujan untuk menekan kerusakan sumber alam. Satu tampungan air hujan berukuran 180 meter kubik digadang mampu digunakan 85 jemaah masjid untuk wudu salat lima waktu dalam setahun. Cara itu dapat mengurangi penggunaan air tanah. ‘’Di Desa Kasihan, Tegalombo, dan Desa Petungsinarang, Bandar, kami jadikan pilot project ABSAH (akuifer buatan simpanan air hujan),’’ ujarnya, Rabu (23/3).

Baca Juga :  21 Desa di Kabupaten Madiun Terdampak Banjir

Yudo menegaskan, pengelolaan air semestinya dilakukan dari hulu hingga hilir. Daerah pegunungan bertugas menampung air hujan semaksimal mungkin. Pun, di daerah tengah berkewajiban menggunakan air semaksimal mungkin. Agar banjir tak lagi meneror daerah di sisi hilir. ‘’Yang terjadi saat ini, kebanyakan air hujan justru berlomba-lomba dialirkan ke sungai. Saluran dilebarkan, diplester, dan sebagainya, sehingga serapan semakin susah,’’ ungkapnya.

Masalah lainnya, lanjut Yudo, merangseknya air laut ke Grindulu, Pacitan. Di Desa Tanjungsari, saat kemarau berkepanjangan, airnya berubah payau (air asin dan tawar tercampur). Selain mengganggu ekosistem, air payau tak bisa lagi digunakan mengaliri sawah.  Persoalan itu tengah dikaji DPUPR. ‘’Kalau payau sampai meresap ke sumur warga, belum kami temukan,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/