alexametrics
28.4 C
Madiun
Monday, June 27, 2022

Pemkab Pacitan Keteteran Urus 22 Jembatan di Aliran Sungai Grindulu

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Keberadaan Sungai Grindulu membawa rangkaian dinamika bagi pemerintah dan warganya. Membentang dari ujung utara hingga selatan, dibutuhkan 22 jembatan untuk membuat berbagai wilayah di kabupaten ini saling terhubung. ‘’Hampir setiap tahun selalu ada yang mengalami kerusakan akibat derasnya arus Grindulu,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Suparlan, Kamis (23/6).

Sungai Grindulu membentang sepanjang 60 kilometer. Lebar rata-ratanya sekitar 20 meter. Lantaran geografis Pacitan berbukit, permukiman warganya cenderung bergerombol. Setiap titik permukiman dan pusat ekonomi warga terpisah perbukitan. Sehingga, satu-satunya akses yang memungkinkan berbagai wilayah tersebut dapat saling terhubung adalah dengan melalui Grindulu. ‘’Karena itu, ada banyak jembatan di sepanjang Grindulu,’’ jelasnya.

Sayangnya, aliran Grindulu tak selamanya tenang. Di setiap musim penghujan, aliran sungai menjadi lebih deras. Tak jarang bebatuan ikut terbawa derasnya air. Dampaknya, puluhan jembatan di sepanjang sungai tersebut rusak silih berganti. ‘’Bagaimanapun, setiap ada kerusakan tetap kami usahakan untuk diperbaiki. Karena jembatan menjadi satu-satunya akses bagi warga,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Tawarkan Keindahan Bekas Pembakaran Batu di Wisata Desa Sedeng

Sayangnya, anggaran pemkab terbatas. Anggaran pemeliharaan jembatan tahun ini bahkan susut menjadi Rp 155 juta. Sementara tahun lalu Rp 175 juta.

Biaya membangun jembatan baru jauh lebih besar. Lantaran anggaran daerah cupet, pengerjaan sejumlah jembatan bahkan tak rampung bertahun-tahun. Contohnya jembatan di Desa Gegeran dan Desa Gunungsari (keduanya di Kecamatan Arjosari). ‘’Kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Gegeran sampai Rp 10 miliar. Di Gunungsari lebih banyak lagi,’’ ungkap Suparlan sembari menyebut pihaknya sudah mengusulkan anggaran untuk melanjutkan pembangunan kedua jembatan itu. (gen/c1/naz)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Keberadaan Sungai Grindulu membawa rangkaian dinamika bagi pemerintah dan warganya. Membentang dari ujung utara hingga selatan, dibutuhkan 22 jembatan untuk membuat berbagai wilayah di kabupaten ini saling terhubung. ‘’Hampir setiap tahun selalu ada yang mengalami kerusakan akibat derasnya arus Grindulu,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Suparlan, Kamis (23/6).

Sungai Grindulu membentang sepanjang 60 kilometer. Lebar rata-ratanya sekitar 20 meter. Lantaran geografis Pacitan berbukit, permukiman warganya cenderung bergerombol. Setiap titik permukiman dan pusat ekonomi warga terpisah perbukitan. Sehingga, satu-satunya akses yang memungkinkan berbagai wilayah tersebut dapat saling terhubung adalah dengan melalui Grindulu. ‘’Karena itu, ada banyak jembatan di sepanjang Grindulu,’’ jelasnya.

Sayangnya, aliran Grindulu tak selamanya tenang. Di setiap musim penghujan, aliran sungai menjadi lebih deras. Tak jarang bebatuan ikut terbawa derasnya air. Dampaknya, puluhan jembatan di sepanjang sungai tersebut rusak silih berganti. ‘’Bagaimanapun, setiap ada kerusakan tetap kami usahakan untuk diperbaiki. Karena jembatan menjadi satu-satunya akses bagi warga,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dana Transfer ke Pemkab Pacitan Dikepras

Sayangnya, anggaran pemkab terbatas. Anggaran pemeliharaan jembatan tahun ini bahkan susut menjadi Rp 155 juta. Sementara tahun lalu Rp 175 juta.

Biaya membangun jembatan baru jauh lebih besar. Lantaran anggaran daerah cupet, pengerjaan sejumlah jembatan bahkan tak rampung bertahun-tahun. Contohnya jembatan di Desa Gegeran dan Desa Gunungsari (keduanya di Kecamatan Arjosari). ‘’Kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Gegeran sampai Rp 10 miliar. Di Gunungsari lebih banyak lagi,’’ ungkap Suparlan sembari menyebut pihaknya sudah mengusulkan anggaran untuk melanjutkan pembangunan kedua jembatan itu. (gen/c1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/