alexametrics
23.7 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

PT GLI Klaim Terowongannya Tak Mengganggu Lahan Warga

‘’Kalau PT GLI salah, sudah dipecat, sudah ditahan, sudah dicabut izinnya.’’ Badrul Amali, Legal Officer PT GLI

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Kasus kerusakan lahan warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, terdampak aktivitas penambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) bakal berlarut-larut. Pihak perusahaan pertambangan tersebut terkesan menyepelekan masalah.

Terutama dalam menyikapi permintaan warga untuk mengeluarkan lahannya dari konsesi wilayah pertambangan. Khususnya Miswadi. Alasannya, PT GLI tidak membeli lahan warga. Pun tidak mengganggu tanah mereka. ‘’Kami hanya membuat terowongan di bawahnya,’’ kata Legal Officer PT GLI Badrul Amali Jumat (25/10).

Dia mengklaim pembuatan terowongan penambangan tidak sembarangan. Namun, mengikuti aturan yang berlaku. Pun Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pacitan belum memiliki aturannya. Hak milik atas tanah itu hingga kedalaman berapa meter. ‘’Apakah 10 meter atau 15 meter, belum diatur,’’ ujarnya.

Badrul memastikan keinginan warga Desa Cokrokembang mengurus perizinan tambang sendiri di lokasi konsesi wilayah pertambangan PT GLI tidak bakal terjadi. Menurut dia, izin wilayah pertambangan tidak mungkin timbul dua kali.

Sebab, sebelumnya izin wilayah pertambangan sudah diberikan ke perusahaan atau pihak lain. Jika diminta melepas wilayah pertambangan tersebut, Badrul hanya geleng kepala. ‘’Untuk melepas dasarnya apa? Wong kami tidak mengganggu tanah dia,’’ kilahnya.

Baca Juga :  Santuni Warga Isolasi Mandiri, Polisi Beri Sembako PKL

Badrul menambahkan, PT GLI sudah memberi royalti dan bagi hasil pajak ke pemerintah daerah. Pun tidak pernah terlambat. Sehingga, pihaknya bukan pencuri seperti yang ditudingkan warga. Sebaliknya, jika mencuri, pihaknya pasti berurusan dengan kepolisian. ‘’Terbuka kok tambangnya. Tidak colong-colongan,’’ kelitnya.

Menurut dia, penahanan warga Desa Cokrokembang sebelumnya akibat kegiatan penambangan ilegal. Pun tidak sesuai prosedur perizinan. Berbeda dengan PT GLI. Perusahaan tersebut memenuhi semua persyaratan izin wilayah pertambangan, izin usaha produksi (IUP), dan lainnya. ‘’Kalau PT GLI salah, sudah dipecat, sudah ditahan, sudah dicabut izinnya,’’ lantangnya.

Sebelumnya, dalam rapat negosiasi masalah ini, pihak PT GLI dan warga Cokrokembang sama-sama ngotot mempertahankan argumentasi. Warga sempat minta tanahnya dikeluarkan dari koordinat konsesi PT GLI. Mereka berencana mengolah sendiri tanahnya. Pasalnya, selain terdapat kandungan tembaga, diperkirakan juga ada kandungan emas. (odi/c1/sat)

‘’Kalau PT GLI salah, sudah dipecat, sudah ditahan, sudah dicabut izinnya.’’ Badrul Amali, Legal Officer PT GLI

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Kasus kerusakan lahan warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, terdampak aktivitas penambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) bakal berlarut-larut. Pihak perusahaan pertambangan tersebut terkesan menyepelekan masalah.

Terutama dalam menyikapi permintaan warga untuk mengeluarkan lahannya dari konsesi wilayah pertambangan. Khususnya Miswadi. Alasannya, PT GLI tidak membeli lahan warga. Pun tidak mengganggu tanah mereka. ‘’Kami hanya membuat terowongan di bawahnya,’’ kata Legal Officer PT GLI Badrul Amali Jumat (25/10).

Dia mengklaim pembuatan terowongan penambangan tidak sembarangan. Namun, mengikuti aturan yang berlaku. Pun Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pacitan belum memiliki aturannya. Hak milik atas tanah itu hingga kedalaman berapa meter. ‘’Apakah 10 meter atau 15 meter, belum diatur,’’ ujarnya.

Badrul memastikan keinginan warga Desa Cokrokembang mengurus perizinan tambang sendiri di lokasi konsesi wilayah pertambangan PT GLI tidak bakal terjadi. Menurut dia, izin wilayah pertambangan tidak mungkin timbul dua kali.

Sebab, sebelumnya izin wilayah pertambangan sudah diberikan ke perusahaan atau pihak lain. Jika diminta melepas wilayah pertambangan tersebut, Badrul hanya geleng kepala. ‘’Untuk melepas dasarnya apa? Wong kami tidak mengganggu tanah dia,’’ kilahnya.

Baca Juga :  Hutan Jati dan Sengon Arjosari Membara

Badrul menambahkan, PT GLI sudah memberi royalti dan bagi hasil pajak ke pemerintah daerah. Pun tidak pernah terlambat. Sehingga, pihaknya bukan pencuri seperti yang ditudingkan warga. Sebaliknya, jika mencuri, pihaknya pasti berurusan dengan kepolisian. ‘’Terbuka kok tambangnya. Tidak colong-colongan,’’ kelitnya.

Menurut dia, penahanan warga Desa Cokrokembang sebelumnya akibat kegiatan penambangan ilegal. Pun tidak sesuai prosedur perizinan. Berbeda dengan PT GLI. Perusahaan tersebut memenuhi semua persyaratan izin wilayah pertambangan, izin usaha produksi (IUP), dan lainnya. ‘’Kalau PT GLI salah, sudah dipecat, sudah ditahan, sudah dicabut izinnya,’’ lantangnya.

Sebelumnya, dalam rapat negosiasi masalah ini, pihak PT GLI dan warga Cokrokembang sama-sama ngotot mempertahankan argumentasi. Warga sempat minta tanahnya dikeluarkan dari koordinat konsesi PT GLI. Mereka berencana mengolah sendiri tanahnya. Pasalnya, selain terdapat kandungan tembaga, diperkirakan juga ada kandungan emas. (odi/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/