27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Terasa Pedih Bertanam Cengkih, Pertanian Sentra Unggulan Butuh Perhatian

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ribuan cengkih milik petani Desa Karangmulyo, Sudimoro, memutih. Bukan karena berbunga, melainkan mati. Kondisi itu membuat petani gigit jari lantaran tak bisa dipanen.

Purwanto, seorang petani cengkih, menuturkan bahwa matinya tanaman unggulan di desanya itu telah melanda sejak beberapa tahun terakhir. Merata layaknya virus, satu per satu tanaman warga memutih dan mati. Berawal dari ujung daun, lalu merembet ke akar.

Biasanya cengkih yang terjangkit bakal mati dalam satu bulan. Situasi ini cukup membuat petaninya merasa pedih. ‘’Matinya nggak bareng, tapi satu per satu. Biasanya kalau sudah mulai putih itu, sudah kami potong langsung batangnya,’’ jelas Purwanto.

Pemilik ratusan pohon cengkih itu tak mengetahui pasti musabab tanamannya mati. Entah terjangkit virus jenis tertentu atau tertular satu dan lainnya. Terlebih hingga kini minim perhatian dari dinas pertanian dan ketahanan pangan (DPKP) menyikapi dampak mati massal tanaman tersebut. ‘’Kerugian sudah nggak bisa dihitung lagi, karena cengkih itu andalan desa kami,’’ paparnya.

Baca Juga :  Pemkab Dampingi Pedagang Pasar Tulakan ke Kanwil BPN

Suwarlan, kepala Desa Karangmulyo, mengungkapkan bahwa julukan sentra penghasil cengkih di Pacitan kini tak bisa lagi disandang desanya. Maklum, dari ribuan tanaman yang tersebar di lahan perbukitan warga, kini jumlahnya tak sampai 10 persen. ‘’Mayoritas sudah mati cengkihnya, ditebang untuk kayu bakar atau arang,’’ beber Suwarlan.

Suwarlan menyebutkan, cengkih sempat menjadi komoditi andalan masyarakat di desanya. Tak hanya membuat asap dapur tetap mengebul, hasil tanaman tersebut juga mampu mencukupi kebutuhan biaya sekolah hingga membangun rumah. Meski panennya hanya satu hingga dua kali setahun, harganya cukup menggiurkan. ‘’Dulu ekonomi masyarakat cukup karena cengkih, sekarang banyak yang mati jadi sulit,’’ urainya.

Beragam cara telah dilakukan pemdes setempat untuk membangkitkan kembali kejayaan cengkih di desa ini. Mulai berkoodinasi dengan pemkab hingga menganggarkan untuk pengadaan ribuan bibit tanaman. Warga desa ini tetap berharap suatu saat cengkih kembali tumbuh subur. ‘’Pantauan kami, beberapa bibit ada yang berhasil hidup,’’ tuturnya. (gen/c1/fin)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ribuan cengkih milik petani Desa Karangmulyo, Sudimoro, memutih. Bukan karena berbunga, melainkan mati. Kondisi itu membuat petani gigit jari lantaran tak bisa dipanen.

Purwanto, seorang petani cengkih, menuturkan bahwa matinya tanaman unggulan di desanya itu telah melanda sejak beberapa tahun terakhir. Merata layaknya virus, satu per satu tanaman warga memutih dan mati. Berawal dari ujung daun, lalu merembet ke akar.

Biasanya cengkih yang terjangkit bakal mati dalam satu bulan. Situasi ini cukup membuat petaninya merasa pedih. ‘’Matinya nggak bareng, tapi satu per satu. Biasanya kalau sudah mulai putih itu, sudah kami potong langsung batangnya,’’ jelas Purwanto.

Pemilik ratusan pohon cengkih itu tak mengetahui pasti musabab tanamannya mati. Entah terjangkit virus jenis tertentu atau tertular satu dan lainnya. Terlebih hingga kini minim perhatian dari dinas pertanian dan ketahanan pangan (DPKP) menyikapi dampak mati massal tanaman tersebut. ‘’Kerugian sudah nggak bisa dihitung lagi, karena cengkih itu andalan desa kami,’’ paparnya.

Baca Juga :  Rumini, Satu dari Tiga Perempuan Perajin Gerabah Seni

Suwarlan, kepala Desa Karangmulyo, mengungkapkan bahwa julukan sentra penghasil cengkih di Pacitan kini tak bisa lagi disandang desanya. Maklum, dari ribuan tanaman yang tersebar di lahan perbukitan warga, kini jumlahnya tak sampai 10 persen. ‘’Mayoritas sudah mati cengkihnya, ditebang untuk kayu bakar atau arang,’’ beber Suwarlan.

Suwarlan menyebutkan, cengkih sempat menjadi komoditi andalan masyarakat di desanya. Tak hanya membuat asap dapur tetap mengebul, hasil tanaman tersebut juga mampu mencukupi kebutuhan biaya sekolah hingga membangun rumah. Meski panennya hanya satu hingga dua kali setahun, harganya cukup menggiurkan. ‘’Dulu ekonomi masyarakat cukup karena cengkih, sekarang banyak yang mati jadi sulit,’’ urainya.

Beragam cara telah dilakukan pemdes setempat untuk membangkitkan kembali kejayaan cengkih di desa ini. Mulai berkoodinasi dengan pemkab hingga menganggarkan untuk pengadaan ribuan bibit tanaman. Warga desa ini tetap berharap suatu saat cengkih kembali tumbuh subur. ‘’Pantauan kami, beberapa bibit ada yang berhasil hidup,’’ tuturnya. (gen/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/