alexametrics
31 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Dera Kekeringan, Hilang Nalar Kais Air Kotor

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Dera kekeringan membuat nalar berpikir belasan kepala keluarga (KK) di RT 05, RW 07, Dusun Ngasem, Gembong, Arjosari, Pacitan, hilang. Mereka nekat mengonsumsi air tak layak minum dari tiga belik dekat sungai kampung itu. ‘’Sekitar 12 KK yang memanfaatkannya,’’ kata Marjuni, 62, warga setempat, Selasa (24/9).

Lokasi tiga belik itu sejauh 1,5 kilometer dari permukiman. Meski sungai sudah mengering, tiga belik itu masih mengeluarkan air. Hingga warga Ngasem mengaisnya untuk keperluan sehari-hari. Belik dengan air kotor dan banyak dedaunan digunakan untuk mandi. Sedangkan dua belik yang airnya keruh dimanfaatkan untuk masak dan minum. ‘’Kami tidak punya pilihan lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Susah Payah Warga Klepu Naik-Turun Cari Air di Gua Kali Luweng

Marjuni tahu ihwal pola hidup bersih. Menyadari konsekuensi kulit gatal atau penyakit lain dampak memanfaatkan air kotor. ‘’Satu-satunya sumber air yang bisa dijangkau hanya belik ini,’’ sebutnya.

Siti Sukamti, 33, warga lainnya, menyebut bahwa kampungnya belum pernah menerima dropping air bersih dari pemkab. Kondisi geografis berupa perbukitan tidak memungkinkan dilalui tangki. ‘’Air bantuan biasa dari toren yang diangkut mobil bak terbuka,’’ katanya. (den/c1/cor)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Dera kekeringan membuat nalar berpikir belasan kepala keluarga (KK) di RT 05, RW 07, Dusun Ngasem, Gembong, Arjosari, Pacitan, hilang. Mereka nekat mengonsumsi air tak layak minum dari tiga belik dekat sungai kampung itu. ‘’Sekitar 12 KK yang memanfaatkannya,’’ kata Marjuni, 62, warga setempat, Selasa (24/9).

Lokasi tiga belik itu sejauh 1,5 kilometer dari permukiman. Meski sungai sudah mengering, tiga belik itu masih mengeluarkan air. Hingga warga Ngasem mengaisnya untuk keperluan sehari-hari. Belik dengan air kotor dan banyak dedaunan digunakan untuk mandi. Sedangkan dua belik yang airnya keruh dimanfaatkan untuk masak dan minum. ‘’Kami tidak punya pilihan lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Relaksasi Ekonomi PKL Ahmad Yani Pacitan

Marjuni tahu ihwal pola hidup bersih. Menyadari konsekuensi kulit gatal atau penyakit lain dampak memanfaatkan air kotor. ‘’Satu-satunya sumber air yang bisa dijangkau hanya belik ini,’’ sebutnya.

Siti Sukamti, 33, warga lainnya, menyebut bahwa kampungnya belum pernah menerima dropping air bersih dari pemkab. Kondisi geografis berupa perbukitan tidak memungkinkan dilalui tangki. ‘’Air bantuan biasa dari toren yang diangkut mobil bak terbuka,’’ katanya. (den/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/