23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Imbas Ratusan Anak Nikah Dini, Dindik Validasi Angka Putus Sekolah

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus ratusan muda-mudi Pacitan melepas lajang saat masih berstatus pelajar mendapat perhatian luas. Bahkan, dinas pendidikan (dindik) langsung merespons sodoran catatan dispensasi nikah dari Pengadilan Agama (PA) Pacitan itu dengan melakukan pendataan di lapangan.

Kadindik Pacitan Budiyanto mengatakan, saat ini bidang pembinaan SD dan SMP serta pemerintah desa (pemdes) melakukan proses pendataan ke sekolah. Tidak hanya sekadar didata, Budi juga meminta anak buahnya menguak alasan pelajar itu putus sekolah.

‘’Kami masih inventaris lagi berapa jumlah siswa putus sekolah. Karena data sementara ada yang namanya dobel. Bukan hanya dua tapi lima. Tentu ini akan dikroscek kembali,’’ katanya kemarin (23/1).

Karena pendataan masih berproses, pihaknya menyatakan belum bisa merilis berapa angka putus sekolah di Pacitan. Meski demikian, Budi mengatakan yang perlu menjadi perhatian adalah peranan orang tua. ‘’Masalah pendidikan begitu kompleks. Di dalamnya ada peran orang tua untuk mensukseskan pendidikan anak,’’ ujar mantan Inspektur Inspektorat itu.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di Pacitan adalah 7,61 tahun. Hal ini berarti penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,61 tahun atau minimal lulus kelas VII SMP.

Baca Juga :  Eksekusi Pasar Tulakan Digelar Pasca Lebaran

Sementara, Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7–12 tahun sebesar 99,51 persen. Dengan demikian, berarti bahwa 99,51 persen anak usia rentang usia tersebut masih atau sedang bersekolah.

Sedangkan, dilihat dari tingkat pendidikan tertinggi yang berhasil ditamatkan, 14,71 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Pacitan tidak memiliki ijazah. Persentase terbanyak ada pada penduduk yang memiliki pendidikan tertinggi tamatan SD sederajat mencapai 38,5 persen.

Budi menilai data dari BPS itu tak bisa dijadikan acuan konkret untuk mengetahui berapa persis jumlah angka putus sekolah di Pacitan. Sebab, pendataan rata-rata lama sekolah tersebut mencakup global.

‘’Rata-rata lama sekolah itu korelasinya dengan (jumlah) penduduk. Jadi, yang kakek-nenek juga masih ikut terdata. Karena itu angka rata-rata lama sekolah Pacitan termasuk rendah,’’ terangnya.

Yang jelas, saat ini pihaknya tengah mengkaji temuan ratusan kasus dispensasi nikah yang diajukan oleh anak usia sekolah tersebut. Selain itu, Budi mengatakan deteksi dini masalah di dunia pendidikan pun tengah disiapkan.

Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKB PPPA) terkait proses pendampingannya. ‘’Tapi, paling utama adalah peran orang tua mereka. Kalau orang tuanya cuek terhadap pendidikan anak tentu tambah sulit,’’ kata Budi. (gen/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus ratusan muda-mudi Pacitan melepas lajang saat masih berstatus pelajar mendapat perhatian luas. Bahkan, dinas pendidikan (dindik) langsung merespons sodoran catatan dispensasi nikah dari Pengadilan Agama (PA) Pacitan itu dengan melakukan pendataan di lapangan.

Kadindik Pacitan Budiyanto mengatakan, saat ini bidang pembinaan SD dan SMP serta pemerintah desa (pemdes) melakukan proses pendataan ke sekolah. Tidak hanya sekadar didata, Budi juga meminta anak buahnya menguak alasan pelajar itu putus sekolah.

‘’Kami masih inventaris lagi berapa jumlah siswa putus sekolah. Karena data sementara ada yang namanya dobel. Bukan hanya dua tapi lima. Tentu ini akan dikroscek kembali,’’ katanya kemarin (23/1).

Karena pendataan masih berproses, pihaknya menyatakan belum bisa merilis berapa angka putus sekolah di Pacitan. Meski demikian, Budi mengatakan yang perlu menjadi perhatian adalah peranan orang tua. ‘’Masalah pendidikan begitu kompleks. Di dalamnya ada peran orang tua untuk mensukseskan pendidikan anak,’’ ujar mantan Inspektur Inspektorat itu.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di Pacitan adalah 7,61 tahun. Hal ini berarti penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,61 tahun atau minimal lulus kelas VII SMP.

Baca Juga :  Terdakwa Pembunuhan di Patok Kowang Divonis 14 Tahun Penjara

Sementara, Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7–12 tahun sebesar 99,51 persen. Dengan demikian, berarti bahwa 99,51 persen anak usia rentang usia tersebut masih atau sedang bersekolah.

Sedangkan, dilihat dari tingkat pendidikan tertinggi yang berhasil ditamatkan, 14,71 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Pacitan tidak memiliki ijazah. Persentase terbanyak ada pada penduduk yang memiliki pendidikan tertinggi tamatan SD sederajat mencapai 38,5 persen.

Budi menilai data dari BPS itu tak bisa dijadikan acuan konkret untuk mengetahui berapa persis jumlah angka putus sekolah di Pacitan. Sebab, pendataan rata-rata lama sekolah tersebut mencakup global.

‘’Rata-rata lama sekolah itu korelasinya dengan (jumlah) penduduk. Jadi, yang kakek-nenek juga masih ikut terdata. Karena itu angka rata-rata lama sekolah Pacitan termasuk rendah,’’ terangnya.

Yang jelas, saat ini pihaknya tengah mengkaji temuan ratusan kasus dispensasi nikah yang diajukan oleh anak usia sekolah tersebut. Selain itu, Budi mengatakan deteksi dini masalah di dunia pendidikan pun tengah disiapkan.

Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKB PPPA) terkait proses pendampingannya. ‘’Tapi, paling utama adalah peran orang tua mereka. Kalau orang tuanya cuek terhadap pendidikan anak tentu tambah sulit,’’ kata Budi. (gen/her)

Most Read

Artikel Terbaru