alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Kisah Kiki Sukses Rintis Kedai Kopi

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kelumpuhan itu tak dialami Kiki, sapaan Mohammad Riskyka Syawalasana, sejak lahir. Keterbatasan fisik itu bermula saat dirinya terlibat kecelakaan sepeda motor di usia tujuh tahun. Sejak sekolah dasar itulah, Kiki akhirnya harus dibantu kursi roda.

Waktu terus berjalan dan Kiki mulai tumbuh dewasa. Meski mengalami keterbatasan fisik, dia pantang berpangku tangan. Kerap nongkrong di coffee shop menginspirasinya untuk merintis Kedai Ruang Dopamin di pusat Kota Pacitan. ‘’Kami punya hak dan kesempatan sama,’’ ujarnya, Senin (24/1/2022).

Kedai Ruang Dopamin itu berada di seputaran kota. Dalam bekerja setiap harinya, Kiki tak pernah terlihat canggung. Dia pandai meracik kopi layaknya barista profesional. Mulai memilih jenis biji kopi hingga menggiling dan menyeduhnya dengan air panas. Setiap pergantian sif karyawan, Kiki selalu menyempatkan untuk melayani pelanggannya. ‘’Tidak perlu minder,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Ekonomi Pasar Minulyo Rebound, Dagangan Habis Duit Terkumpul

Setelah lulus kuliah, Kiki belajar meracik kopi dari teman-temanya di Surabaya. Setelah paham betul karakter kopi dari beberapa daerah, dia memutuskan merintis kedapi kopi sendiri. Dibantu tiga karyawan, omzet yang didapatkan tembus puluhan juta. ‘’Rata-rata berkisar 15-20 juta sebulan,’’ ungkapnya.

Kiki paham betul dengan konsep bisnis yang dirintisnya. Sejak awal, dia tak sekadar membangun tempat ngopi. Melainkan dapat mewadahi siapa pun yang ingin mencari inspirasi sembari meneguk secangkir kopi. ‘’Kedai ini menjadi tempat menampung kebahagiaan pelanggan,’’ tuturnya.

Berlianti Rahayuningtias sering nongkrong di kedai kopi ini. Pelanggan setia itu kerap mengajak teman-temannya menikmati aneka sajian yang dihidangkan. ‘’Kopinya enak, owner-nya inspiratif,’’ ucapnya. (ti2/fin/c1/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kelumpuhan itu tak dialami Kiki, sapaan Mohammad Riskyka Syawalasana, sejak lahir. Keterbatasan fisik itu bermula saat dirinya terlibat kecelakaan sepeda motor di usia tujuh tahun. Sejak sekolah dasar itulah, Kiki akhirnya harus dibantu kursi roda.

Waktu terus berjalan dan Kiki mulai tumbuh dewasa. Meski mengalami keterbatasan fisik, dia pantang berpangku tangan. Kerap nongkrong di coffee shop menginspirasinya untuk merintis Kedai Ruang Dopamin di pusat Kota Pacitan. ‘’Kami punya hak dan kesempatan sama,’’ ujarnya, Senin (24/1/2022).

Kedai Ruang Dopamin itu berada di seputaran kota. Dalam bekerja setiap harinya, Kiki tak pernah terlihat canggung. Dia pandai meracik kopi layaknya barista profesional. Mulai memilih jenis biji kopi hingga menggiling dan menyeduhnya dengan air panas. Setiap pergantian sif karyawan, Kiki selalu menyempatkan untuk melayani pelanggannya. ‘’Tidak perlu minder,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Cerita Guru Honorer di Pacitan Diangkat PPPK, ”Pengabdian Saya Tidak Sia-Sia”

Setelah lulus kuliah, Kiki belajar meracik kopi dari teman-temanya di Surabaya. Setelah paham betul karakter kopi dari beberapa daerah, dia memutuskan merintis kedapi kopi sendiri. Dibantu tiga karyawan, omzet yang didapatkan tembus puluhan juta. ‘’Rata-rata berkisar 15-20 juta sebulan,’’ ungkapnya.

Kiki paham betul dengan konsep bisnis yang dirintisnya. Sejak awal, dia tak sekadar membangun tempat ngopi. Melainkan dapat mewadahi siapa pun yang ingin mencari inspirasi sembari meneguk secangkir kopi. ‘’Kedai ini menjadi tempat menampung kebahagiaan pelanggan,’’ tuturnya.

Berlianti Rahayuningtias sering nongkrong di kedai kopi ini. Pelanggan setia itu kerap mengajak teman-temannya menikmati aneka sajian yang dihidangkan. ‘’Kopinya enak, owner-nya inspiratif,’’ ucapnya. (ti2/fin/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/